Ciel The Guide Of Destiny

Ciel The Guide Of Destiny
Bab 12 Saatnya mengakhiri ini



Suasana menjadi kacau dan menegangkan, sejak seorang manusia tiba-tiba berubah menjadi seekor serigala. Seluruh orang-orang berlarian ke sana kemari karena panik sedangkan laki-laki berpakaian pelayan itu pergi entah kemana ditengah kepanikan itu.


"Semuanya Studentenrat, ini adalah situasi di luar rencana,"


"Kawal para bangsawan ke tempat yang aman Pastikan tidak ada korban jiwa yang berjatuhan," ucap Ur-Atum dengan lantang memberikan perintah kepada semua anggotanya, dengan cepat sebagian anggota mengendalikan situasi dan sebagiannya membantu melawan serigala yang telah kehilangan akal sehat itu.


'Begitu mengerikan kah kekuatan para pengendali takdir hingga mereka bisa merubah sebuah kisah?'


'Aku harus bisa mengubahnya kembali ke bentuk semula,' ucap Ciel di dalam hatinya sambil menatap serigala yang besarnya dua kali lipat


Dipegangnya kunci pemilik takdir itu dan di ucapkanlah mantra sihir untuk membuka pintu perpustakaan besar yang pernah dia masuki itu.


Sebuah ruangan yang besar dan di penuhi oleh buku-buku terbuka, namun kali ini ruangan besar ini muncul sesosok perempuan bertudung di lantai dua dari perpustakaannya. Menatap Ciel dalam diam membuat dirinya penasaran dengan sosok yang ada di depannya.


"Sudah lama ya sejak kita bertemu terakhir,"


"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa berada di perpustakaan besar ini? Dan siapa aku? Atau masih ratusan pertanyaan yang kamu pikirkan di kepalamu yang melebihi dua pertanyaan yang aku katakan,"


"Aku tidak akan menjawab semuanya tapi aku ke sini hanya untuk mengatakan,"


"Jangan terlalu percaya kepada pihak kerajaan negeri Minunilor ini karena mereka hanya memanfaatkan orang yang bisa mengendalikan takdir seperti kita yang mereka yakini bisa merubah takdir setiap manusia hanya dengan melalui perpustakaan besar ini," ucap perempuan bertudung itu dengan aura yang begitu gelap kemudian perlahan-lahan menghilang.


Entah siapa dirinya, dan kenapa dia selalu memberi tau Ciel untuk tidak ikut campur dalam urusan yang dimilikinya dengan kerjaan. Akan tetapi jika dia terus berlarut-larut di dalam pikiran itu, mungkin orang-orang yang sedang berada di luar perpustakaan ini sedang bertarung mati-matian mempertaruhkan nyawa mereka masing-masing menunggu Ciel memperbaiki benang merah itu akan mati dengan terhormat namun sia-sia. Ciel dengan cepat berkeliling ke setiap sudut perpustakaan itu sampai akhirnya dia menemukan buku yang berbeda dengan buku-buku yang lain.


Pada saat dia ingin membuka buku itu dan memperbaikinya, tiba-tiba serigala itu muncul dan membuat lengannya terluka, tentu saja akan masih terasa sakit walaupun dia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri. Ciel memang tidak punya kemampuan bertarung tapi dia bisa menggunakan sihir, setiap sihir yang digunakan olehnya sayangnya tidak berfungsi sama sekali kepada monster serigala itu.


"Apakah anda ingin dianggap sebagai serigala untuk selamanya tuan? Jika anda ingin seperti itu terus, maka anda akan mati dengan dianggap sebagai monster," ucap Ciel dengan lantang dan tatapan tajam sambil berusaha meraih tongkatnya yang terlempar setelah serangan yang dilakukan oleh sang serigala. Namun semua yang dikatakan oleh Ciel hanya di jawab dengan suara lolongan dan Geraman serigala.


"Srak..." di serang kembali Ciel oleh serigala itu namun kali ini berhasil di hindari oleh Ciel


"Kette," ucap Ciel sambil mengarahkan tongkatnya ke arah serigala besar itu sampai tiba-tiba muncul sebuah rantai-rantai dari tempat serigala itu berpijak. Rantai-rantai itu melilit dan tidak membiarkan serigala itu lepas sedikitpun, semakin banyak gerak serigala itu semakin terjerat ke dalam rantai itu. Secepat Ciel memanfaatkan situasi itu, yaitu dengan mengambil buku yang telah ternodai oleh kegelapan.


"Saatnya mengakhiri ini,"


"Fegefeuer," Seketika benang-benang yang menyekat di roda-roda buku itu kembali meluruskan benangnya. Tentu saja Ciel melihat masa lalu dari laki-laki yang telah berubah menjadi serigala besar itu.


Sebuah ruangan yang besarnya mirip dengan ruangan Studentenrat itu namun dengan sesosok laki-laki muda dengan seorang laki-laki yang cukup tua berada di depannya. Seperti seorang ayah dan anak.


"Kamu ingin mengambil posisi kepala keluarga? Jangan banyak berkhayal jika kamu tidak bisa menunjukkan kemampuanmu sebagai seorang pewaris dan bahwa kamu adalah putraku yang hebat,"


"KENAPA ORANG SEPERTI DIRIMU DILAHIRKAN DI DUNIA INI? KAMU BAHKAN TIDAK BISA BERBUAT BENAR SEDIKITPUN,"


'Aku sudah berusaha...'


'Kenapa semuanya tidak bisa melihat usahaku?'


'Kenapa ketika adikku gagal dia tidak di anggap sampah?'


'Sedangkan aku dianggap sebagai sampah,'


"Mau aku berikan kekuatan untuk membuat dirimu tidak di remehkan dan layak berada di posisi pewaris itu?"


"Ambil liontin ini dan kamu bisa membalaskan semuanya,"


Tiba-tiba sebuah suasana dan tempat itu berubah menjadi lorong-lorong gelap yang penuh dengan genangan darah. Terlihatlah seorang laki-laki dengan mata kebencian dan dendam kepada orang tuanya serta adiknya, berjalan menghampiri dengan membawa pedang diseret di ke ubin-ubin lantai.


"SRAK..."


"KAMI ADALAH ORANG TUAMU JADI SEHARUSNYA KAMU TIDAK MEMBUNUH ORANG TUAMU,"


"KAMI SAMPAI SAAT INI MERAWAT DAN MEMBESARKAN DIRIMU,"


"KAKAK, AMPUNI AKU,"


"JIKA KAKAK INGINKAN POSISI KEPALA KELUARGA MAKA DENGAN SENANG HATI AKAN AKU BERIKAN,"


Teriakan demi teriakan ketakutan dari ketiga orang itu di lorong itu. Hanya di jawab dengan suara pedang yang di seret melewati ubin-ubin lantai dan tatapan dingin, menampakkan kalau dia sudah muak dengan ketiga orang yang hanya melakukan kebohongan demi kehidupan. Di tebas dengan cepat oleh laki-laki muda itu kepala keluarganya tanpa perasaan bersalah ataupun penyesalan.


Perasaan kepuasaan dan kekejaman menguasai dirinya. Hingga saat ini sampai dia menjadi pewaris keluarga itu, begitu mengerikan. Namun begitulah orang-orang yang diperlakukan dengan kejam di masa kecil pada saat dewasa hanya akan menjadikan orang-orang itu untuk semakin ingin menghabisi orang yang dia benci.


Ketika itu terjadi hanya perasaan kepuasaan dan perasaan tidak bersalah menyelimuti dirinya. Masa lalu yang ditampilkan di depan Ciel menghilang begitu saja menyisakan Ciel dengan seekor serigala yang telah kembali ke wujudnya dan masih di rantai. Dengan jentikan jari Ciel melepaskan rantai itu dan keluar dari perpustakaan dengan tatapan lelah.


Kemudian bangsawan yang menyelenggarakan ditangkap dengan para bangsawan yang berpartisipasi dalam acara lelang tersebut. Semuanya terselesaikan begitu saja, namun yang membedakannya adalah Ur-Atum terlihat seperti orang yang bersalah sedangkan Carlisle seperti orang yang marah, akan tetapi tidak terlihat kemarahannya kepada siapa.


Banyak hal yang menjadi semakin misterius untuk dirinya dan juga rahasia yang disembunyikan. Tidak banyak yang bisa dia ketahui tentang masa lalu apa yang menimpa orang-orang yang tergabung dalam Studentenrat. Apakah itu adalah perasaan senasib ataupun karena mereka adalah orang-orang terpilih?


Ciel The Guide Of Destiny