
Ksatria emas selesai memberi belasan pertanyaan yang mampu membuat Hurip berkeringat. Ksatria, pahlawan terdahulu mendekat, dari segi kekuatan memang lebih unggul Hurip. Nyatanya mungkin saja Hurip akan kalah bila mereka bertarung sekarang ini, dalam tanda kutip, jikalau Candrasa tak dengannya.
Andaikata sesuatu hari, panggilan dunia menyerukan satu nama pahlawan yaitu diri mereka yang pantas menyandang gelar tersebut. Menerbitkan hari kala itu kehilangan segalanya, dengan dua bola mata hendak meledak, seperti semua berada pada genggaman di kedua tangan disusul tragedi menakutkan melambai.
"Tragedi kala... Itu menelan jiwa hamba, begitu pula, para pahlawan setelah diriku mereka melempar tanggung jawab pada hamba. Karena itulah hamba menjadi sangat kuat, bahkan dapat membunuh raja iblis, hamba kira akan disambut sorak-sorai. Namun ketakutan kepada hamba yang ..." Lisannya berhenti.
"Manusia takut terhadap hal yang tak dipahami oleh mereka, jadi, kupikir itu perkara wajar.." kata Hurip.
Usai mendapatkan pertanyaan, Hurip menarik napas sebelum memberikan jawaban sekaligus penjelasan tentang ketakutan. Mendapatkan kekuatan, ditakuti seluruh orang tidak dipedulikan Hurip mengingat bila semua sudah tahu alasan dia kuat. Soalan tersebut bisa memuaskan hasrat satria emas sekali jawaban.
"Soalan terakhir.." ksatria emas mengangkat kepala sebelum bercakap, "pilih antara kekasih dan dunia."
"Kekasih? Perempuan yang aku cintai." Hurip terdiam sesaat sebelum menjawab. Usai gerakan bibir tanpa suara dibaca oleh ksatria, ksatria emas mengangguk sembari membuat senyum kecil antara lekukan pipi.
Ksatria emas memberikan batu permata abu kepada Hurip secara gratis tanpa syarat apapun, sesudah itu mereka disuruh keluar secepat mungkin. Hurip cepat menghormat harapan ksatria. Mereka berbalik badan langsung menuju pintu keluar, ketika Alia mencapai jalan keluar, Hurip menoleh sedikit arah belakangnya.
"Istirahatlah.. nyawamu berada di tangan yang tepat, jangan menyesal," ujar Hurip menggenggam erat batu pada cengkraman tangannya. Dengan wajahnya yang menampilkan mimik kecemasan mendalam.
***
Memakai sihir perpindahan tempat mereka sampai di gerbang kota Bahadur, penjaga menyambut mempersilakan keduanya tanpa memeriksa. Meski Hurip sedikit tidak suka terhadap ini, pada dunia ini pasti memiliki sihir maupun cara meniru wajahnya, akan repot bila sesuatu mengatasnamakan dirinya.
Dalam perjalanan menuju kastil, para ksatria pribadi milik anak walikota memperhatikan gerak-gerik dari Alia membuat Hurip tidak nyaman. Entah berapakali kehadiran peristiwa semacam, hampir tidak teringat, Hurip sudah melewatinya semenjak bersama Liana.
"Bocah itu tidak tahu malu. Caramu untuk melindungi diri sendiri, pikirkan.." titah Hurip tanpa melihat lawan bicara sama sekali bahkan selirikan mata sekalipun.
"Maksud kamu?" Alia tersenyum masam, "aku sama sekali kagak ngerti maksud kata-kata kamu, loh."
"Sesampainya di kastil, jika kita terpisah maupun dia mengancam akan membunuh siapapun.. kuizinkan kau menghunus pedang. Yang tidak aku izinkan yaitu seseorang menyentuhmu. Camkan baik-baik kataku."
"Posesif banget.." Alia menyentuh tangkai pedangnya sebelum berkata, "tentu.. aku belum pernah disentuh sama siapapun loh. Karena mereka takut duluan tau."
Sesudah sampai di kastil. Alia tidak diizinkan untuk masuk sehingga mereka berpisah, selagi Hurip masuk untuk bertemu walikota dan Ria yang sedang menunggu kabar baik. Hurip kali ini menunggu para penjaga membuka pintu dan tidak main terobos, dia menjumpai Ria duduk dan minum dengan walikota.
Begitu sadar bahwa Hurip menghampiri, walikota ini tampak membuang muka enggan menatap secara langsung dengan mata Hurip. Tak mau berbasa-basi lama-lama, dia menaruh batu permata abu itu diatas meja buat Ria sedikit membelalakkan mata sebentar.
"Dimana rekanmu yang laki-laki?" Walikota bertanya sesudah meneguk teh yang masih mengepul.
"Dia musuh dibalik selimut," jawab Ria menggantikan Hurip yang tidak menjawab melainkan duduk di sofa tanpa mengindahkan kata-kata walikota dan meminta air kepada pelayan yang menghampirinya.
Selagi Hurip mengajukan kalimat untuk Ria, walikota semakin membuang muka membuat laki-laki yang lagi berlisan curiga. Pasal anak kesayangan maupun perihal lainnya. Hurip mengigit bibir, dia bertumpu ke dua kaki dan melangkah menuju pria paruh baya itu.
Begitu Hurip mengucapkan nama anak kesayangan walikota, walikota segera tertunduk dengan cukup banyak rasa bersalah dan gelisah seakan bertumpuk di tengah-tengah kepalanya. Setiap kali melihat dan menjumpai ayah yang bertanggung jawab perbuatan anak, lelaki ini senantiasa mempertanyakan anaknya.
"Hurip?" Ria melambai, "Hurip!' bentaknya Ria.
"Eh! Ada apa, Pak. Ria?" Sahut Hurip terjaga.
"Sudahlah. Berikan padaku batu itu," perintah atasan Ria menyodorkan telapak tangan memintanya.
Hurip diam sejenak semasih belum Ria menurunkan lengan. Dalam perkiraan Hurip. Militer takkan bisa mempertahankan markas, jika penjajah memerangi mereka dengan kekuatan penuh, bahkan bagi Hurip akan berat sbelah antara kedua belah pihak mereka.
Mereka duduk bersebelahan membicarakan tentang bagaimana mereka mampu mempertahankan batu, batu permata yang memiliki kekuatan ini. Walaupun Hurip tidak tahu fungsinya. Tetapi melihat bahwa dia memakai artefak, hingga membuat beberapa sihir dalam jangkauannya tidak mampu aktif dan imbang melawan kekuatan Candrasa pada waktu itu, dapat mungkin tak dapat dipungkiri lagi menginginkannya.
"Aku tidak bisa membiarkan musuh kita tambah kuat, maka dari itu, lebih baik kalian sebutkan tujuan dari permata ini.." usul Hurip setelah menghela napasnya.
"Untuk meningkatkan kemampuan pedang prajurit di medan perang, begitu kata peneliti," cakap Ria yang tampak berat saat melontarkan kata-kata tersebut.
Hurip merasa bila tindakan itu cukup bodoh, musuh tidak memakai pedang, melainkan sebuah robot yang banyak orang mengira itu sebuah Golem yang dikendalikan. Nyatanya tidak ada inti. Memang benar kelemahan berada di dada, tetapi Hurip mengetahui inti bukan kristal sihir melainkan manusia bernyawa.
"Alat tempur berisikan manusia, apalagi saat mereka tahu robot akan meledak bisa keluar dan memakai senapan.." Hurip berdecak sebelum berkata, "kalian belum pernah paham apa yang aku katakan, bukan?"
"Maafkan aku.. tapi ini perintah para raja," kata Ria.
"Kuharap pemimpin semua negara waras. Mereka itu hanya tua bangka yang menikmati kekayaan," cakap Hurip hadapan Ria yang sedang tersenyum masam.
Hurip menyudahi percakapan mereka, lalu berjalan keluar menemui Alia yang sedang menginjak-injak kepala seorang pria. Dapat menebak apa yang telah terjadi, sikap Hurip biasa saja sambil menggandeng Alia keluar selagi ditonton para ksatria penjaga mengabaikan tuan yang seharusnya mereka lindungi.
"Seenggaknya biarin aku hancurin kepalanya dahulu sebelum kamu tarik.." ujar Alia memelas menatap muka Hurip yang lagi memperhatikan pintu depan.
Alia yang sadar Hurip seolah-olah keheranan bertanya, "ada apa?"
"Seperti dugaan. Pasti mereka takkan mampu untuk menjaga batu permata abu ini," lirih Hurip menatap pintu gerbang berpandangan beringas bagai hewan buas yang menatap mangsa empuk dari kejauhan.
Gerbang terbuka perlahan-lahan selagi Hurip beserta Alia mendekati jalan keluar. Justru disambut hal-hal mengagetkan, bahkan bagi Hurip yang sudah tahu, ia juga agak terkesiap. Seorang penjajah sedang berada di hadapan mereka bersama senyum angkuh melekat pada muka, seperti akan, buat nafsu Hurip menghilang begitu saja seusai menemui mulanya ini.