Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
12



"Liana.." lirih Hurip menonton seorang gadis tengah mengayunkan pedang. Darah mengalir dari bilah senjata di tangannya itu membuat Hurip langsung memburu napasnya, lalu menerjang gadis tersebut.


Hurip menendang Liana hingga terpental keluar dari rumah melewati jendela. Selagi laki-laki ini merintih menangis terisak-isak, dia memegang seonggok mayat, dengan pupil mata bergetar hebat waktu dia bangkit dan keluar dari rumahnya.


Bersicepat dia menemukan Liana, yang berlumuran darah segar mencicik dari dahinya. Hurip menarik senjatanya menghadap perempuan ini. Begitu pula Liana bersikap selayaknya pendekar pedang, waktu Hurip memelesatkan dirinya dan mencapai gadis ini dia tidak menebaskan pedang, namun menangkap.


"Bunuh aku.."


"Eh?" Hurip yang terkena tusukan hanya menganga selagi dia memeluk Liana. Lekas Hurip mendorong tubuh Liana, kemudian mencabut pedang, dirinya menusuk balik perempuan yang telah menusuknya barusan. Hurip pun bersicepat menemuinya sambil memberikan sihir penyembuhan seraya menangis.


"Hurip nggak bisa! Kenapa? Kenapa penyembuhan tidak bekerja?" Kata Hurip memperbesar cakupan sihir penyembuhan ke sekujur kekasihnya tersebut.


"Maaf.. telah membunuh.. keluarga.. kamu.." ujarnya terbata-bata. Selagi waktunya tengah menghitung mundur, Hurip berteriak, dia memaksimalkan semua sihir penyembuhan pada satu titik seketika napasnya berhenti membuat Hurip sesak napas memperoleh kedua tangan berlumuran darah kekasihnya sendiri.


"Mengapa aku mengingat itu kembali? Nyatanya, aku merasa mempunyai kekasih itu mengerikan. Lebih baik aku menikah saja," batin Hurip menghela napas.


Mereka tidak terlebih mendahulukan kepentingan tugas dan lebih memilih beristirahat. Di dalam tenda yang didirikan oleh Alia, mereka berdua membahas mengenai rencana Hurip, ternyata ketua mereka tak mempunyai sekelumit cerita tentang rencananya.


"Yang bener aja," Alia bergumam dalam hati. Dirinya tampak kebingungan sembari menyentuh keningnya.


"He, nih makanan enak juga. Gimana lu bikinnya? Gw dulu bikin kayak beginian langsung gosong," katanya Azka sambil melahap makanan yang dibawa Hurip.


Azka menelan makanan sebelum dia mengambil peta. Dia menyimpan kertas itu dekat Hurip, keduanya memulai membicarakan cara untuk masuk tanpa ketahuan. Hurip mendengarkan rencana Azka yang berawal dari merebut bangunan tempat ksatria.


Lebih tepatnya Hurip merasa bila dia merencanakan untuk mereka memasuki bekas bangunan ksatria tinggal, lalu dengan menggunakan peralatan beserta pedang-pedang yang ditinggalkan, Hurip memanggil para raksasa kecil seukuran manusia dan membuat mereka jadi prajurit yang seakan-kan tengah menjadi pasukan perebut kota sebagai pengalihan.


"Kemudian kita menerobos masuk disaat manusia dunia lain itu sibuk mengurus golem?" Alia mengajukan pertanyaan kepada mereka berdua.


"Kita berpencar aja, gue dan Alia bakalan buat golem batu yang dijadikan sebagai umpan. Selagi itu elu menerobos ke markas musuh, kami bakalan nyusul kalo udah selesai.." ujar Azka mengusulkan rencana.


"Ya baiklah. Tapi sebelum itu, mengapa cara bicara elu agak berubah?" Tanya Hurip menghela napas. Dia menatap muka laki-laki di hadapannya dan dibalas dengan helaan napas beserta tamparan keras Azka.


"Tidak, kau masih biasa saja seperti biasa.." gumam Hurip mendapatkan pukulan dari telapak tangannya.


"Kagak. Kalian berdua aneh sejak itu," batin Alia. Dia menyingkapkan tirai melihat keadaan diluar tenda masih dipenuhi monster yang berupaya menembus dan melewati ke dalam pelindung buatannya Hurip.


Setengah jam kemudian terlewat, ketiganya keluar dari tenda, menjumpai sekeliling mereka sudah penuh akan monster. Alia mengambil botol berisi cairan biru muda dari Hurip, tampak ketenangan kini tertampil di muka walau mereka tengah terkepung oleh sekumpulan monster sekitaran mereka.


Hurip menghela napas dan menancapkan pedang ke dalam tanah, tiba-tiba saja, pelindung pecah bertepatan ketika ujung pedangnya menyembul-nyembulkan petir dan menghancurkn area sekeliling bersamaan dengan para monster yang terpanggang.


Seusai Alia dan Azka mendapatkan botol pengisi energi sihir, mereka bertiga berpencar menuju bagian masing-masing. Mereka berusaha untuk tidak bertarung dan memilih kabur, ketimbang nanti, akan terdapat musuh merepotkan mendatangi mereka.


Pedang milik Hurip memancarkan cahaya. Selagi menunggu kabar, Hurip membasmi monster sekitar meskipun tidak menjumpai robot sepanjang jalan, dia tetap tidak mengalihkan kewaspadaannya dan belum pernah sekalipun bosan melihat selingkungan.


Puluhan monster bisa dikalahkannya dalam waktu singkat, meskipun Hurip merasa sudah membasmi keseluruhan dari monster yang ada, dia merasakan kehadiran sesosok mahluk. Dalam langkahnya berjalan menyusuri jalanan kota mati, dia mendapat perasaan tidak enak dan semakin waspada.


Tiba-tiba suara ledakan didengar Hurip, begitu dia melihat ke sumber bunyi meledak-ledak terdapat pasukan ksatria. Meskipun dia mengetahui jikalau itu golem batu yang dipakaikan zirah dan pedang, Hurip sejenak terlihat kebingungan sebelum mengingat.


"Saatnya aku bergegas," ucap Hurip menggerakkan kakinya berniat untuk sampai ke tujuannya.


Mendadak langkahnya terhenti ketika dia menjumpai seekor monster serupa sebelumnya, kalau ia tadi cuma berkeringat memperoleh monster sebelumnya, kali ini Hurip tampak gemetar ketakutan. Pada waktu ini dia berusaha untuk menentang mahkluk itu, walau telah berusaha, Hurip tidak mampu melakukannya.


Dari balik kabut tebal, muncullah seekor mahkluk merah mengerikan. Perawakannya lebih menyerupai robot musuhnya, tapi pada sisi lain, terdapat daging-daging yang berdenyut-denyut layaknya jantung dan menandakan itu seekor mahkluk hidup bukan mesin.


PERGILAAAHH!


Jeritannya selaku memanggil dunia balik berteriak menyahut seruan darinya. Bertepatan ketika pekikan Hurip mencapai seluruh kota, ditempat itu sekarang seolah-olah bertukar waktu menjadi malam. Hingga kemalaman sunyi senyap melatarbelakangi sekitar.


Pada gelap gulita, setitik cahaya merah tertampak, diikuti suara decitan beserta jeritan seseorang bertumbukan dengan tanah retak dan menciptakan hitungan jurang serta kawah. Hurip menarik pedang dengan kecepatan menyilaukan mengikuti lintasan benang merah, dia mendekati musuh sekali gerakan.


"Aaarrrggghh!"


Hurip mendaratkan pukulan dengan keras, seluruh tubuh monster langsung tercabik-cabik begitu dia terpental dan menghantam sebuah bangunan kokoh yang belum hancur. Kali ini Hurip menginjak tanah sekuat-kuatnya sampai titik mata kakinya berdarah.


"Mengapa aku harus melihatmu lagi setelah nyaris saja aku melupakan semuanya!" Teriak Hurip.


Bunyi dari tulang patah sangat jelas terdengar, tetapi Hurip mengabaikan hal tersebut dan memekik keras sembari menyentak pedang. Dikarenakan pijakan baginya hancur Hurip menciptakan kristal di bawah kaki, lalu terpelesat dengan keakasan yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, pikir Azka melihatnya.


Hurip selepas sampai di hadapan lawan, sekarang dia menumbuk monster hingga mengangkasa jauh selagi Hurip menusukan Candrasa pada dirinya sendiri. Membutuhkan waktu singkat sewaktu tiba-tiba tubuhnya membesar begitu pula ototnya.


"Apa yang akan dilakukannya?" Gumam Azka melihat Hurip dari kejauhan tampak seperti sangat murka.


Seluruh badannya mendadak spontan membesar diikuti darah keluar dari mata dan hidung, serempak itu semua tidak kalah hebat semasa Azka sadar jikalau Hurip memutarbalikkan cara waktu bekerja menciptakan seluruh benda sekitar terkikis-kikis dan tampak Hurip berusaha menahan rasa sakit.


Alia membuka matanya, menjumpai cahaya merah melesat di kegelapan malam menuju angkasa, kilatan itu menghancurkan raksasa yang tengah lagi melayang dalam sekali sentuh. Sesudah hantaman itu awan-awan berarak ditiup dampak serangan dari kilatan merah kehitam-hitaman tersebut.


"Yang benar saja. Ini layak disebut kekuatan entitas yang menguasai segalanya!" Batin Azka jadi saksi kekuatannya sewaktu dia terjatuh pada kedalaman dari lautan merah penuh kemurkaan.


Kota sepenuhnya diterangi cahaya kembali beserta kabut yang memenuhi lingkungan musnah, bertepatan dengan Hurip terjatuh dari ketinggian itu dan meluluhlantakkan tempatnya mendarat. Hingga Azka langsung mengecek keadaan nyawa ketuanya.