Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
31



Kota Alfha berhasil selamat. Dinamit ditemukan oleh para ksatria, total sekitar lima puluh hingga seratus lebih diamankan dan dihancurkan. Daya ledak benda itu mampu menyaingi sihir tingkat tujuh, sehingga banyak orang-orang yang memanfaatkan keadaan ini dan menyimpan dinamit untuk kepentingan pribadi.


Pemerintah yang haus kan kekuasaan, seringkali bila akan melakukan pemberontakan terhadap negara maupun menggulingkan raja memakai benda bahaya dan mengancam. Karena itu tanpa suruh pemerintah Hurip memburu siapa saja yang mencuri dinamit, dia enggan untukmerasa takut lagi pada sebuah senjata.


"Berikan dinamit itu padaku.." Hurip menatap tajam kearah lawan bicara, "cepatlah keluarkan!"


"Heeehh.." pria berjenggot panjang menyeringai lebar sebelum berteriak, "kau akan saya ledakan dengan semua manusia keparat di pedesaan ini. Hahahaha!"


Hurip menghela napas panjang sambil memandangi kedua sepatu. Bukan karena kotor, melainkan dia menyembunyikan senyum tipis dan ekspresi senang dicampur amarah. Tiba-tiba saja api menghapus keberadaan Hurip, dalam sekejap mata, mendadak tertampak telah di depan punggung bangsawan gila.


Sebelum sempat bereaksi, dia menyimpan Candrasa menyentuh pinggang bagian kanan pria ini. Seketika dia menjerit kesakitan. Gerigi seperti tugas si gergaji memotong sesuatu perlahan-lahan, tajam berputar tanpa henti, membuat ja memekik kesakitan dengan nyaring menggema di kediaman bak istana miliknya.


"Ah, kau berisik sekali..." bisik Hurip dekat telinganya meski tidak diindahkan. Sudah kehilangan banyak darah, Hurip membalik tangkai pedang, menukarkan rupa wujud Candrasa menjadi kapak. Hurip memotong tubuh lawan menjadi dua bagian tanpa sedikit rasa salah, justru, mukanya tampak bahagia.


Lebih parah lelaki yang diserang Hurip masih hidup dan merasai sakit luar biasa, jiwa masih belum angkat kaki pada tubuhnya. Alhasil lelaki ini menjerit sampai pita suara putus, mengakibatkan hanya suara decitan serupa tikus. Hurip mengukir senyum tipis, membalik kapak memakai bagian yang tumpul, lalu memukul kepala pria di hadapan memberi siksaan.


Usai Hurip bosan pada mainan manusia, dia menarik napas dan pergi keluar dari kediaman megah pria tersebut. Ia membuka pintu menemukan para ksatria sedang menunggu. Begitu Hurip mengangguk kecil mereka bersicepat mengurus sisa-sisa kerjaan Hurip.


"Hmph.." Hurip tersenyum kecil, "jiwamu sangat bisa disebut manis. Setidaknya itu memberi alasan mengapa darahmu sangat tak memiliki rasa sedap."


"Hei..!" seru seseorang dari kejauhan. "Apakah kamu tuan pahlawan? Tolong berhenti bentar aja!" Pinta seorang remaja berteriak-teriak seperti tengah panik.


Hurip mengigit jari. Dengan berat hati ketika langkah berhenti Hurip memasang wajah yang tidak peduli bercakap, "ada apa?" Selagi membatin, "jikalau anak ini hanya ingin dielus setengah kepala akan hancur."


Bila hal lain selain keinginan anak-anak belaka, Hurip telah menebak ketika bocah laki-laki ini berupaya untuk meminta bantuan, tetapi.. dia hanya membawa sekantong penuh koin perunggu. Hurip menepuk pipi seperti tengah menyadarkan diri dari lamunan, dia mengangguk dan meregangkan kedua tangannya itu.


Seraya meminta bocah ini untuk menjelaskan ciri-ciri monster yang menyerang desa. Hurip hanya sebatas tahu desa terdekat. Muncul sebuah portal, wujud yang serupa robekan memuntahkan seekor monster atau lebih dikenal naga tengkorak. Mayat naga yang telah menjadi tengkorak, tapi jiwa masih menempel.


"Hebat.. sihir perpindahan ruang," lirih bocah tertegun pada pahlawan di depan mukanya.


"Apa ini monsternya?" Tanya Hurip.


"Ya benar!" Bocah mengangguk, "mahkluk inilah yang menghancurkan rumah-rumah penduduk desaku!"


Tentu Hurip merasa malas meladeni naga tanpa akal yang memiliki jiwa busuk akibat kebencian terhadap mahkluk hidup pembunuh. Benang-benang hitam bermunculan menyembul keluar dari bayangannya, ia menciptakan sebuah boneka diberikan sepertiga dari kesadaran dan akal pikiran Hurip asli atau pengguna.


"Ah, tuan pahlawan, terimakas--" bocah ini menganga sembari kelinglungan membatin, "eh.. kemana dia?"


Hurip menginginkan ketenangan mengingat bahwa luka yang dibalut kain belum sembuh, malah, seorang pelaku mengakibatkan perban terlepas dan membuka luka kembali. Dia sepanjang jalan hanya menunduk memperhatikan tanah, tidak peduli kepada apapun dan mengunci mulutnya rapat-rapat.


Hurip kembali ke kota Alfha agar dapat beristirahat, malah dia mengubah arah tujuan. Tempat minum-minum atau bar. Sebelum masuk menjumpai wanita yang berkeliaran, penggoda atau pelacur, membuat Hurip cukup jijik dan hanya ingin melupakan seluruh perkara yang menyakiti walau cuma sementara saja.


"O'ooh Tuan Hurip, silakan, apa urusan anda datang kemari.." bartender menghapus senyum ramah sebelum berkata, "jangan meminta saya tutup atau mengancam akan menutup tempat ini. Saya mohon."


"Tidak.." Hurip menggelengkan kepala sambil melirik ke berbagai arah sebelum berkata, "berikan aku minuman yang mengandung cukup sedikit alkohol."


"Ha?!" Orang-orang disekeliling yang mengenal Hurip terdiam sesaat seakan-akan hilang akalnya. Selagi pahlawan yang menentang kegiatan hiburan malam, terduduk menunggu pesanan dengan muka tenang.


Satu jam berlalu, Hurip memiliki kekebalan terhadap mabuk serta racun sehingga lelaki ini sudah mulai menghabiskan tiga botol. Muka pucat dengan mata sayu. Hurip benar-benar sudah ditelan kesedihan mendalam, tanpa dapat meminta tolong, jikalau dia seorang pahlawan yang menolong banyak manusia.


"Kamu jadi penolong. Lantas, siapa yang bakalan jadi penolong kamu?" Ucap seorang perempuan. Suara yang dikenali Hurip, buat Hurip menoleh ke belakang.


"Alianty?"


"Duh. Udah kubilang, panggil aku Alia aja." Alia duduk memesan minuman. Hurip menghela napas panjang melirik ke samping, bahwa Alia mengembangkan bibirnya sedikit menunjukkan rasa gembira bertemu.


Sewaktu Alia bermaksud membuka mulut bercakap-cakap dengan Hurip. Tiba-tiba lawan bicaranya beranjak dari tempat duduk, membuat Alia diam dan kehilangan kata-katanya. Hurip tetap melangkahkan kedua kakinya, dengan sorot mata tajam, mengawasi tiap orang dan mengukir seluruh wajah para buronan.


Sontak saja Hurip mematung depan pintu keluar, jika terdengar suara perkelahian dan suara Alia kesakitan tertangkap pendengarannya. Dia bersicepat berbalik badan, langsung bergegas menghampiri tempat Alia, dia langsung mendaratkan pukulan kepada seorang.


"Gah!.." pemabuk mundur selangkah, "mau apa elu huh?" Ujar pria pemabuk bermuka kesal hendak membalas tumbukan.


"Ada apa?" Hurip menepis tangan pemabuk, "katakan dan jawab pertanyaan dariku terlebih dahulu!"


"Tadi aku bicara sendiri pengin balik jadi tim kamu, tapi nih manusia tiba-tiba datang minta aku buat menjadi istri ke-sembilan.. makanya.." Alia merona merah sembari membuang muka memainkan jari.


Dia menatap tajam muka pemabuk, menghunuskan Candrasa dan memenggal kepalanya sekedip mata dan memicu keributan pada bar. Alia berupaya pergi, tetapi Hurip menghentikan gadis tersebut. Hurip mencengkram kerah baju Alia mendekatkan wajah mereka berdua, menciptakan senyum tersipu dalam lelukan pipi yang mulus dengan wajah cantiknya.


"Bila kau ingin kembali padaku. Maka, temani diriku malam ini.." ujar Hurip semakin membuat Alia amat malu. Bahkan orang-orang sekitar mereka tampak kehilangan akal, bagi Alia ini biasa, tapi pertamakali Hurip menunjukan sifat aslinya dipublik menyebabkan keheranan luar biasa dari sosok satria.