Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
16



Pada pelabuhan terdapat kapal besar dengan sedikit penumpang termasuk mereka. Sejak lama Hurip enggan berlama-lama berada di kapal, dikarenakan akan menjadi masalah, bila monster yang habitatnya di air akan menyerang mereka dan dia kesulitan untuk melawan mereka tanpa memasuki lautan.


"Alia. Pergilah ke tempat penyimpanan barang, lalu cek satu-persatu.. jangan lewatkan apabila ada kurungan meskipun penjaga bilang isinya hewan, kau jangan percaya dulu.." Hurip menarik sebuah belati memberikan senjata tersebut kepada Alia.


Alia mengangguk mengerti maksud perkataan Hurip, selagi Azka mengawasi sekitaran sambil menunggu Hurip memberi perintah. Dia melihat ke lautan lepas, begitu banyak hewan air tengah melompat-lompat, melihat ikan mirip seperti lumba-lumba, pada ujung moncong terdapat tanduk beserta gigi runcing.


Hurip membalik badan memperoleh pemandangan yang setiap membuat matanya melihat, bertepatan dia menyadari betapa luasnya dunia ini, pulau-pulau kecil dan tempat lainnya terlihat sangat kecil dari kejauhan. Dia tidak pernah paham mengapa dirinya hanya menyadari hal sepele ini sewaktu melihat laut.


Waktu menikmati semilir angin, Alia datang padanya membawa beberapa orang yang mempunyai kalung besi pada lehernya. Hurip sangat-sangat menentang perbudakan, terkecuali orang jahat, seusai keberatan diajukan olehnya banyak negara melarang perbuatan tersebut dan nyatanya perubahan hanya di kulit luar.


"Hurip. Lebih baik kita turun bentar lagi," saran Azka menghela napas panjang.


"Mengapa?"


"Gue kesel aja gitu sekapal sama para bangsawan yang memperbudak.." Azka tersenyum sesaat dia berlisan mengungkapkan kekesalan. "Justru, dunia kami sangat menentangnya sejak dulu!" Batinnya.


Hurip mengangguk sesudah beberapa orang datang dengan maksud bukan meminta maaf, melainkan melakukan pembelaan di hadapan seseorang, orang yang bahkan tidak pernah sedikitpun hukum tak sepatut berani menyentuh bahkan sejari sekalipun.


Tiga jam berlalu, Hurip sepenuhnya mengambil alih kapal dan menurunkan banyak tawanan. Begitu pula Alia membawa banyak budak. Hirup menghela napas panjang, dia menengok ke belakang, Azka lagi terlihat kebingungan bicara dengan seorang laki-laki.


"Aku nganterin mereka ke penginapan!" Teriak Alia sambil pergi ke kota mengikuti arahan dari Hurip.


"Ada apa?" Hurip menaikkan alis. Dia menarik napas agak lama dan berkata, "maafkan dia kalau remaja ini membuat kesalahan kepada Anda."


"Bukan itu masalahnya, saya membawa barang mahal, malah.. anak ini memecahkannya meskipun tidak sengaja tetap itu harus dibayar.." ucapnya agak menampilkan ekspresi wajah sangat kesal.


"Gajimu akan aku potong untuk tiga bulan!" Hurip menjitak rekannya saat memberikan uang ganti.


"Berapa uang yang tersisa? Hitunglah.."


"Untuk apa menghitungnya.." Hurip menggaruk-garuk kepala sembari membuka kantong kulit tersebut dan menjumlahkan semua koin emas. Bertepatan ketika Hurip ingin menutup kembali usai menghitung, orang berbaju hitam datang, menyerang Hurip saat lengah.


Hurip hendak akan menghunuskan pedang, tetapi dia terhenti waktu teman pria menyandra dan merelakan tangannya terkena goresan pisau. Ternyata orang-orang ini membawa sebuah benda, hal tersebut buat Hurip tercengang, ia menelan ludah dan mengangkat kedua tangannya dengan gemetaran.


"Woi apa yang elu lakuin?!"


"Angkat tangan kalian semua!" Teriak Hurip membuat semua orang mau tak mau menurutinya. Benda yang dilihatnya ialah dinamit. Pertamakali Hurip melihat alat peledak itu, di kota Loka, tiap tempat waktu para tentara membawa benda tersebut pasti kota hancur.


"Berikan uang kalian kepada kami. Jika tidak, kami akan membunuh anak ini.." ancamnya menodongkan pistol ke pelipis anak yang lagi menangis tersebut.


Usai beberapa saat mereka angkat kaki sesudahnya mendapat yang diinginkan. Seperti janji, musuh Hurip melepaskan anak itu sebelum dia pergi. Dalam waktu lama Hurip memburu napas, pada ingatannya, alat semacam peledak sudah seperti trauma berat yang sulit hilang dan sudah berakar melekat di otak.


"Bila tak ada dinamit. Akan aku bunuh mereka semua tanpa mempedulikan anak itu, bila terluka parah, hanya tinggal menyembuhkannya saja.." batin Hurip.


"Kupikir dia akan membunuh anak tadi. Ternyata, dia masih tidak bisa membiarkan ada yang membunuh anak-anak.. baguslah. Nah, saatnya melakukan semua rencana, mungkin di tempatnya Alia sudah beres.." batin Azka menghela napas panjang lega.


Alia yang menjumpai keadaan mereka dibebani oleh kebingungan, gadis ini lebih bingung lagi tiba-tiba mendapatkan situasi semacam ini. Sesudah dapat penjelasan, Alia mengangguk tersenyum kecut merasa tidak habis pikir, Hurip hanya diam meskipun dia bisa melakukan sesuatu yang semestinya.


"Sebenarnya, aku juga kehilangan semua uangku dan bandit pencuri merampok ketika aku lengah.." Alia menampilkan senyum kecut dengan kening berkerut.


"Ha, lupakan itu. Kita membutuhkan uang karena itu sebuah alat yang cukup penting," ujar Hurip.


"Uangku nggak cukup loh buat perjalanan kita," ucap Alia membuat Hurip tambah kebingungan. Sewaktu dia nyaris hilang akal Azka mengangkat tangan.


Mereka mendengarkan usul Azka selagi berjalan di kota ini, tanpa tahu namanya, Hurip hanya mampu untuk mengikuti saran rekannya. Mengingat adanya pekerjaan yang bebas, selama seseorang dapat, dia bisa menghasilkan uang dari berburu monster dan berpetualang ke berbagai daerah bahkan satu dunia.


Alia awalnya menentang disebabkan dia tidak ingin berpasangan dengan Azka lagi maupun pergi sendiri, lalu dikarenakan hal tersebut, Hirup memutuskan untuk pergi mencari bandit sendirian. Hal tersebut di tentang oleh kedua rekannya, alasan masing-masing.


"Gawat kalo Hurip tidak ke tempat itu," batin Azka.


"Ah, aku nggak mau bareng cowok ini lagi! Kalo kami berburu monster pasti Hurip bakalan hemat tenaga, lalu aku bisa ngobrol lama bareng dia.. udah gitu aku nggak mau Hurip ke tempat kotor gitu!" Batin Alia.


"Andaikata aku tidak merekrut rekan," batin Hurip.


Dengan begitu, selepas ketiganya membatin masing-masing, keputusan mencapai akhir. Dimana Azka sendirian mencari bandit dengan bermodalkan foto, Hurip menggunakan pembaca pikiran, Alia dan Hurip saling menautkan tangan saling menyentuh kening.


Walaupun samar-samar Hurip melukis muka bandit dengan sangat jelas, bahkan sempurna, bagi seseorang yang tidak lain ialah atasan pria ini. Begitu usai menitipkan tugas keduanya pamitan, bertepatan laki-laki ini menegok ke belakang waktu Alia sudah membawa ketua tim mereka pergi jauh-jauh darinya.


"Kerja bangus," puji atasan memakai alat komunikasi pada telinganya. Dia berjalan menuju tempat anak buahnya berada, tiba-tiba seorang bocah merengek dan menunjuk-nunjuk daun telinganya.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Telinga aku rusak," ujar bocah ini. Dia telah memakai alat yang digunakan Azka dan digunakannya untuk mendengarkan suara lebih kencang, dikarenakan hal semacam kurang dengar dan manusia di dunia Hurip hanya menganggap alat ini sebatas itu saja.


"Makasih kak! Aku liat tadi kakak pencet mesin itu di telinga kakak sebelum.. jadi.."


"Tidak apa-apa. Cepatlah pergi, kakak ada urusan, pulanglah.." Azka tersenyum kepada anak ini sembari mengelus-elus kepalanya. Mengingat jikalau banyak orang-orang penting menggunakan alat ini, pihaknya pun mengetahui informasi penting, walaupun mereka menggunakan alat ini untuk maksiat Azka tak peduli asalkan membawa keuntungan baginya.