Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
39



Pemukiman yang dihuni dekat perbatasan kota Loka dengan wilayah lain memang tidak memiliki data lengkap mengenai penduduknya, disebabkan karena penguasa bingung mengatasnamakan wilayah itu sebagai milik siapa dan mengambil keputusan untuk melantarkan pemukiman itu. Biarpun bebas Hurip cukup gelisah jika terjadi suatu takkan ada bantuan.


"Masih jauh?" Hurip menengok ke Alia.


"Kayaknya.." Alia memiringkan kepala, "sebentar lagi kita sampai, deh."


Seusai berjalan beberapa menit, mulai penampakan desa yang agak kumuh mulai terlihat. Tiba-tiba saja Hurip terdiam sejenak. Dia menggunakan sihir untuk mengenali setiap energi sihir tiap orang, anehnya dia melihat banyak struktur energi sihir yang mirip dengannya dan Liana, memunculkan secuil harapan.


Hurip dan Alia bergegas memasuki desa, menemui pemimpin meminta mengumpulkan beberapa anak yang memiliki kemiripan. Hampir semua orang bisa mengenali tiap energi sihir seseorang, dari warna hingga cara sihir tersebut mengalir ke seluruh tubuh, mirip sebagaimana darah dalam tubuh manusia.


"T-Tapi.. yang melahirkan anak ini..." ujar seorang ibu memeluk erat anak di hadapan Hurip.


Melihat ketakutan Hurip akan mengambil anaknya hanya karena memiliki kemiripan, buat lelaki ini agak merasai rasa bersalah. Hurip yakin jikalau anak ini anak kandungnya, namun ibunya pula memiliki sihir yang sama dan ketika sihir baik dari Hurip maupun wanita ini saling menaut satu sama lain selayaknya keluarga yang memiliki struktur sihir yang sama.


Hurip menghela napas menggelengkan kepala buat wanita ini bernapas lega. Pada saat yang sama mendadak dentuman keras terdengar, spontan Hurip melihat ke sumber suara dan menjumpai beberapa robot lagi memasuki pemukiman. Lantas saja para warga berhamburan keluar dari rumah melarikan diri.


"Kenapa kalian muncul saat suasana hatiku sedang memburuk?!" Hurip berlari menuju para robot.


Dia menghunuskan Candrasa yang sudah terbungkus api putih menyebar hingga pergelangan, ketika dua KnightGear menghadangnya, Hurip cepat melompat dan menusuk dada salah satu robot. Dalam hitungan detik jeritan kesakitan terdengar dari dalam robot itu.


Hirup mencabut senjatanya, lalu menendang robot tersebut hingga terpental agak jauh dan tanpa musti menunggu lama dari sela-sela tubuh KnightGear mengeluarkan api putih disusul rongsokan meledak menyebarkan serpihan-serpihan kecil besi. Tidak lama salah satu KnightGear lain menyerang Hurip.


Helaan napas keluar dari mulut Hurip, ia melirik pada KnightGear sedang berlari mendekati dirinya dan bergegas mengayunkan pedangnya. Dengan ringan Hurip menahan pedang raksasa itu menggunakan satu tangan, dia meruakan api putih merambat ke seluruh KnightGear hingga meleleh saking panasnya.


"Kamu tambah hebat aja. Jadi bingung, aku sekarang ngelakuin apaan?" Alia mendekat menatap robot-robot yang perlahan lagi mendekati mereka berdua.


"Evakuasi," jawab Hurip.


"Itu aja?" Alia memiringkan kepala, "kamu kayaknya udah kuat banget sampai bisa ngelawan itu semua."


"Diriku sok-sokan menentang kumpulan jiwa. Namun nanti, akan ada waktu mereka menggerogoti diriku dan membunuhku," jawabnya Hurip tanpa menengok.


Tanpa melontarkan pertanyaan lagi Alia bergegas untuk mengevakuasi orang-orang selagi Hurip melawan mereka. Hurip memegang erat pedangan Candrasa sembari melangkah, dia melihat musuh unggul dalam jumlah menerka-nerka kalau serangan ini agak aneh mengerahkan banyak prajurit hanya untuk merebut atau menyerang sebuah pemukiman.


ArctGear mengangkat senapan membidik beberapa rumah selagi KnightGear menyentak pedang sambil berlari menghampiri Hurip. Api bermunculan mengitari pengguna sihir, kemudian bilah Candrasa menyerap seluruh panas yang bersumber dari api itu dan Hurip berjalan pelan selagi mereka mendekat.


"Mengapa mereka menghancurkan beberapa rumah di tempat ini?" Hurip membatin.


Robot lain berdatangan menerjang maju memasuki jangkauan Hurip, Hurip menyeringai tipis sembari menjentikkan jari. Sekejap mata semua robot yang maju remuk berkeping-keping seketika menjadi kecil, biarpun begitu Hurip melihat DyntalGear sama sekali tidak berpengaruh terhadap sihir miliknya tersebut.


"Sihir ini mampu meremukkan benda apapun tanpa terkecuali, mengapa benda itu..." Hurip terdiam sejenak, "dari bahan yang sama seperti Candrasa?"


Robot putih bermata merah terang menembakkan rentetan peluru kendali yang menarget Hurip, benda itu dihancurkan sihir bilah angin sebelum mencapai target. Hurip membalik tangkai senjata sebelum dia terpelesat bagai kilat, dan mengayunkan pedangnya mengarah pada tengah-tengah kokpit DyntalGear itu.


Ketika ujung Candrasa menyentuh DyntalGear, tiba-tiba tegangan listrik keluar diserap oleh senjatanya Hurip. Yang diinginkannya mengambil pelindung yang menyelimuti sekujur tubuh robot ini, memang benar, hampir seluruh bagian tubuh memiliki bahan yang sama seperti Candrasa dan bahkan lebih kuat.


"Keras sekali. Pertamakali dalam hidupku berusaha sekuat ini membelah sesuatu!" Batin Hurip.


"Mundur!" Teriak seseorang.


"Ap--!" Hurip terpental jauh. Sementara DyntalGear itu meledakkan diri seusai pilot keluar menggunakan kursi pelontar dan ledakannya sangat-sangat besar, membuat Hurip musti berlindung dari daya ledaknya.


"Cih!" Hurip mengigit bibir, "tiada pilihan lain! Takkan kubiarkan beberapa dari kalian selamat."


Hurip menancapkan pedang pada tanah, setelah dia memuntahkan cairan kental merah-kehitaman, kini muncul sosok mengerikan terbuat dari muntahannya dan melayang dengan jelas terlihat. Seluruh manusia maupun mahkluk hidup ketakutan, burung-burung berterbangan dan suasana sekitar mnjadi sunyi sepi.


"Kematian, patuhi perintahku, ambilah semua jiwa-jiwa yang diriku inginkan!" Titah Hurip.


"Engkau berlagak seperti penguasa, jikalau engkau bukan keturunan beliau.. alam kematian takkan mahu mematuhi satu pun ucapanmu.." kata mahkluk hitam yang berwujud merah dikelilingi asap hitam.


"Apa?" Hurip menelan ludah, "jangan-jangan kau tidak ingin mematuhi darah daging penguasa yang kalian patuhi serta cintai itu? Asal kau tau saja, ku mampu.."


"Jangan sok-sokan!" Bentaknya memotong ucapan Hurip sebelum usai. Dia memancarkan sinar merah ke segala arah sekejap mematikan banyak mahkluk sekaligus termasuk musuh yang diinginkan mati oleh Hurip ikut meninggal dalam sekejap mata saja.


Selepas itu para DyntalGear bermunculan melayang membuat Hurip kaget setengah mati, kematian instan tidak dapat membunuh mereka yang berada dalam robot. Biarpun Hurip menebak jika mereka itu sudah tewas, namun robot bergerak tanpa pilot, bisa saja Hurip berpikir demikian bila tidak ada suara.


Kematian Instan, memanggil salahsatu bawahan dari penguasa alam kematian dan membunuh target yang diinginkan. Namun, keistimewaan yang dimiliki oleh keturunan atau lebih tepatnya kakek buyut Hurip yaitu mampu memanggil penguasa kematian sendiri dan bukan bawahannya, terlebih lagi tidak seperti orang lain yang meminta tetapi dia memerintahnya.


"Hmm nampaknya musuh-musuh memiliki kekuatan setara dengan tuanku.." penguasa kematian yang sebelumnya marah tersenyum, "engkau keturunan tuan akan mengalami nasib yang buruk.. lagi-lagi kau memanggilku disaat yang buruk. Akibatnya jikalau ada yang merapalkan kematian instan padamu, ini maka... hamba tidak mampu melakukan apa-apa."


Penguasa kematian tampak memiliki ekspresi wajah yang lega disebabkan baru kali ini setelah sekian dari keturunan tuannya, hanya Hurip yang bersikap cukup sombong dan membuatnya kesal. Dia tidak peduli bila Hurip mati, karena dia sudah memiliki keturunan yang menjadi tuan barunya bila orang yang tengah menatap dirinya dengan putusharapan ini meninggal.