Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
26



Suasana sekitar semakin mencekam, biarpun semua unit mengepung Hurip, Reza justru tidak yakin bila mereka mampu melewati bahaya tanpa kerusakan pada robot tempur. Bersamaan dengan para unit lagi melepas pembatas mereka, Hurip dikelilingi oleh sekumpulan asap biru yang memiliki ekspresi tangis.


"Mengerikan.. ternyata dia bisa mempermainkan jiwa seperti itu," gumam Reza menaiki salah satu KnightGear di dekatnya dan memberikan instruksi.


Unit L-007 KnightGear aktif, ditandai dengan mata robot bersinar biru. Dengan pilot Reza, yang memiliki status leader, dia memerintahkan pada prajurit yang mengelilingi Hurip untuk bersiap siaga melepaskan serangan proyektil kaliber bsar jarak jauh dari target.


Reza terus mengamati, dia tidak ingin salah langkah dan berhati-hati melawan musuh. Hurip seperti sedang memasukan jiwa-jiwa ke dalam bilah pedang ditangan, sembari menyeringai jahat, membuat Reza menelan ludah sewaktu sorot matanya menarget dia.


"Gunakan AI untuk membidik. Para pengguna senjata jarak dekat, jangan saling berdekatan, sisakan sedikitnya daya untuk kabur bila situasi menampak bahaya tinggi..!" Titah Reza menggerakan tangan kiri KnightGear menarik pedang raksasa dari punggung.


Reza menarik-narik napas berat sembari menyeka keringat sebelum berteriak, "tembak!"


ArctGear yang memegang senapan, proyektil peluru kendali memelesat sangat cepat dari segala arah membuat Hurip tidak bisa kabur. Dia mengentakkan kaki menciptakan dinding batu raksasa, berlapis dua baris, hingga rudal hanya menghancurkan satu lapis.


Unit ArctGear selayaknya seorang sniper, peralatan yang terpasang pada robot digunakan untuk membunuh dari jarak jauh. Bahkan suara saat robot berjalan tidak terdengar selama musuh tidak berada dekat dengan ArctGear, dengan jarak kurang empat meter, hal tersebut tidak berpengaruh kepada Hurip.


"ArctGear. Lepaskan senjata berat kalian, gunakan zirah transparan, lalu ganti tempat menembak.." kata Reza berkomunikasi dengan semua pilot ArctGear.


"Pak. Nampaknya target mengincar saya, saya akan menerjang maju dan meledakkan dir--"


"Bodoh! Cepatlah keluar memakai kursi lontar!" Titah Reza berteriak-teriak dalam kokpit. Pilot yang sebelum mengendarai KnightGear menghela napas.


Seperti apa katanya, melewati sensor panas, tampak Hurip mengangkat tangan dan melepaskan sihir tanah. Dia menciptakan batu besar runcing menarget salah satu ArctGear di lawan mukanya, dikarenakan pilot menuruti perintah atasan, tiba-tiba kepala robot hancur dan melontarkan kursi yang tengah diduduki.


Hurip melihat ke angkasa, terdapat orang berparasut mengincarnya dengan senapan di tangannya. Pada saat peluru terpelesat sangat cepat. Dia menghindari tembakan tersebut, hanya dengan menggeser kepala ke samping, membuat semua orang terkejut kecuali Reza sudah menebak peluru bukan tandingan Hurip.


"Mainmain kita usai," ujar Hurip mendadak berpindah tempat sekejap mata tanpa proses cahaya teleport menyelimuti tubuhnya terlebih dahulu buat dia kaget.


KnightGear yang dinaiki Reza langsung memberikan ayunan pedang, malah dengan mudah Hurip segera memukul KnightGear seolah-olah tanpa tenaga dan justru robot ini terpelanting belasan meter. Sehingga kerusakan pada bagian depan dada sangatlah besar.


Akibatnya seperti apa yang diinginkan Hurip, semua prajurit Reza kehilangan kontak dengan pemberi perintah. Hurip melihat ke salah satu robot pengguna tombak dan pedang, mereka cukup berdekatan, tapi masih bisa dibilang menjaga jarak satu sama lainnya membuat dia berdecak kesal dengan pikiran sendiri.


"Para ksatria di dunia ini pasti akan kebingungan, lalu mundur ketimbang maju atau berpasrah tanpa rencana melawan musuh. Aku akui kalian sangatlah hebat.." Hurip tersenyum kecil sembari menghampiri salah satu Spear-Gear yang mengendap-endap masuk ke jangkauan Hurip dengan zirah transparan.


Robot ini bersicepat menerjang berupaya menombak Hurip, sayangnya Hurip bereaksi cepat, dia merubah bentuk Candrasa menjadi perisai besar dan menahan tusukan tombak. Spear-Gear segera membuat mata tombak berputar menggerek berusaha melubangi perisai, tentunya Hurip segera mendorong lawannya.


"Ap--!"


Dia tidak menyangka, kokpit Spear-Gear terbuka dan pilot menembakkan peluru dari pistolnya mengenai kepala Hurip bertepatan saat palu dilemparkan oleh Hurip. Pilot ini langsung terkena hantaman alat pukul menghancurkan kepalanya. Sementara Hurip jatuh, ia menyentuh dahi, terdapat lubang pada kepalanya.


"Duh sakit banget. Tuh, kau kehilangan kepala sudah langsung mati. Lalu aku? Akan tumbuh lagi," ujar Hurip mencabut Candrasa dari mayat tanpa kepala.


Mata Hurip tertuju pada KnightGear, kegesitan pada saat melakukan serangan kejutan tidak sebanding sama dengan Spear-Gear. Namun, ketika Hurip menahan pedang besarnya, dia merasakan jikalau kekuatannya lebih besar. Sampai Hurip cukup kesulitan menahan tiap serangan yang terasa berat.


Dia memotong pedang KnightGear memakai pedang seolah-olah membelah sayuran, disaat robot hendak mengubah senjata, Hurip bergegas melompat dan menusuk dada KnightGear. Pilot berusaha menekan tombol pelontar kursi, tetapi ujung pedangnya Hurip menyembulkan api membakar seluruh ruang kendali.


"Kembalilah pada pangkuan tuhan," ujar Hurip dalam hati. Dia mencabut pedang dari KnightGear akibat ledakan yang tentu pilot tidak akan mampu selamat.


Hurip menengok belakang, Hurip berpindah secara instan lagi sehingga ArctGear menembakinya memakai rentetan peluru. Tindakan pilot menembak untuk mempertahankan dirinya, selagi pemimpin tim mencari cara, meski Hurip langsung mengakhirinya sekali ayunan pedang bagaikan membelah sayuran.


Begitu melihat ke sekeliling, terdapat banyak peluru kendali yang mengincarnya sehingga Hurip menciptakan portal perpindahan. Semua rudal tidak mengenainya, justru, portal terbuka lagi didekat pilot dan meledakan ruang kendali mereka bersamaan dengan robot yang dikendarai mereka ikut meledak.


"Azka.. bukan, maksudku Reza." Hurip menunjuk jari telunjuk pada Reza yang terluka sebelum mengatakan, "alangkah baiknya kau menyerah untuk menjajah duniaku dan pulanglah ke tempat asalmu."


"Kau tau apa ..." Reza melirih pelan berbisik kepada kesepian dan berteriak, "kau tahu apa tentangku?!"


Reza mendadak mengentak tanah berposisi rendah sembari menggeser pedang ke belakang sejajar dengan punggung. Dia menyimpan tangan kanannya pada tanah, saat tangan kiri menggenggam pedang, Reza terlihat serupa macan yang mengincar mangsa dari kejauhan dengan sorotmata tajam nan beringas.


Hurip menyeringai tipis, dia mengelukkan bagian dari tubuh belakang bersikap akan menyerang sesaat setelah Candrasa berubah wujud jadi sarung tangan tempur berbalut api biru dan angin tajam mengedari pergelangan tangannya. Dilatarbelakangi jerit-jeritan tangis dari jiwa penyesalan bersemayam pada bilah pedang Candrasa, memberikan rasa ngeri kematian.


"Datanglah, penjajah!" Teriak Hurip.


"Matilah, budak pemerintah!" Teriak Reza.


Dua-duanya terpelesat pada waktu bersama dengan kecepatan menyilaukan, dikarenakan bantuan dari sistem alat di matanya, Reza berhasil menebak arah serangan Hurip dan mengatasinya dengan menebas leher Hurip dimana tidak ada perlindungan. Biarpun kedua mata Reza kini buta karena melewati batasnya dia tetap mengayunkan senjatanya hingga titik akhir.


Hurip berhasil melancarkan pukulan pada bahu kiri Reza, alhasil tangan kirinya putus dan bagian tubuhnya yang diganti mesin terbakar. Sementara dia berhasil memenggal kepala Hurip. Sewaktu Reza kini lengah dan tersenyum, tiba-tiba tangan kiri Hurip, memukul Reza dari samping melantingkan jauh-jauh ia sampai mencapai atas dan menabrak penghalang.