Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
21



Singkat cerita Hurip memasuki perkampungan para warga, ia langsung meminta bantuan, disebabkan dia sudah menolong mereka walau orangnya sendiri tidak mengingatnya. Dengan bantuan ahli obat, Alia beserta nyawanya berhasil diselamatkan, usai Hurip mempercepat proses dengan sihir waktu.


"Hahhhhh.." Hurip menghela napas sembari menyeka keringat. Dia menatap muka Alia tak kunjung bangun sehingga Hurip berpikir akan meninggalkannya saja.


"Tuan penyelamat?"


"Aku akan mencari tanaman herbal agar rekanku bisa cepat sembuh. Tolong jaga dia," pinta Hurip dengan ekspresi jengkel disertai cemas. Sembari berjalan ke pintu keluar wajahnya terus menampilkannya.


Hurip mengintip dari balik jendela, terdapat bocah-bocah yang melempari rumah ini dengan lumpur, begitu dia hendak menyentuh gagang pintu. Pemilik rumah tidak membiarkannya pergi. Hurip menghela napas agak panjang nan berat, kades, yaitu pemilik rumah ini terkesan kesulitan menyebutkan alasan dia tidak boleh keluar dari kediamannya.


"Anak itu.." kades angkat bicara dan berlanjut, "bocah itu membenci Anda yang telat datang ke desa ini."


"Apa maksudmu? Aku baru ingat, bila tiga atau dua bulan lalu aku menyelamatkan tempat ini dari segerombolan monster.." kata Hurip sesudah dirinya menarik napas panjang kembali dan membuka pintu.


Sedikit saja pintu tersingkap lemparan tanah terkena muka Hurip, bukan Hurip lengah, melainkan dirinya sengaja. Ia mengentakkan kaki pada tanah mencipta sebuah lubang kecil. Bocah laki-laki ini pun langsung terperosok, Hurip menghampirinya, dia menepukkan telapak tangannya menuju kepala anak ini.


Hurip berjongkok sembari menyodorkan pisau pada anak ini, dia melepaskan tangan kanan si anak, alhasil bocah ini kebingungan dan kehilangan arah tujuan awalnya. Justru dua mata menatap pisau yang tergeletak di telapak tangan, seraya agak ketakutan.


"Hei budak.." panggil Hurip. Seketika orang-orang di sekeliling terkaget sebelum Hurip berkata, " ternyata ada yang salah paham. Tenang saja kata budak tidak selalu berarah pada perbudakan, dapat digunakan untuk memanggil bocah kurang ajar juga."


"Gara-gara kau.. ayahku..!" Anak ini menggeram kesal dipenuhi amarah yang tertampil pada sorot matanya.


"Lalu.. mengapa kau tidak mengangkat senjata yang kuberikan? Cepatlah tikam dadaku dan berbangga dirilah bocah.." titah Hurip membuat bocah ini sontak menjerit dan menusukkan pisau sesuai perintahnya.


Sewaktu Hurip bermaksudkan mengatakan sesuatu kepadanya, ketimbang mendapat momentum yang tepat, sekumpulan monster yang serupa babj hutan berdatangan dan menubruk-nubruk pagar. Para penjaga di desa ini pun bergegas, mereka membawa pedang dan tameng menuju keluar melewati gapura.


Hurip bertumpu pada kedua kaki, dia mengabaikan benda pada dadanya dan melepaskan sihir petir bertegangan tinggi yang terpelesat lurus. Semua dari monster babj pun mati tanpa sisa, menghasilkan suara meledak-ledak, menyisakan hanya mayat saja.


"Aku hanya manusia seperti dirimu. Adakalanya saat keterlambatan dalam menyelamatkan orang, karena apa?... Diriku hanya manusia biasa.." ungkap Hurip.


"Mengapa kau disebut pahlawan? Lantas!" Teriaknya meneriaki Hurip. Pahlawan ini mulai memperoleh penonton yang memusatkan perhatian pada mereka.


Tiap kata hinaan, caci maki, dan lain-lain diterimakan oleh Hurip. Dia mengeluarkan si anak dari lubang yang telah dibuatnya. Ketika bocah ini berniat untuk kabur, tiba-tiba Hurip menarik tangannya, lalu bocah ini berpikir jikalau dia akan membunuhnya dan cepat menjerit-jerit histeris. Nyatanya Hurip memeluk lebih erat dan memberi dekapan dibarengi kaki bergetar.


Muncul pertanyaan dibenak anak ini. Mengapa Hurip yang seorang pahlawan gemetaran? Untuk apa dia mendekapnya? Lalu, yang paling dipertanyakan oleh bocah ini ialah detak jantung. Hurip melonggarkan peluk dekapan tangan sampai anak ini sesudahnya ia memberontak dengan wajah penuh ketakutan.


"Diriku takkan mengucapkan permintaan maaf, tetapi berterima-kasih.. kau telah menyadarkan diriku sekali lagi bahwa tidak semua orang bisa aku selamatkan."


"Ah, karena detak jantung!" Hirup menampilkan muka beloon sesudahnya lirih mengatakan, "aku enggan untuk menceritakan secara lengkap.. tapi intinya aku mendapatkan kekuatan dari penderitaan mendalam."


Usai mendengar perkataan Hurip, sedikit warga kini bercakap-cakap tentang gosip keabadian pahlawan benar tanpa kedustaan. Hurip mengambil sekeping uang dan memberikannya mepada bocah ini. Waktu Hidup melangkahkan kaki bocah ini menghentikan.


"Ada apa?" Tanya Hurip tanpa menolehkan kepalanya dan menunduk. Walau dalam hati dia ingin tertawa.


"Kenapa kau gemetaran? Lalu, untuk apa memelukku yang tadi.. menusuk dan kurang ajar!" Teriak bocah ini seakan-akan meminta sebuah keterangan penuh.


"Tetaplah manusia biasa.. tiap kali mengemban gelar pahlawan, setiap gagal menyelamatkan nyawa, selalu saja aku depresi karenanya. Dari lubuk hatiku aku takut korban dari keterlambatanku menyimpan dendam dan alasan aku memelukmu untuk agar aku sedikit mengingat kesalahanku, lalu, pada tugas berikutnya aku kan mengingatmu dan berusaha tak mengulang kejadian yang sama," kata Hurip sembari tersenyum tipis berwajah agak sedih dan pergi.


"Cih! Cari perhatian, tuh pahlawan.." ucap seseorang warga. Terjadilah sedikit pertikaian yang memiliki anggapan dan reaksi berkebalikan dari pembelaan.


Hurip tanpa menengok belakang menggerakkan kaki menghampiri pintu gua, biarpun dia merasa sudah membasmi monster sebelumnya, nyatanya sisa-sisa dari segerombolan babj hutan besar muncul. Dia kini menarik napas sembari menghunuskan Candrasa.


Mereka biasa disebut taring, alasan karena monster ini disebut taring disebabkan harga taring mereka sangat mahal karena kuat dijadikan sebagai sumber bahan senjata. Hurip menarik pedang, seekor taring datang dan dia memenggal kepalanya, dari samping yang lain datang sontak Hidup melepas sihir tanah.


Hurip melempar Candrasa ke angkasa, sesaat akan senjatanya jatuh, Hurip melebarkan tangan dan bersicepat dia menembakkan rentetan serangan api pada sekeliling. Membuat segerombolan taring kini berpencar tidak karuan akibat ketakutan.


"Tunjukan seberapa mengerikan kau sesaat ujungmu menyentuh tanah.." titah Hurip kepada Candrasa.


Seperti kata-kata Hurip, sewaktu ujung dari Candrasa pedangnya Hurip menyentuh tanah, dia berguncang hebat menghasilkan gempa yang sangat kuat hingga retakan muncul. Terciptalah lubang-lubang bagaikan jurang tanpa ujung menelan hidup-hidup para taring.


Sewaktu Hurip mencabut kembali Candrasa di tanah gempa akhirnya mereda, membuat semua mahkluk kembali tenang dari ketakutan datangnya hal kiamat, dan malah Hurip dengan tenang menyimpan kembali Candrasa ke sarung pada pinggangnya tersebut.


"Saatnya masuk dalam gua. Kesampingkan dulu saja cari tanaman herbal," kata Hurip sambil berjalan menghampiri pintu gua tersebut. Hadapan pintu gua Hurip merasa ada yang mencurigakan dan masuk.


***


"Apaan sih. Kelapa aku berat banget rasanya!" Rintih Alia membuka kedua kelopak matanya.


"Kau sudah bangun?" Hurip ini membelai rambut Alia sebelum berkata, "baguslah kau sudah terbangun."


Sangat berkebalikan dengan orang yang menunggu teman bangun, Hurip menampilkan ekspresi kesal, penuh akan amarah. Alia berniat mengambil tangan Hurip, tapi dia segera merasai sakit, membuat Alia kaget jikalau pereda rasa nyeri kemampuan keluarga miliknya hilang dan tidak mengalir ke seluruh tubuh.


Mengesampingkan hal tersebut, gadis ini berfokus pada Hurip yang tengah menyembunyikan amarahnya dibalik senyuman. Alia sudah bosan bila melihat sandiwara Hurip, yang lebih membosankan lagi, dia sekarang sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Yang paling membuat Alia kesal.