
Alia menatap bangunan besar bak istana kecil depan mereka berdua, serikat pemburu, tempat pemburu menghasilkan uang dan sebagian besar juga warga menjadikannya pekerjaan tetap. Dikarenakan perihal yang seolah-olah menguntungkan, biarpun nyawa menjadi taruhannya, tiap tahun pasti ada yang tewas.
Mengabaikan hal tersebut Hurip melewati pintu, dia menjumpai dalam serikat pemburu terdapat orang-orang yang tampak akan mati. Dia bukan mengharap sekian banyaknya dari mereka mati, melainkan hanya menerka-nerka kedepannya, begitu Hurip menjumpai perlengkapan dan zirah mereka semua.
"Aku ngerasa kalo mereka liatin kita mulu." Alia yang tertampak agak gelisah menarik-narik lengan baju Hurip yang tengah memperhatikan sekeliling.
Dia hanya mendengar desas-desus saja, tetapi saat memperoleh secara langsung Hurip menampilkan seringai jahat serupa serigala. Dia berjalan perlahan-lahan menuju meja resepsionis, mendaftarkan diri sebagai pemburu, meskipun banyak cara lain yang dapat membuat Hurip mendapat secara instan uang.
"Bisakah Anda memberi penjelasan rinci kepada kami tentang pemburu? Secara rinci dan mendetail mengenai pekerjaan ini.." Hurip mengetuk-ngetuk meja berlisan dengan kalimat sopan bernada geram.
"Eng.. itu anu.." resepsionis kebingungan menjawab pertanyaan Hurip.
"Hmph. Dasar anak-anak!" Ejek seseorang mengatai belakang lawan muka target yang diejek.
Alia berniat mengambil boneka, hanya saja perkara keributan dihalangi oleh Hurip, dia hanya ingin menurunkan angka kematian tiap tahunnya. Merasa bila serikat pemburu kurang ketat, berbeda dengan serikat petualang, mereka benar-benar mengirim dan memberi jaminan serta peringatan tinggi.
Hurip hanya merasai tatapan sinis orang lain, ketika dia meminta Alia memilih buruan yang memiliki imbalan besar dan begitu mendengar perintah Hurip, kekesalan semakin merasuki mereka. Remaja yang berstatus pahlawan ini menghela napas, bercakap-cakap dengan pemburu muda yang nyaris seumuran.
"Kau tau.. lain kali, pilihlah buruan yang sesuai untuk nyawamu beserta kemampuanmu asalkan upahnya cukup untuk makan.." saran Hurip mendengar cerita tentangnya yang hampir mati olah seekor monster.
"Napa pahlawan kayak elu datang kemari? Nggak ada manfaat elu datang, tinggal minta uang sama pemerintah kalo butuh duit!" Ujarnya setengah membentak keras secara langsung kepada Hurip.
"Nyawa manusia tidak akan kembali. Jikalau orang sekarat tidak bisa disembuhkan, maka mereka tentunya akan mati.. kita tidak bisa mencontoh para penjajah karena senantiasa memakai sihir. Sekuat apapun dirimu, pada akhirnya, engkau membutuhkan rekan yang mampu diandalkan."
"Heh bohong banget. Elu dah bunuh raja iblis pake tangan kosong, mana ada yang buat elu kesulitan sampe harus butuhin rekan segala.." kata pemuda ini menghela napas dengan sangat berat.
Hurip melihat sekeliling selagi Alia lagi kebingungan memilah buruan. Dia sudah banyak mendapatkan kepercayaan dari orang-orang, namun tidak seluruh masyarakat, memihak maupun melekatkan percaya kepada dirinya seorang. Nyatanya masih banyak, dia belum menyentuh rakyat, salah satunya mereka.
Seusai membuat dirinya menjadi pusat perhatian, Hurip berusaha menempelkan kepedulian terhadap orang lain pada benak mereka. Menekankan pada mereka pentingnya sebuah nyawa. Selemah apa dia hingga membutuhkan rekan, meskipun sudah cukup kuat melawan tiga raja iblis sekaligus.
Hurip berdiri sesudah Alia mendatanginya dengan membawa secarik kertas. Hurip mengusap-usap kepala gadis di sampingnya, dia bermaksud akan membuka mulut, tetapi Alia mengambil tangan Hurip dan memeluknya erat dengan wajah merona merah.
Apakah kalian pernah menikmati sakitnya ketika jiwa kalian ditarik-tarik saat menolak kematian?
Pernahkan kalian menjerit-jerit kesakitan sewaktu gergaji memotong seluruh tubuh kalian perlahan-lahan, selama kalian memiliki regenerasi cepat, tapi rasa sakit terus menerus datang?
"Kau! Ya dirimu!" Hurip menunjuk ke salah satu pria yang memakai zirah lengkap dan bertanya, "pernah kau membayangkan betapa sakitnya zirah pada seluruh tubuhmu retak bertepatan ketika baru besar menimpa tubuhmu dan baju zirah bukan melindungi, justru menusuk hingga seluruh tubuh hancur dan selama berminggu-minggu hidup bagaikan kertas?"
"Lalu, kau tampaknya sudah tua dan terdapat banyak luka di tubuhmu.. mantan prajurit kah?" Tunjuk Hurip seorang pria. Setelah dia mengangguk Hurip mulai menceritakan banyak kebohongan kembali.
"Membunuh gadis yang paling kau sayangi beserta membunuh keluarga sendiri. Aku telah mengulang pembunuhan dengan kekuatan waktu, karena itulah jangan menyebarkan gosip, Hurip pahlawan tidak bisa lagi menggunakan sihir ruang dan waktu. Bukan aku tidak bisa, melainkan takut melawan diri sendiri."
Semua orang terdiam dalam hening, Hurip berjalan bersama Alia sembari menitikan air mata. Sandiwara pun berakhir dengan Hurip keluar dari serikat, sebelum ditelan cahaya, dia menoleh ke belakang dan memberikan senyuman tipis seolah-olah semua penderitaan tertutup oleh ekspresi menyedihkan itu.
***
"Kamu cukup kejam," kata Alia.
"Apa?" Hurip mengangkat tangan. Dia mengeluarkan bola api untuk membunuh tiga ekor goblin besar.
Dengan waktu singkat mereka memburu goblin yang merusak ladang warga, tugas ini cukup sepele, tapi bukan dari buruan melainkan jalan dan tempat tugas ditentukan lebih bahaya. Dikarenakan ketika masuk mereka langsung dismbut oleh monster level jingga.
Terdapat tingkatan yang digambarkan menggunakan warna. Monster di serikat pemburu, yaitu berawal dari yang paling lemah hingga kuat seperti putih, hijau, biru, kuning, jingga, merah, dan hitam sehingga Hurip pikir serikat cukup bagus meskipun pemburu yang menerima tugas kurang memiliki kesadaran.
"Terhadap nyawa sendiri," kata Hurip.
"Kalaupun begitu kamu nggak usah sampai karang-karang cerita segala. Beneran deh, kamu lebih mirip penjahat aja.." Alia menghela napas sembari menyarungkan pedang kembali pada punggungnya.
"Saya diberitahu jika pahlawan Hurip datang ke kota ini. Saya ingin meminta bantuan Anda!" Teriak pria menghadang mereka berdua dalam perjalanan balik.
Hurip melihat bila pria ini seorang bangsawan, siapa saja tahu setelah melihat pakaiannya, dengan muka ketakutan dia meminta mereka untuk mencarikan seseorang yaitu anaknya. Alia menunggu keputusan Hurip, justru laki-laki ini menggelengkan kepala, walau laki-laki ini bersedia membayar sangat mahal.
Dalam situasi panik Hurip tahu, jika seseorang lagi berada di jalan buntu selama dia mampu dan terlebih lagi masalahnya sangat amat penting. Hurip tahu dia kan mengorbankan apapun tuk keselamatan anaknya. Bangsawan ini pun menambahkan bayaran kepada Hurip berkali-kali lipat, dengan muka terpaksa, Hurip mengangguk dibalik senyuman jahat.
"Uwah.. bener-bener jahat.." batin Alia.
"Tentu saja. Antara terdesak maupun ketakutan, dia seperti sangat ketakutan bukan cemas.. membuat aku sedikit bertanya-tanya. Namun, lupakan saja hal tersebut, sekarang tinggal uangnya saja," batin Hurip.
"Apa kalian bisa bersumpah untuk membawa anakku kembali?" Bangsawan ini menarik-narik lengan Hurip seolah-olah ketakutan dan sangat meminta tolong.
"Tentu. Asalkan kau benar-benar membayar, berikan setengah bayaran terlebih dahulu.." ujar Hurip. Sontak saja bangsawan ini menelan ludah, pria ini langsung mengangguk, lalu memberikan upah sebelum Hurip menuntaskan permintaannya tersebut.
Dia meminta mereka untuk pergi ke bawah tanah dan anaknya pergi ke bawah tanah jadi pemburu, tapi selama satu bulan terakhir anaknya belum kembali dan walaupun putranya sudah tewas keluarga ingin tahu kebenarannya. Usai mendapatkan cerita singkat Hurip langsung bergegas pergi ke tujuan.