
Semua anggota dewan dari berbagai akademi di minta oleh ketua mereka untuk menginap di asrama akademi Verbrechen karena para ketua dan wakil ketua akademi akan pergi untuk meminta keterangan dari orang yang telah menyebabkan kekacauan besar di akademi ini. Ketika mereka ingin keluar dari ibukota kerajaan mereka ternyata harus memiliki kartu identitas yang mirip dengan paspor.
Tentu saja ini membuat Ciel merasa dunia ini tidak ada bedanya dengan dunianya dulu berada begitu banyak hal yang mirip sampai merasakan sedikit rindu kepada kedua orang tuanya, walaupun begitu dia mengurungkan niatnya dari hati untuk terus mengingat masa lalu sebelum dia bisa bertemu atau mendapatkan informasi mengenai adik perempuannya. Mereka semua berkumpul di gerbang perbatasan antar kerajaan atau negara.
"Perjalanan kita kali ini cukup berbahaya, aku harap kalian semua selalu bersiap terutama Carlisle kamu harus berhati-hati loh," ucap El dengan seringaian dan tatapan serius karena El mengetahui kalau Wells selama ini mengikuti Carlisle bukan tanpa alasan, yah siapa yang percaya jika Wells yang mudah bersosialisasi bertahan dengan teman masa kecilnya yang cerewet karena hubungan lama. Ciel yang merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh El, dia memutuskan untuk selalu lengket dengan El sedangkan Carlisle yang tidak mengerti hanya mengangguk paham dengan tatapan kebingungan.
Tidak lama dari itu beberapa kereta kuda mereka sampai, alasan kenapa mereka tidak menggunakan teleportasi atau perjalanan seperti para pelancong karena mereka akan menjadi tamu dari kerajaan sebelah. Memang perjalanan mereka akan memakan waktu beberapa hari bahkan beberapa minggu tapi mereka mau tidak mau tetap melakukannya kalau tidak mereka akan dianggap sebagai seorang ******* oleh kerajaan tersebut.
Tidak banyak yang mereka bicarakan dalam perjalanan menuju ke kerajaan tetangga karena menurut mereka tidaklah menyenangkan membahas sesuatu yang bisa melupakan tujuan di saat mereka masih memiliki pekerjaan yang berat. Beberapa hari yang mereka habiskan begitu tidak berkesan dan menyenangkan, karena tidak ada satupun dari mereka yang melakukan hiburan atau membicarakan sesuatu yang menarik.
Pada saat mereka sampai di depan pintu gerbang perbatasan negara tetangga mereka, betapa menakjubkan pemandangan di depan mereka, dan membuat Ciel semakin merindukan tempat asalnya. Karena tempat itu di penuhi gedung-gedung bertingkat dan jalanan hiruk-pikuk seperti kota maju namun yang membedakannya kendaraan pribadi yang mereka naiki bisa terbang kemanapun dan bentuknya lebih simple dibanding mobil yang ada di dunia Ciel sebelumnya.
Di kerajaan ini teknologi dan sihir berkembang, banyak layar-layar tipis yang menggunakan sihir memudahkan pekerjaan. Di kerajaan ini juga banyak sekali inventors yang berasal dari berbagai negara ikut adil dalam perkembangan karena teknologi sihir adalah terdepan di kerajaan ini. Tidak heran jika orang sekelas Wells tinggal di negara ini itulah pikir para anggota dewan kesiswaan yang datang ke kerajaan itu.
El yang memandu Ciel dan yang lain ke daerah yang sepi dengan bangunan mewah yang tidak mirip dengan rumah-rumah atau mansion elit hingga membuat mereka curiga kalau El sedang menyesatkan mereka dan membuat mereka tidak bertemu dengan Wells, akan tetapi betapa terkejutnya mereka setelah menjauh dari gedung-gedung pencakar langit.
Sebuah pagar tinggi yang dililit dengan bunga mawar seolah-olah bangunan itu telah ditinggalkan. El malah dengan percaya diri membuka gerbang tinggi itu menggunakan sihirnya, terdengar suara pintu berdecit karena sudah lama tidak di buka atau sudah lama tidak tidak buka.
Sesosok laki-laki bermata sipit dan pakaian bergaya timur tersenyum tipis mengekspresikan kalau dia dengan ramah menyambut mereka semua yang datang.
"El, sudah lama tidak melihatmu,"
"Aku pikir kamu akan mati di tangan mereka semua karena kejadian terakhir kali," ucap laki-laki bermata sipit itu sambil menyeringai
"Kamu selalu saja mendoakan aku agar segera mati,"
"Kali ini aku dipaksa oleh mereka untuk membawa mereka ke sini kalau tidak aku akan mati konyol karena perjanjian yang aku buat," ucap El dengan senyuman kaku dan menyesal dia sadar perbuatannya bodoh tapi walaupun begitu dia tidak akan sanggup melawan orang-orang yang berjumlah dua puluh delapan orang dengan kemampuan yang setingkat dengan para guru di akademi sendirian. Oleh karena itu dia membawa ke kediaman milik Wells.
"Hah..."
"Kalau hanya kontrak sederhana seperti itu, biarkan aku yang membatalkannya untukmu," ucap laki-laki bermata sipit itu tanpa memfilter ucapannya sedikitpun di depan El, di saat itu juga dia mengeluarkan senjata yang mirip digunakan oleh para Tao di film-film yaitu hudtim.
Dengan satu gerakannya membuat seutas tali yang mengikat muncul, mengikat pergelangan tangan El, langsung di putusnya tali-tali yang mengikat lengan El namun tidak dengan mereka yang di ikat satu dengan El.
"Ah, terima kasih Xing,"
"Kalau begitu ini hanya kontrak sepihak, aku sudah juga menepati janjiku kepada kalian jadi, aku pergi dulu,"
"Jika kalian ingin benar-benar masuk cobalah sendiri dengan melawan laki-laki di depan kalian," ucap El dengan seringaian berjalan maju ke arah hadapan laki-laki yang membantunya sedangkan yang lain melihat ini merasa dikhianati oleh El yang memandu memasang muka masam dan kesal. Ciel dan Carlisle tidak bisa banyak berkomentar karena itu adalah pilihan Wells jika tidak ingin bertemu walaupun mereka berdua memerlukan kepastian dari penjelasan Wells.
El pergi meninggalkan laki-laki bermata sipit itu dengan orang-orang yang dipandu olehnya. El dikenal sebagai orang yang sangat setia kepada satu orang, apalagi kepada siapa dia akan tunduk. Menurutnya Wells adalah orang yang tepat untuk dirinya setia karena memiliki sifat yang lembut di dalam dan tegas di luar seperti orang yang pernah menjadi kepercayaannya. Tapi itu tentu membuat El yakin bahwa dirinya belum bisa melepaskan kepergian sahabat lamanya yang mengorbankan nyawanya karena tidak bersalah.
"Sepertinya pertarungannya telah di mulai,"
"Mereka benar-benar menjadi orang nekat sampai datang ke negara ini untuk menemui nona terutama laki-laki itu," ucap seorang pelayan yang menatap cermin yang menampakkan apa yang terjadi di luar bangunan itu. Dan sebenarnya juga Wells dan seluruh bawahannya tidak berada di lokasi itu.
"Kalian menyerah saja tidak ada gunanya datang ke sini untuk bertemu dengan nona,"
"Terutama laki-laki yang suka emosian dan satu-satunya teman nona,"
"Nona sangat tidak ingin melihat wajahmu yang paling di benci," ucap laki-laki bermata sipit itu dengan senyuman yang mengejek ke arah Carlisle sedangkan Carlisle masih tidak mengerti apa yang sebenarnya dikatakan oleh laki-laki bermata sipit. Walaupun begitu dia akan tetap berusaha masuk ke dalam rumah besar itu.
"Semuanya tetap waspada dan siaga,"
Ciel The Guide Of Destiny