Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
34



Usai satu malam terlewati, Hurip menjumpai bahwa dia sudah merebahkan diri di penginapan bersama Alia tertidur pada kursi. Dia beranjak turun dari kasur bergegas membuka jendela. Hurip memburu napas mencari udara, mimpi maupun percakapan dengan Hurip lain terkesan menghadiahkan keletihan besar.


"Sekarang ..." Hurip mengigit bibir, "diriku musti dapat melihat kebenaran dibalik semua itu!"


Alia tiba-tiba menjerit. Sontak saja Hurip menengok ke belakang menemui gadis itu kebingungan, dia tidak menemukannya di tempat tidur. Sewaktu mata dia menemukan Hurip, langsung membuang napas lega dan menghampiri Hurip dengan perlahan-lahan.


Ketika ditanyai sesuatu, Hurip tidak menjawab, justru balik bertanya tentang menjadikan Alia sebagai tim sekaligus sebagai tangan kanannya. Kedua matanya Alia berbinar-binar saat ia menawarkan kesempatan lain, tanpa lisan sekalipun, Hurip tahu jawaban Alia.


"Ah!"


"Hmm?" Hurip menatapnya, "ada apa?"


"Uhh.. itu anu.. aku kehilangan pedang bahkan yang cadangan ahaha!" Alia tertawa sambil tersenyum masam selagi Hurip menatapnya agak kejengkelan.


Mereka keluar dari penginapan, ia bertujuan mencari pedang yang lebih kuat ketimbang sebelumnya dan sekaligus zirah. Hurip merasa tidak memerlukannya, tetapi Hurip berkeinginan menambah pertahanannya meski hanya sedikit. Alia dan Hurip terus melangkah mencari keberadaan toko senjata tak kunjung dapat.


"Ehem!"


Suara mendeham tiba-tiba terdengar, mereka segera membalikan badan menjumpai seorang pria dengan sekuntum bunga mawar di mulut dan pakaian norak. Biarpun Hurip tampak biasa saja, orang-orang sekeliling termasuk Alia mengukir ekspresi jijik pada pria yang sedikit sangat mencurigakan beserta aneh.


"Sungguh cantik. Wahai gadis mungil rupawa--"


"Jangan pernah menyentuh wanitaku."


"Gahahaha! Kalimat kolot macam apa itu?" Tanyanya menutup muka tertawa terbahak-bahak depan Hurip.


Hurip menyentuh tangkai pedang, membuat prajurit yang bersama pria ini maju meski tampak gemetar menghadap seseorang yang dikenal. Pria ini terlihat menyeringai. Dia mendekati Alia perlahan-lahan, justru bukan sambutan, melainkan tebasan goresan pisau di pipinya seusai Alia melepaskan sihir angin.


"Jadi, kau tidak ingin menjadi istri ke-sebelas? Baik sesua---"


"Sialan. Apa yang kau lakukan?" Hurip mengedutkan dahi. Candrasa yang masih dalam sarung bersinar seakan-akan sedang mengumpulkan energi, nantinya mampu dilepaskan sekaligus untuk menghancurkan.


Kejadian serupa pernah dialami Hurip ketika sewaktu bersama Liana. Kala itu malah berupa tindakan dari pelecahan, meski tidak terjadi, Hurip sangatlah kesal melihat hal mirip. Mata beringas itu hanya terpaku ke pria ini, serentak saat Hurip menghentakkan kaki, dia tiba-tiba dililit rantai menyembul keluar lewat tanah.


Alia menarik napas seraya tangannya menggandeng Hurip. Mereka menyeret pria ini ke tepi jalan, untuk orang sepenting bangsawan tanpa pengawal pribadi berjumlah lebih dari tiga, Hurip pikir ini bukan sebuah kebetulan belaka yang tiba-tiba ditemui oleh mereka.


"Hei nak.." panggil seseorang pada Alia. Alia menoleh menemui beberapa orang menanyai hubungannya dengan Hurip, selagi orang yang bersangkutan asyik mengancam pria norak menggali informasi darinya.


"Aku sama Hurip cuma rekan, nggak kayak imajinasi atau dugaan kalian.." Alia menunduk sambil tertawa tanpa suara dengan pipi merona merah tersipu malu.


"Ha? Katakan sekali lagi!" Teriak Hurip memecahkan suasana sekitar Alia. Gadis ini mendekati Hurip yang terlihat keheranan dan bertanya, ada apa, meski tidak ditanggapi Hurip dan mengabaikan gadis yang dikira kekasihnya tersebut tanpa menoleh sedikitpun.


"Kau mengancam melakukan hal yang tak pantas ke Alia-ku?" Hurip tiba-tiba tertawa lepas sesaat, "kau serta semua orang tahu.. aku menghancurkan negara besar sendirian, lalu, kau mengancam diriku? Lawak."


"Berlagak seperti sok kuat. Padahal ada bantuan dari militer, bocah keparat, tidak tahu diri!" Ujarnya teriak-teriak memancing emosi Alia serta beberapa orang.


"Ya. Aku akui..., tetapi setidaknya kau tahu jikalau itu semua berkat usahaku.." jawab Hurip.


Hurip saling menautkan tangan dengan Alia, lalu dia menarik gadis ini pergi melewati gerbang raksasa kota Alfha. Selepas keluar kota, dia melihat-lihat peta langsung mengetahui tugas selanjutnya walau cukup melelahkan mengingat banyak misi yang belum usai.


Batu permata kekuatan. Militer mempunyai dua buah dan sisanya telah ditemukan, alhasil Hirup disuruh mengambil tanpa menimbang-nimbang tugas-tugas yang belum terselesaikan. Hurip cukup jengkel pada mereka semua, tetapi dia tetap ingin mengandalkan mereka untuk pencarian anaknya yang menghilang.


"Kejam sekali.." lirih Hurip.


"Hm?" Alia mendekat, "kalo kamu mau minta tolong katakan aja. Bakalan aku bantu sekuat tenagaku!"


"Bila kau luang, cari informasi tentang anakku, andai dia masih hidup.. aku takkan punya penyesalan lagi untuk mati," kata Hurip memegang bahu tangan kanannya yang gemetar memperlihatkan ketakutan.


Batu sihir warna abu berada di kota Bahadur, sudah cukup jelas menandakan bahwa tidak ada yang mengetahui keberadaan permata itu. Membuat Hurip harus berpikir keras, andaikata ia pembuat batu sihir, maka dia akan menyimpan benda tersebut di tempat aman atau memiliki mahkluk untuk penjaga permata.


Yang terpikirkan oleh Hurip, hanya bawah tanah atau reruntuhan. Bahadur dikenal sebagai negara ksatria, mereka kadangkala enggan menelusuri kegelapan di bawah tanah dan reruntuhan. Alhasil Hurip perlu untuk menerkanerka tempat pemburu jarang kesana.


"Hei Alia. Apa kau tahu bawah tanah atau reruntuhan di Bahadur yang jarang didatangi?" Tanya Hurip.


"Bahadur yah..." Alia manggut-manggut sebelum dia menepuk tangan dan berkata, "nggak ada loh cuma pemburu aja yang mau. Kalo kamu masuk semua reruntuhan atau bawah tanah juga, harta pasti utuh."


"Sudah kuduga, pasti akan sulit, pantas saja mereka menyuruhku!" Kata Hurip dalam hatinya. Berupaya untuk tidak menggerutu mengeluh di depannya Alia.


Akan lama menuntaskan satu-persatu sehingga akan menjadi tidak efektif. Terlebih lagi mungkin ini saat yang tepat, Alia tak punya senjata, Bahadur memiliki senjata-senjata kualitas tinggi walau lemah dibidang sihir. Nyatanya itu daerah para ksatria bukan penyihir.


"Apa yang mau kamu lakuin?" Tanya Alia menatap Hurip sedikit dengan agak memelas.


Hurip menarik napas dalam-dalam seperti mencari udara sebanyak mungkin. Tidak lama seusainya, terdapat boneka manusia mirip Hurip bertekuk lutut di hadapan Hurip asli. Dia disuruh Hurip melindungi kota Alfha selamanya sampai dirinya dijemput ajal.


Tanpa peringatan apapun, cahaya menelan keduanya berpindah ke kota Bahadur dengan cepat. Alia pun sekarang tidak banyak bicara. Dia memutuskan untuk tetap disanding Hurip, karena kemauan dirinya sendiri menemani pahlawan gila diluar nalar pikiran.


"Kenapa kau cengar-cengir gitu?" Tanya Hurip.


"Nggak apa-apa kok!" Jawabnya Alia. Gadis ini mau tidak mau membuang muka menyembunyikan senyum pada lekukan pipi merah tersipu-sipu malu.


Tanpa disadari siapapun, Hurip menciptakan ratusan bayangan serta menyalin kesadaran untuk ditempel pada semua bayangan untuk mencari reruntuhan yang benar. Teknik ini hanya mampu digunakan oleh Hurip, tentu menyalin kesadaran bermakna membuat salinan diri sendiri apalagi hingga berjumlah ratusan.