
Alia melihat ke sisinya terdapat Azka sedang ikut tertegun memperoleh pemandangan yang menampilkan pertunjukan hebat. Mereka berdua turun begitu suara meledak-ledak terhenti, begitu sampai dekat lokasi Hurip dan mendapati banyak mayat monster yang bertebaran dimana-mana.
Hurip bangun langsung menjumpai kedua rekannya sedang menggoyangkan tubuhnya membuat dia bangun, usai terlelap dalam tidur. Laki-laki ini berdiri sembari terhuyung-huyung, wajah bermuram sedikit melekat amarah membingungkan mereka, sebabnya kini suasana disekitar Hurip cukup mencekam.
"Ada apa? Kalian menatap wajahku begitu!" Tanyanya Hurip keheranan melihat reaksi mereka.
Tanpa menghadap muka rekannya kembali, Hurip memberi isyarat agar mereka mengikuti langkahnya dan mereka melanjutkan perjalanan. Tiap monster menghadang Hurip selalu mengayunkan pedang, dia menghancurkan segalanya dalam radius tiga meter, bersamaan dengan musuh-musuh di dalamnya.
Berbeda dengan monster lain, yang menyerang bersama kawanan atau berkelompok Hurip meminta mereka untuk menghunuskan senjata. Selagi dirinya mengganti perlengkapan, karena dia memelesatkan diri cepat, alhasil bajunya tercabik-cabik karena dari tekanan selama dia bergerak melebihi cepat cahaya.
"Bajunya sobek-sobek. Sekuat apa bahan dari baju yang dikenakan olehnya?" Gumam Azka melihat Hurip tengah mengganti pakaian dengan santainya.
Sontak secara mendadak seekor monster langsung tercabik-cabik ketika Hurip menatapnya, begitu pula angin kencang tajam berdatangan, mencabik-cabik monster tingkat rendah dan menghadiahkan mereka luka cakaran binatang. Serempak ketika Hurip akan menatap mereka, monster mati secara mendadak.
Hurip menggunakan sihir tekanan, umumnya cara penggunaan sihir ini untuk melemahkan korban dengan membuatnya tertekan. Tetapi karena Hurip mengubah cara kerjanya, sihir ini bukan menekan lawan secara mental, melainkan fisik dan bagaikan ular yang mencekik mangsanya dalam lilitan.
Sihir akan memaksa lawan untuk menghancurkan tubuhnya sendiri, tanpa bantuan siapapun, ketika Hurip menatapnya mau tak mau lawan musti harus bisa memberikan kepuasan kepada pengguna. Dia pun memiliki julukan mata pembunuh karena hal ini.
"Aku pernah denger, kalo pahlawan Hurip bakalan serius kalau udah males ngebunuh lawannya pakai pedang.." ujar Alia berkata dengan nada merendah.
"Nggak, malahan bukan serius lagi. Dia tadi murka jika elu kagak pingsan.." jawabnya.
"Ha?!" Alia menanggapi perkataan Azka tidak tanpa membuang muka pada lawan bicara. Dia melihat bahwa Hurip sedikit berbeda ketika mereka berpisah sehingga Alia dan Azka bertanya-tanya, mengapa dia menjadi seperti itu secara tiba-tiba tidak beralasan.
Alia melindungi Hurip sewaktu dia tengah melamun, begitu pula Azka memukul mundur para monster, meskipun mereka tau bahwa segerombolan mahkluk tersebut bisa datang kembali kapan saja. Dia melihat keadaan Hurip yang tengah berekspresi jengkel, saat Alia berniat akan memeluknya, Hurip menepis lengan Alia menolak dekapan maupun semua kepedulian.
"Sialan!" Bentak Hurip menggerakkan pedangnya menghancurkan sekelilingnya. Bertepatan dengan angin-angin kencang membunuh semua monster di kota, merambah lenyap seluruh monster pemakan manusia, sementara para robot mundur begitu Hurip memancarkan aura ngeri mengedari sekelilingnya.
"Jadi begini, ksatria Hurip yang senantiasa menjaga kedamaian dunia?" Ucap seseorang keluar dari balik kegelapan. Dalam langkahnya Hurip melihat sebuah pedang tipis yang membuat Hurip geram tidak main.
LEPASKAN TANGANMU DARI PEDANG KEKASIHKU!
Adu pedang terjadi, yang berada di penglihatan Alia hanya sekelebat cahaya sewaktu mereka bertarung, saking cepatnya membuat mata manusia tidak mampu untuk mengikutinya. Sementara Azka dapat melihat pergerakan Hurip, setelah memperlambat dengan alat di matanya Azka bisa melihat kengerian.
Dikarenakan alatnya mulai mengepul uap keluar dari mata kanan, Azka menghentikan program dan menutup mata. Dia langsung menjumpa persis sama tontonan yang dilihat Alia. Pada momen tertentu, Hurip terlihat bicara dengan mereka, namun sebab mereka hanya melihat mulutnya bergerak sembari ia menatap mereka, keduanya tak memahami maksud.
"Segalanya memiliki batas. Bahkan bagian mesin di tubuhku ini mempunyai batas pemakaian, apakah Hurip tidak memiliki kata itu di hidupnya?" Batinnya terkagum-kagum memperoleh pemandangan ini.
Tiba-tiba saja cahaya merah tampak terpelesat kencang menabrak salah satu bangunan. Azka serta Alia pula langsung tahu, mereka bersicepat datang dan menemukan Hurip sedang bangkit. Bertepatan luka-luka pada berada di tumbuhnya sembuh, ketika dia bertumpu pada kedua kakinya dan menentang
"Akan aku habisi kau," ucap Hurip. Seketika laki-laki ini terpelesat dalam kegelapan dan memenggal kepala lawan dengan satu ayunan, tetapi serangan yang dilakukan justru membalik kepada pengguna.
"Ugh!"
"Masih terlambat dua ratus empat puluh lima triliun tahun untuk Anda menyamai saya.." ucapnya.
Sewaktu Hurip mundur ke belakang, dia menyimpan pedang pada sarung, sembari berkuda-kuda rendah dan tiba-tiba bilah Candrasa bercahaya. Waktu Hurip menyadari jikalau lawan takkan menyerang, dia tahu bila lawan memiliki sebuah sihir peniru serangan.
Sihir ini mampu membuat pengguna meniru gerakan lawan, meskipun tergantung yang dihadapi oleh pengguna harus dibawahnya dalam segi dan aspek kekuatan maupun kapasitas sihir. Kali ini Hurip tahu bila pria yang dilawannya sekarang memodifikasi sihir peniru, dimana dia tak pandang bulu, mau lawan lebih kuat atau lemah selama dia dapat meniru.
Pada momentum tepat, dia akan mendapatkan celah dan bisa menyerang lawan, stamina yang dimiliki oleh pria ini diluar nalar. Berlainan dengan Hurip yang mampu mengembalikan stamina, energi, umur, dan darah yang habis dalam waktu singkat.
"Jika aku bisa mengembalikan semua staminaku dalam waktu 10 detik, maka dia bisa mengembalikan semua stamina dalam tubuhnya dalam jangka waktu 1 detik.." batin Hurip.
"Apakah Anda tuli? Bukan 'kah saya sudah bilang, bila Anda tidak akan..."
"Diam! Kali ini aku akan menggunakan teknik yang akan menghabisimu, meski aku membenci teknik ini karena takkan memberikanmu rasa sakit!" Teriaknya menyela perkataan pria misterius di hadapan.
"Wah, apakah kata-kata Anda bisa dibuktikan?" Tanya pria ini menampilkan senyum merendahkan lawan.
Tiba-tiba daratan tempat berpijak berguncang ketika Hurip menggerakkan sedikit pedangnya, semua luka yang diderita sembuh dalam sekejap mata, muncul sebuah jam yang besar di belakang Hurip. Jarum jam tersebut berputar berkebalikan dari seharusnya.
"Memang benar, tampaknya saya akan terluka, tapi apakah Anda juga tidak akan?" Senyum ramah melekat pada wajah pria berjubah ini terlihat jelas.
"Apa? Yang benar saja!" Teriak Hurip. Hurip tidaklah kaget karena dia mampu meniru, melainkan waktu menjadi dua, yang mengakibatkan retakan di udara dan membuka pintu ke dunia yang berbeda.
"Jangan-jangan dia yang mengakibatkan manusia-manusia dunia lain itu datang ke tempat dunia kita ini," ujarnya Alia membuat lelaki di samping dirinya berkeringat dingin.
Mendadak pedang mereka lenyap menghilang. Saat keduanya bersamaan memukul jam di belakang, diwaktu itulah seluruh dunia kehilangan warna dan bertukar menjadi dua warna. Seakan-akan dunia ini memiliki dua sisi yang terus saling bertentangan.
Ketika hendak Hurip menyerang, pria tersebut telah menusuknya tanpa disadari oleh makhluk hidup apapun. Hurip kehilangan nyawanya sekali tusukan yang diberikan, namun Hurip menendang lawannya hingga terpental, meskipun kakinya terpotong.
"Memang patut nan layak Anda menjadi pengguna Candrasa, walau kekurangannya hanya pengalaman saja.." ujarnya mengentakkan pedang lebih dalam
Azka memelesatkan diri, dia memukul pria tersebut ketika lengah dan berhasil melukainya. Sementara Alia mengecek keadaan Hurip, selagi Azka berusaha untuk menahan selama mungkin meski dia hanya dijadikan sarung tinju sembari berharap Alia mampu membawa Hirup pergi walau sangat sulit kabur.