
Dahulu kala, perang besar yang melibatkan seluruh mahkluk hidup menewaskan berjuta-juta kehidupan akibat ulah seorang manusia. Jiwa-jiwa prajurit melayang ketika penguasa alam kematian mengabdi pada tuannya, lalu mengabaikan beribu-ribu jiwa yang tidak sanggup diatasi oleh semua bawahannya.
Tuan penguasa kematian memiliki seorang anak laki-laki. Dia haus akan kekuatan, haus akan kekuasaan, dan berupaya untuk memiliki keserakah yang setara atau melebihi ayahnya. Bagi dirinya yang mempunyai koneksi dengan bawahan penguasa kematian, dapat menggenggam banyak jiwa tidaklah sulit dilakukan.
"Akan ada satu keturunanku yang memiliki arti hidup beserta nyawa dalam namanya, dia menghamili dua gadis dan salah satu diantara anaknya akan menjadi diriku.." ucap seorang pria memakai mahkota merah.
"... Tidak, Anda kenapa ingin kabur?"
"Hei Kematian!" Lelaki ini menengok, "serakah bukan hal buruk selama melihat dari sudut pandang lain."
Ditengah-tengah pertempuran yang membunuh dan nyaris membuat kepunahan salah satu pemicu dari peperangan ini mengakhiri hidupnya. Hingga perihal tersebut menghentikan perang, kala itu, orang-orang belajar dan paham setelah mendapat konsekuensi.
Mereka mengakhiri akar segala-galanya, menutup di atas pintu masuk pengakhiran yang dilihat olehnya dan oleh kematian bersama waktu. Benang-benang yang terurai mulai bersatu, menjadi sebuah tali hidup mengayun-ayunkan kehidupan, dengan keadilan berbaju keserakahan dan kejahatan-jahatan raja itu.
"Siapa yang jahat, siapa yang baik, bila yang engkau katakan benar.." penguasa kematian yang tengah memudar tersenyum, "kan diriku nantikan harapan."
Justru masa sekarang usai beratus tahun melewati peradaban manusia, mereka mengulangi bahkan memperburuk kondisi dimana hanya mendapatkan keburukan tanpa keuntungan. Sehingga lambat-laun mahkluk yang mengandalkan akal, berubah menjadi ketergantungan terhadap hal-hal tidak pernah abadi.
Anak itu belum menguasai teknik pengendalian jiwa sepenuhnya dari ayahnya, sekarang menggunakan pengetahuan setengah matang menghasilkan jutaan kekuatan yang melimpah bagai banjir. Pedang yang tergantung di pinggangnya melekat banyak jiwa-jiwa, mengubah mereka menjadi energi sihir amat besar.
"Itulah asal usul Candrasa," ucap penguasa kematian.
"Eh?"
"Kekuatanmu memang besar. Hanya saja.. meskipun begitu, bukan musuh yang musti kau takutkan, melainkan masa depan tak pasti," ucap melanjutkan.
Hurip berupaya bangkit menopang diri dengan lelah menusuk luar dalam. Dia melihat ke angkasa bila Reza tertampak menyeringai dibalik kokpit, kaca itu terlihat tipis dan mampu membuat Hurip melihat isi robot tempur itu. Biarpun begitu dia hanya mendapat tombol-tombol serta benda-benda rumit lainnya.
Yang dia pikirkan kali ini bukan soal Reza, ternyata ia memanggil penguasa kematian untuk mendapatkan kekuatan sementara. Penguasa tak kembali kepada alam kematian, melainkan berpindah tempat menuju depan Reza bersama ditengah pasukan-pasukannya.
"Apa yang kau tawarkan? Kan aku abaikan mengapa alasanmu dapat memanggilku, bukan bawahanku."
"Jantung."
"Hanya milikmu? Itu tidak..."
"Ada tiga ratus empat puluh empat jantung yang aku tawarkan pada penguasa kematian," cakapnya Reza.
Penguasa kematian menghela napas semasih belum Hurip tiba-tiba terlilit suatu tali yang mencekiknya dan mengurangi umurnya. Tiap dunia memiliki satu setidaknya sebagai penguasa dan pengatur, entah itu kematian maupun kehidupan. Sehingga penguasa kematian dunia ini hanya dapat suatu hal yang didapat olehnya, benda berwujud yang diketahuinya.
Hurip terus diserap habis umurnya hingga titik batas sesuai tawaran dari Reza, menyisakan secuil waktu yang dimilikinya, yaitu empat hari. Spontan selepas seseorang diambil umur kehidupannya, maka dirinya akan tidak sadarkan diri selama sehari maupun dua.
"Huh?"
Penguasa kematian termenung memelototi telapak tangan melihat titik-titik merah yang bersinar, dia terdiam sejenak dan melirik kepada orang yang telah menawarkan imbalan. Dia mendekati Reza sebelum membuka mulut, matanya terpejam selama hitungan detik dan sabit merah berlumur cairan putih muncul.
Reza terdiam ketakutan melihat sabit itu, hingga saat bermenit-menit berlalu, penguasa yang bosan mulai mempertanyakan banyak hal dan memerintahkannya untuk menyebutkan nama. Biarpun gelisah setengah mati, ia tetap memuaskan dia memakai jawabannya.
Sontak usai mendengar jawaban, penguasa tertawa terbahak-bahak sembari meredup lenyap perlahan-lahan dan selepas beberapa saat dia berhenti untuk mengeluarkan tawa. Lalu menghilangkan sabit dan aura mengerikan yang membuatnya takut dan mual.
"Yang aku ambil, ada lima puluh satu jantung."
"Memang ada laporan yang sala.."
"Asal kuberitahu, Hurip biadab memang mati, tetapi dia memiliki anak yang meneruskan tugasnya. Tentu, kau musti mengembalikan prasasti setelah melihat dan mempelajari kata-katanya.." bisik penguasa kematian sebelum benar lenyap kembali ke asalnya.
Reza memerintahkan untuk kembali seraya pandang mata yang dimiliki kosong. Bisingnya suara mesin dan peralatan, robot-robot terbang serta berlari pergi setelah target mereka tidak sadarkan diri. Sontak alia brlari menemui Hurip, berupaya membangunkannya.
Dua hari berlalu dengan cepat, diakibatkan Hurip tak kunjung bangun Alia tidak berani pindah tempat dan mendirikan tenda. Mata Hurip terbuka, menjumpai Alia dan Ria tersenyum menyambut dirinya yang baru siuman sesudah tidur panjang selama dua hari lebih.
"Akan ku jelaskan semua pada Alia, sebaiknya kamu keluar, Ria.." titah Hurip.
"Baiklah." Ria keluar biarpun dia kelihatan enggan tuk meninggalkan Hurip, atau keponakannya ini.
Selagi itu Alia yang duduk disampingnya Hurip, kini sedang merona merah mendapati dia dipeluk oleh pujaan hatinya. Tetapi usai beberapa menit berlalu Alia sontak menjauh, dia sadar sedari tadi Hurip lagi menyalurkan energi sihir pada dirinya buat dia heran.
"Aku memakai sihir untuk menyimpan kesadaranku di energi sihirmu.."
"Eh?"
"Ambilah kekayaan yang kumiliki, lindungi Candrasa, usahakan tetap cari anakku, lalu.. biarpun aku yakin dia masih hidup.." Hurip dengan mata kosong diam.
"Enggak. Aku nggak mau!"
"Maukah kamu menjadi ibu untuk adik anakku?' tanya Hurip menatap mata Alia dengan penglihatan yang sudah buta akibat melepaskan semua energi sihirnya kehilangan kontrak dengan panggilan dan jiwa-jiwa.
Alia tidak berkata-kata, air mata yang mengalir dari pelupuk mata sudah berlisan seperti yang diinginkan oleh Hurip. Gadis ini mendekat dan mengangguk usai menamparnya sekencang-kencangnya, bahkan Ria yang diluar sekalipun paham dan menjauh pergi.
***
"Ayaaah!"
Teriakan menggema di hutan, bercak-bercak darah melumuri pedang yang dipegang olehnya. Seorang pria keluar dari semak-semak. Dia menemukan bocah laki-laki, berambut hitam bermata perak lagi menangis dan mengatakan "ayah" berulang-ulang seakan lagi ketakutan berusaha memanggil ayahnya.
Pria berkacamata langsung memeluk bocah laki-laki berupaya menenangkan anak dalam rangkulan dua tangannya. Tidak lama kemudian anak lelaki tenang dan balik mendekap lelaki yang dipanggilnya dengan sebutan ayah, usai beberapa menit, dengan saling bergandengan tangan mereka berjalan keluar hutan.
"Biarpun kamu bukan anak kandung kami, kami tetap menyayangi dirimu layaknya seorang anak kandung dan itu berlaku selamanya!" Ujar ayahnya tersenyum.
"Hmm.." anak ini mengangguk pelan. Dia memegang erat tangan hangat pria ini, seraya berharap jikalau ayah yang tidak berada disisi dirinya meninggal dan dia tidak berharap menemukan orang-tua menjijikan yng bahkan tidak mencari keberadaannya sekalipun.
...Tamat..!...