Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
30



Hurip kehilangan kesadaran akibat serangan pukulan mematikan Liana. Jiwa-jiwa yang ditempa pada Candrasa, andaikata diam bergeming mengindahkan kecaman pengguna pedang pusaka, nyaris setiap di malam waktu Hurip mengistirahatkan diri senantiasa jerit serta teriak jiwa meminta keluar didengar Hurip.


Telah menjadi kejadian lumrah bila sumber kekuatan yang dapat dibilang mahkluk hidup, seringkali itu binatang sihir merasuki tubuh pengguna kontrak dan mengambil alih. Nyatanya diakibatkan mental tidak siap. Itulah yang tengah dialami Hurip, batin terpukul dengan kemunculan Liana dan pengkhianatan Reza.


"Peluk aku, aku akan memberikanmu kekuatan yang besar sama seperti masa dimana aku hidup.." ucap salah satu jiwa berkata-kata dibalik jeruji di belakang punggung Hurip mencoba membujuk pengurungnya.


"Rendahan. Apa hakmu bicara denganku?" Hurip kini menoleh sembari mendekat, "kau sebatas kekuatan yang ada dalam genggaman tanganku. Ingatlah itu.!"


Hurip berbeda dengan orang-orang pengikat kontrak maupun pengguna kekuatan jiwa, dia tidak kenal yang namanya dirasuki. Dia justru melenyapkan tiap jiwa yang menentangnya, sehingga mereka takkan pergi alam kematian atau dapat dihidupkan kembali.


Jiwa yang bicara dicekik Hurip, semasih belum untuk memusnahkan apa yang dipegang berpikir bahwa menyiksanya terlebih dahulu. Sewaktu berpikir akan memberi penderitaan. Langkah kaki terdengar diikuti decitan pintu serta bunyi terseretnya rantai, buat Hurip menengok ke belakang mendapat jiwa lainnya.


Pintu selalu mengikuti dirinya, rantai terlilit pada kaki yang berperan agar dia tidak kabur. Hurip berdecak kesal dan melepaskan jiwa yang dicekik. Lebih tepat disebut jiwa ini anggota keluarganya, entah paman maupun kakek, Hurip berusaha untuk membuat diam saja ketimbang akan ada hal merepotkan bila lenyap.


"Ada apa?" Hurip menatap tajam sembari menghela napas, "katakan dengan cepat kau masih mampu untuk bicara. Aku tahu itu. Segera katakan lisanmu..!"


"Jangan biarkan gadis yang kau cintai itu mengambil alih akal sehatmu, tentukan jalanmu.. pahlawan maupun manusia serakah. Pada akhirnya, nantinya kau akan tetap dijalan itu.." kata jiwa ini menanggapi.


Kata-katanya telah menyulut api amarah Hurip, pada waktu yang sama lelaki ini membuka kedua mata memperoleh Liana mengigit tangan Hurip. Seketika sihir angin tiba-tiba terlepas, dia bangkit menopang diri dengan Candrasa selagi sorot mata bukan sendu melainkan penuh akan amarah yang meluap-luap.


Semua keluarga Sahir mempunyai sebuah kekangan agar kekuatan mereka tidak terlepas kendali, tanda yang sangat terlihat jelas ialah mata berubah merah dan diikuti degup jantung berhenti. Kesadaran masih melekat, tanpa nyawa dan bisa bertarung melewati batas-batas yang takkan bisa terlewati oleh manusia.


Liana yang mengambil posisi siapsiaga tiba-tiba saja Hurip memotong jari telunjuknya, darah bercucuran deras dan brubah menjadi sekumpulan benang hidup menghampiri Liana dengan cepat. Sekejap mata dia terkapar di tanah dengan kedua kaki terpotong jelas.


"Ini yang aku benci.." Liana merangkak berupaya tuk mendekati Hurip, "kamu selalu aja punya kekuatan!"


"Tenang saja. Aku belum menggunakan seluruh dari kekuatan, mungkin seperempat saja, penggunaan teknik pengendali jiwa sangat merepotkan mengikuti aturan yang melemahkan diriku.." Hurip menusuk dada memakai tangan megambil jantungnya sendiri.


Liana membelalak melihat jikalau Hurip masih hidup dengan jantung di tangannya, masih berdetak, namun terlihat dengan detakan yang sangat lemah ini buat Liana kehilangan akal. Hurip melirik ke kanan terdapat Bicras raksasa tengah mendekatinya, cepat dia memanggil sebuah Golem dengan persembahan jantung dan diremasnya hingga hancur berantakan.


Golem batu tersebut langsung mempunyai kekuatan besar, selagi Hurip menghampiri Liana hanya diam tanpa gerakan dan gemetar ketakutan. Namun tidak seperti dugaan ia, justru Hurip mendekap kekasihnya dan tampak berwajah sendu memperlihatkan sedih.


"Maafkan aku.."


Hurip melepaskan pelukan bermaksud akan berdiri, lalu membawa Liana untuk ditanyai apa yang dilakukan olehnya dan hubungan dia dengan orang-orang dunia lain. Apa maksud dari benda-benda dia yang berada dalam gua, apalagi kehadiran robot di pintu gua menjaga siapapun untuk tidak masuk. Hal tersebut yang ingin diketahui oleh pahlawan Hurip.


Waktu akan menjauh, tiba-tiba Liana mendekat muka dan memberi kecupan membuat Hurip bergeming tidak bergerak. Bukan karena kecupan, melainkan ia melihat tanda-tanda hipnotis, simbol spiral pada bola matanya mengingatkan Hurip akan Reza serta perkara lainnya juga yang memiliki keterlibatannya.


"Sayang.. aku musti pergi sekarang," ucap Liana.


Emosi Hurip bertambah lagi usai melihat mata Liana, biarpun dia mampu mengendalikan jiwa-jiwa yang mengendalikan dirinya. Tetap saja. Hurip kini tengah berusaha diambil alih, sehingga Liana tersenyum dan menyambungkan kedua kakinya lagi dengan sihirnya.


"Perasaan selaku manusia memang merepotkan banget!" Kata Liana dalam hati.


Dia menjentikkan jari hingga tiga kali, memunculkan Bicras raksasa yang berbalut batu-batuan sebagai zirah mereka. Mengambil kesempatan ini Liana kini kabur. Selagi itu Hurip mengambil balik kesadaran, lalu mendapati jikalau Liana sudah lenyap dari depan mukanya membuat dia tambah kesal penuh amarah.


Bilah Candrasa mengeluarkan api hitam, menyembul keluar dari ujung pedang disertai matanya terlihat berwarna biru terang dan bersinar meski pada siang hari. Hurip menyejajarkan pedang dengan kaki kiri, ia bersikap rendah, dengan kedua mata melihat sisi kiri dan kanan mengawasi dia Bicras yang masih diam.


"Matilah kalian.."


Hurip menarik pedang ke atas, menggeser api untuk menciptakan rentetan serangan lurus dari jarak yang sangat panjang dan lebar meruakan api hitam. Sedangkan Bicras pada sisi kanan, memakai sebuah sihir air tingkat atas dengan wujud tombak raksasa runcing terlepas dengan kecepatan ketajaman tinggi.


Hurip menengok ke sisi kiri, Bicras masih hidup, tapi tubuhnya sedang termakan oleh api hitam dan hanya soal waktu dia lenyap sepenuhnya. Dia bergerak ke sisi kanan Bicras, jikalau Bicras ini lagi meregenerasi tubuhnya dan Hurip tentunya tak membiarkan hal tersebut terjadi, apalagi jikalau ia sepengetahuannya.


"Jangan membebani tubuhmu lebih parah, barusan kau hampir melewati batas manusia setengah dewa.." ucap jiwa yang mengatur kekuatannya. Atau jiwa kakek buyutnya yang melekat pada Candrasa.


"Diamlah. Gara-gara kau, aku kehilangan Liana.. dan mustahil untuk mencarinya lagi.." Hurip mengangkat Candrasa dan menatap Bicras, "karena aku belum menemukan anak kami yang hilang beberapa tahun."


Dunia dinding pelindung menjepit kedua sisi Bicras, buat tubuh Bicras hancur terjepit dan Hurip cuma menyaksikannya dengan pandangan mata kosong mengingat tugasnya belum usai. Hurip melangkah melewati daging raksasa tanpa menolehkan muka.


Dia melihat ke lengan bajunya, terdapat bercak dari darah Liana, ia merobek bagian itu dan menahan kain berdarah di dalam mulut mengecap rasa darah kekasihnya. Merasainya sesudah sekian lama membuat Hurip menghela napas panjang-panjang.


"Rasanya masih sama seperti dahulu.." seusai Hurip mengulum benda itu dia berkata, "aku penasaran dengan rasa gadis itu. Jikalau.. kakek tak mengikuti pemerintah pasti akan aku kuliti sebelum ku lahap."


Candrasa tiba-tiba berubah bentuk, dimana ujungnya serta setiap sisi memiliki gigi-gigi dan warna-warna pula berubah menjadi hitam pekat. Pada saat yang sama, rantai mengikat tangan Hurip terkesan seakan-akan Hurip tidak dilepaskan oleh Candrasa.