Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
22



Pada pintu gua lekas Hurip menciptakan pelindung tebal melindungi dirinya dari tembakan pancaran cahaya panas. Robot menghadang Hurip melewati pintu gua, sehingga Hurip bersicepat menarik keluar balik Candrasa dan menunggu robot menyerangnya.


Lawan terdiam sejenak, ia sesegera mungkin masuk ke mode tempur dengan banyak pembatas terlepas dan mengeluarkan senapan mesin. Hurip justru diam tanpa gerakan. Mengenali bila robot ini lemah, dikarenakan adanya perbedaan, bahwa pikiran robot ini agak berbeda dengan robot-robot lainnya.


"Apa kau mengalami kerusakan?" Hurip melangkah menuju robot. Seketika itu gencar peluru dari senapan mesin menembaki dengan rentetan peluru.


Hurip membalik tangkai pedang Candrasa, memutar senjatanya serupa kincir angin menangkis semua peluru yang ada. Bahkan tidak ada satu pun peluru yang lolos. Putaran senjatanya saat ini sangat cepat sehingga menciptakan angin kencang, menerbangkan debu sekeliling tempatnya berpijak.


Usai hitungan menit berlalu, Hurip keheranan, jikalau senapan robot ini mengeluarkan asap yang amat banyak. Robot tidak menghentikan serangannya dan bersikukuh tetap menarik pelatuk. Sampai senapan melewati batas, meledak bersama setengah bagian tubuhnya, buat Hurip sedikit merasakan penyesalan.


"Apakah aku masih harus bersikap sombong? Apatah guna menunjukan ekspresi berbeda disetiap musuh serta kawan-lawan..." Hurip menghela napas, "sebetul apa yang sejatinya aku inginkan selama ini, 'kah?"


"Memulai penghancuran diri. Dalam hitungan mundur satu menit ke-belakang.." robot mengeluarkan cahaya merah yang berfungsi sebagai peringatan.


"Memang benar. Kau bukan rusak, melainkan model lama, bukan?" Hurip menepuk jidatnya sendiri dan bergumam, "mengapa aku bertanya ke benda mati."


Dia berjongkok menemukan hitung mundur terdapat pada kedua matanya, sebelum mencapai angka nol Hurip membungkusnya dengan pelindung. Sehingga tidak perlu membuat kerusakan. Seluruh robot yang diperbaharui, mereka bila akan meledakan diri, tidak memperingatkan orang disekitar dengan kata-kata.


Hurip memasuki gua lebih dalam, pertamakali gelap gulita ini aneh baginya. Begitu melihat ke atas ada tanahliat yang sengaja menutupi lubang-lubang pada dinding lubang gua, bahkan sekelilingnya Hurip, banyak tanda seseorang atau sekelompok menetap tinggal di tempat ini sekiranya selama beberapa hari.


"Mungkin para penduduk tinggal di gua ini?" Gumam Hurip mengambil sebuah kayu. Usai terbakar menerangi selingkungan banyaknya benda terlihat.


Dua matanya menilik cangkir bserta keranjang penuh roti yang sudah berjamur, ketika Hurip mengambil cangkir, dia mencium bau dan sadar bila alat minum ini agak hangat. Menandakan bahwa seseorang telah tinggal di lubang besar pada kaki gunung tempat ini.


Ledakan didengar Hurip, robot itu sebelumnya sudah hancur, alhasil hal tersebut menyandarkannya jikalau mustahil warga tinggal di tempat ini. Bergegas Hurip menelusuri gua lebih dalam, mengamati lebih dalam lagi, mata Hurip terbuka lebar-lebar dan menemukan benda yang tidak asing baginya bahkan mengelupaskan luka lama yang sudah merekat erat.


"Apa-apaan ini," ujar Hurip mengambil gelang yang tergeletak di tanah. Tiba-tiba terlihat gumpalan daging hidup memakan robot dibelakangnya Hurip.


Hurip pun tahu ini hanyalah jebakan, tetapi kenyataan dia memungut kenangan yang sulit terlupakan dan terbit begitu saja. Dengan muka penuh amarah, Hurip menyentak pedang, melepaskan tebasan angin yang buat Bicras terdorong mundur sebelum ia mendapat seluruh tubuh robot yang telah hancur berantakan.


Yang paling gila lagi semua perhiasan beserta benda milik Liana atau kekasihnya ditelan mahkluk ini, menjadikannya sebagai zirah pelindung. Membuat si pahlawan Hurip murka sangat. Tanpa segan melesat Hurip dan mengayunkan pedang ke atas, lalu ayunan berkekuatan tinggi setelahnya kembali ke bawah.


"Mati!"


Hirup menekan tanah, menghancurkan area sekitar saat melepaskan tebasan untuk memenggal kepala lawan. Hitungan detik pun daging ini menumbuhkan kepala baru. Sehingga kemurkaan Hurip meluap-luap, dia melakukan rentetan tebasan, kecepatannya waktu menggerakkan pedang kecepatan luar biasa.


"Kembalilah kepada pangkuan pencipta!" Teriaknya Hurip menggeser pedang ke belakang punggung sembari tangan lain menyentuh tubuh Bicras depan.


Waktu untuk Bicras melambat saat Hurip menyentuh dirinya, lalu bertepatan dengan lawan melambat, ujung Candrasa mengeluarkan api putih dan perlahan seluruh api meruak ke seluruh bilah pedang. Remaja ini mengincar bagian samping Bicras sebabnya ingin agar barang-barang mantan kekasihnya selamat, dia menusuk pedang dan mengentaknya sekuat tenaga.


Sesudah teriakan itu wujud bilah Candrasa berubah menjadi pedang yang memiliki gigi-gigi tajam pada tepi. Selayaknya gergaji, gerigi berputar, menciptakan sensasi rasa sakit luar biasa bahkan pertamakali Bicras meraung-raung merasakan sakit yang sbenarnya dlipatgandakan pengguna Candrasa.


Bicras langsung terpelanting jauh dengan dampak dorongan yang menggetarkan dunia dan menghancurkan pintu gua, bongkahan batu-batu menimpa Hurip. Selagi Bicras terbang terpelesat di udara tercabik-cabik karena saking cepatnya.


"Konyol!"


Hurip menghancurkan semua bongkahan batu besar yang menimpanya, sekali ayun pedang, seluruh benda hancur seketika. Ia berjalan menuju kediaman kepala desa, selagi raut wajahnya tampak jengkel, ia terus melangkahkan kaki tanpa melihat ke depannya.


"Urip!" Panggil seorang gadis memukul dari belakang tanpa aba-aba maupun peringatan.


Hurip menengok ke belakang menjumpai Liana lagi tersenyum jahil, lelaki ini menanggapi seruan dengan senyuman. Mereka berjalan berduaan. Tangan saling menautkan jari, canda tawa lepas menghiasi suasana. Hurip hanya menatap Liana, ia seakan-akan enggan untuk berpaling pada hal lainnya kembali.


Tiba-tiba saja Liana terhenti, ia menunjukkan sebuah toko perhiasan perak berkelap-kelip. Hurip menghela napas panjang, kemudian menggelengkan kepala, hal tersebut membuat Liana cemberut dengan waktu yang lama. Sembari memeluknya ditengah-tengah keramaian, Liana menginjak-injak tanah, serupa anak yang ingin sekali dibelikan mainan oleh ibunya.


"Baiklah.. baiklah.. akan aku belikan," kata Hirup agak sedikit tersenyum kecut. Liana langsung bertukar ekspresi seketika dan senyam-senyum kegirangan.


Dalam toko perhiasan ini terdapat banyak aksesoris tetapi hal pertama yang dicemaskan Hurip ialah harga barang. Liana tengah memilah-milah aksesoris untuknya. Selagi Hurip mengambil kantong uang, lalu hanya ada koin biru, tak ada yang bisa digunakannya.


"Kak. Aku mau beli ini dua pasang," pinta Liana pada penjaga toko. Sesudah bercakap-cakap agak lama Hurip tersenyum masam dan memberikan sekeping uang berwarga biru muda yang sangatlah mengkilap.


"Tolol.." Liana menghela napas dan menatap tajam padanya, "apa kau tidak punya uang?"


"Maaf, kami tidak dapat menerima uang bangsawan diatas koin emas.." ucap penjaga toko memberikan senyum hampa dengan ekspresi wajah ramah paksa.


Sesudah itu Hurip menghutang dan Liana mendapat barang yang diinginkannya, meski dia agak kesal, sedari tadi Hurip memintanya untuk pergi toko yang lainnya. Sekarang mereka sedang saling berpelukan di taman merebahkan diri berduaan tanpa gangguan.


Hurip menatap wajah tidur Liana, dia tersenyum kecil seraya mengelus-elus pipi kekasihnya. Mendadak air mata mengalir dari pelupuk matanya. Dalam pandangan yang kabur, Hurip melihat gadis di depan matanya, dia tengah membuka kelopak matanya itu.


"Hurip.." lirihnya. Gadis ini menjumpai bahwa Hurip tengah menyeka air matanya, lalu menampilkan senyuman manis penuh akan kedustaan kepedulian.


"Apaan sih. Kenapa aku berat banget rasanya!" Rintih Alia yang membuka kedua kelopak matanya.


"Kau sudah bangun." Hurip ini membelai rambut Alia sebelum berkata, "baguslah kau sudah terbangun."


Alia bernapas sambil berusaha menukar posisi tidur ke duduk. Dia menjauhkan kepala dari tangan Hurip dengan sengaja, lalu membuang muka darinya, sehingga lelaki ini bersicepat menggeram jengkel.