Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
09



Hurip beserta Alia kebingungan memperoleh anak-anak itu tengah diberikan pelajaran layaknya tengah sekolah. Bahkan dari kejauhan Hurip tahu bila mereka menggunakan bahasa dan tulisan dunia ini, tidak ada yang mencurigakan, tapi ia berkesimpulan mereka menanamkan pemikiran buruk dunia ini.


Sewaktu Hurip mengulurkan tangan, lalu munculah tulisan-tulisan melayang serentak sesaat bola-bola kecil cahaya berdatangan mengitari pergelangan tangannya. Hendak waktu mulut Hurip akan terbuka Azka menghentikannya, dengan pukulan kepadanya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Lu gila mau membantai anak-anak kecil.." kata Azka menatapnya sinis nan tajam. Sementara Alia terlihat kebingungan kan memihak siapa diantara keduanya.


Hurip membatalkan sihirnya. Dia menarik Candrasa, pedang pusaka kakeknya, sekali ayunan mencipta hembusan angin kencang hingga mendorong tubuh lawannya. Azka tidak gentar dan ikut menghunuskan pedangnya, mereka pun saling menentang sejenak.


Ketika Azka berkedip Hurip terpelesat bagaikan kilat sebelum lawan bereaksi, dia tidak menemukan Hurip melainkan luka di bahunya. Kurang dalam satu detik Hurip sudah menggoreskan luka. Dia menelan ludah, tapi semasih belum berniat mundur.


"Setidaknya harus buat tentara sadar, mengamankan anak-anak itu terlebih dahulu.." ujarnya dalam hati.


Hurip menarik pedang, dalam penglihatan beberapa benang terlihat akan mencapainya. Sebelum benang itu mencapai dirinya, Hurip langsung menyingkir, dia memukul lawan hingga menghantam tanah. Lalu, dia menginjak kepala Azka tidak membiarkan bergerak.


Selama yang memegang Candrasa keturunan yang memiliki darah pengguna pedang pertama, maka pengguna akan mendapatkan berbagai kekuatan dan salah satunya, yaitu memprediksi gerakan maupun pola serangan lawan ketika menyerang pemakainya.


"Seharusnya kau tau, jikalau aku melebihi kekuatan yang kau miliki.." Hurip tersenyum tipis sebelum dia melanjutkan dan berbisik, "rekan pahlawan."


"Pahlawan apa yang ingin membunuh anak-anak tak berdosa? Mereka masih suci tidak seperti kau!" Kata Azka berteriak-teriak memanggil tentara-tentara itu.


"Celaka. Mereka sedang datang kemari," katanya Alia membuat Hurip berdecak kesal. Dia melepaskannya dari injakan kaki, lalu melemparnya hingga mencapai dekat kereta kuda yang ditumpangi oleh mereka.


Hurip menggendong Alia, Alia yang merona merah tidak memberontak dan mereka melesat cepat hingga mencapai kereta kuda. Ketiga remaja ini pun memasuki kendaraan mereka. Supir memacu kuda dengan segera, meskipun para tentara mengejarnya.


Dalam kereta Hurip menendang pintu, dia mengikat pinggangnya dan mengikatnya pada kereta, sebelum dia melompat keluar. Dia berdiri di atas kereta kuda sembari membawa busur serta anak panah, seketika Hurip kaget menjumpai kendaraan beroda empat itu.


"Apa itu? Jika aku nggak salah itu tank.." ujarnya Alia ikut melihat ke belakang.


"Bukan, tank memiliki pelontar peledak di depannya, itu mobil jip.." kata Azka memalingkan muka.


"Oh. Ternyata kau membaca buku yang kutulis di sekolah ya Azka," kata Hurip sembari ia menarik anak panahnya menargetkan pengendara mobil tersebut.


Dikarenakan kereta kuda ini bergetar membuatnya kesulitan membidik. Hurip menarik napas ketika ujung panahnya terbalut api. Dia melepaskan anak panah, tetapi tembakannya tidak ada gunanya, saat itu juga tentara langsung membalas berkali-kali lipat.


Mereka gencar membalas dengan tembakan peluru, buat Hurip menciptakan penghalang. Selagi Hurip menyibukkan diri, Alia bingung, mengapa Hurip tidak meledakan mereka sekali serang. Yang terpikir oleh Alia hanyalah Hurip ingin merebut mobil tersebut.


"Celaka!"


Kereta kuda mereka terjatuh disebabkan binatang yang menarik kereta tertembak. Hurip kini memotong tali yang mengikat dirinya dan menginjak tanah, semasa saat kedua belah pihak saling menatap, dalam hatinya Hurip saat ini menginginkan kendaraan mereka tampaknya agak sulit.


"Justru, aku ingin berkomunikasi dengan bawahanku sekarang.." batin laki-laki ini menghunuskan pedang.


Dia berlari sekencang mungkin, para tentara segera menembaki mereka. Meskipun dia tengah sandiwara pertempuran ini nyata. Sesudah mencapai hadapan lawan, dia mengayunkan senjata, menghindar semua tembakan peluru yang ditembakkan mereka.


Azka melompat ke belakang, dia berlindung diantara pepohonan sembari menghubungi mereka memakai alat komunikasi di telinga. Sembari melepaskan tembakan sihir cahaya. Keduanya adu tembak, pada akhirnya, dia hanya melukai mereka tanpa luka fatal.


Ketika Azka kembali ke tempat terbuka. Tanpa dia duga, ada peluru yang mengenai pahanya, buatnya terjatuh dan mau tak mau tentara harus menembak dirinya. Semasa lelaki ini akan menciptakan dinding tanah, Alia menggunakan sihirnya, membuat kedua kaki dan tangan mereka hancur.


"Azka. Bunuh mereka, ambil kesempatan di hadapan dirimu sekarang juga!" Teriak Hurip memerintah.


"Aku udah hancurin kaki dan tangan mereka, kamu nggak punya ampun banget.." Alia menghela napas.


"Anak-anak sudah dipindahkan," lirih tentara ini yang terluka. Sambil penuh gemetar Azka mengigit bibir sewaktu ia membunuh mereka semua satu per-satu.


Bilah pedangnya dipenuhi darah-darah mereka, kini dia dengan mata hampa beserta pipi dipenuhi darah kembali ke tempat kedua rekannya, rekan setimnya lebih tepatnya. Hurip mengambil pedang, kemudian mengibaskan senjata milik Azka ini menghilangkan semua darah yang menempel sebelum mengering.


Hurip mengecek keadaan mobil jip, selagi Alia yang memberikan kain kepada Azka sembari tersenyum lembut. Lelaki ini meneguk ludahnya dan menerima pemberiannya. Sekarang selagi membersihkan muka Azka mendengar lantunan mantra dari Hurip.


Begitu dia menaikan pandangan, menjumpai banyak awan hitam berkumpul atas tempat perkemahan sebelumnya. Kali ini dia tidak mencegah, melainkan melihat sihir Hurip, bagaikan pemilik petir dan langit dia menurunkan petir yang langsung menghancurkan area sekitar bahkan mungkin sepertiga hutan hancur.


"Aku mau menemui Hurip dulu.." ucap Alia berjalan menghampiri lelaki yang tengah merapalkan sihir.


"Tinggalkan perkemahan dan bawa anak-anak pergi ke tempat aman, jangan pergi ke lokasi yang rentan terhadap perubahan cuaca mendadak.." titah Azka seraya menekan tombol pada alat daun telinganya.


Banyak perkemahan tentara yang berlindung di hutan sebagai tempat tinggal sementara, dikarenakan dia telah memerintahkan mereka untuk mengajar anak-anak yang putus sekolah maupun yatim piatu. Tetapi Hurip yang salah paham membuat dirinya marah.


Mereka pun melanjutkan perjalanan, menggunankan mobil jip yang dikendarai oleh Azka. Sembari Hurip menulis buku hariannya. Pada perjalanan mendadak kendaraan mereka tiba-tiba berhenti. Begitu melihat bahwa bensin habis, Azka hanya diam tanpa berkata.


"Kenapa berhenti Za?" Tanya Hurip.


"Jangan sok akrab," ujarnya membalas menentang mata lawan bicaranya. Hurip tertawa kecil selama beberapa saat dan berkata, "huh energi kendaraan semacam ini ternyata boros juga."


"Elu pikir kuda juga bisa lari tanpa makan dan minum pahlawan goblok!" Bentak Azka depan orangnya.


"Kau ingin bertarung denganku lagi?" Tanya Hurip.


"Ok ayo gas keun lah, anjing! Tanpa menggunakan sihir atau pedang ajaib punya elu!" Bentak Azka turun dari mobil bersama Hurip. Mereka pun beradu pukul berkelahi layaknya adik kakak, pada pandangan Alia.


Alia menghela napas bermaksud melerai pertikaian antara keduanya, dia turun dari mobil dan hendak mendekati mereka, justru matanya terpaku pada hal lain. Alia pun tak mengindahkan pertikaian dua lelaki ini dan pergi mendekati apa yang matanya tuju.