Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
36



Kakek ini menunjuk ke toko sebrang sana seolah dia tidak menjual barang dagangannya kembali. Hurip menggelengkan kepala, karena bersikukuh kakek ini membawa mereka masuk dan membiarkan Hurip memilih senjata untuk digunakan Alia sekaligus buat cadangan apabila Candrasa tidak dapat digunakan.


"Di rak sebelah bahumu ada senjata sihir.." ujar kakek sesudah menghela napas cukup berat dan lama.


"Mengapa?" Hurip terdiam sejenak, "kenapa orang-orang lebih memilih senjata sihir. Ksatria zaman sekarang lebih suka yang instan, biarpun peralatan sihir di tokomu lebih bagus ketimbang di sebrang."


"Ooh.. kenapa kau berpikir demikian?" Kakek melipat kedua tangan menyilang depan dada. Mata dia mulai melirik Hurip yang sedang memilah pedang beserta pisau tumpul, membuat pemilik toko cukup bingung.


Selagi kakek menghitung total senjata yang dibelinya Hurip menatap rak senjata sihir, jumlahnya memang sangat sedikit. Biarpun tak banyak. Hurip membeli satu pedang yang sudah melekat sihir api, sehingga waktu dia mengalirkan energi sihir langsung bilahnya terbungkus api merah terpusat ditengah-tengah besi.


Hurip membuka matanya agak lebar baru menyadari pedang ini dapat mengubah bentuk api sesuai dari keinginan pengguna, asalkan pemegangnya mampu mengendalikan energi yang dialirkan. Karena panas yang luar biasa membangunkan Alia dari tidurnya.


"Panas.." lirih Alia.


Hurip menurunkan Alia selepas gadis ini siuman dan terjaga, begitu melihat wajah yang tersipu malu itu, Hurip berkesimpulan bahwa perempuan mungil satu ini baik-baik saja. Kakek tua pemilik toko mulai cepat menyarungkan seluruh senjata yang dibeli Hurip, kemudian meminta sesegera mungkin angkat kaki.


"Napa tuh.. tua bangka kayak dia nggak sopan sama Hurip? Menjengkelkan!" Gerutu Alia usai keluar toko.


"Sudah. Jangan dipikirkan. Kini, yang terpenting itu... bagaimana kondisimu?" Tanya Hurip tanpa menoleh.


Tanggapan Alia hanya menganggukkan kepala tanpa memberikan jawaban pasti. Selama perjalanan dua orang ini. Mulut mereka membisu seribu bahasa, dia maupun Alia sulit bicara. Selama hitungan menit kini berlalu, akhirnya, Hurip membalikan badan menatap Alia selama lima detik sebelum menghunus pedang.


Tiba-tiba cahaya perpindahan menelan mereka dua berpindah ke sebuah ruangan gelap. Tiba-tiba Alia ikut menyentak senjata barunya, seekor raksasa batu meraung-raung memberi sambutan kedatangan dua manusia ke rumahnya. Hurip membalas sambutan hangat dengan keempat tombak kristal menusuknya.


Golem batu tidak mati. Dia telah menandai tiap-tiap inti yang tertanam pada tubuhnya, sehingga Alia maupun bayangan bisa membunuhnya tanpa musti melibatkan Hurip. Sedetik selepas kedua kaki Hurip memijak tanah. Puluhan bayangan berkumpul, saat itu juga langsung menarget mahkluk yang dianggap musuh oleh Hurip dan harus segera dimusnahkan.


"Apa-apaan ini?... Banyak banget!"


Diakibatkan jumlah yang sangat banyak, Golem yang pada dasarnya sulit mengatasi serangan beruntun langsung tumbang dengan singkat dalam waktu tiga menit. Hurip menitahkan pada semua bayangannya memakan tubuh golem, kecuali inti dan bagian tubuh yang sekiranya penting maupun pada bagian bernilai.


Hurip dan Alia masuk lebih dalam. Sesudah merasa bila makin gelap, gadis ini tanpa perintahnya Hurip, memakai sebuah sihir dan menerangi seluruh jalan dalam cakupan sepuluh meter. Sepanjang langkah, terdapat banyak dan berserakan tulang-belulang manusia yang meninggal seperti karena kelaparan.


"Pantas saja. Struktur sihir yang digunakan penghuni reruntuhan atau penjaga tempat ini mirip dengan sihir dari para peri.." kata Hurip menatap tajam Alia.


"Peta. Aku diberi peta sama para peri, karena pengin pulang.. dan ketemu kamu!" Kata Alia bernada panik.


Hurip terhenti menggerakkan kaki. Dia melihat sana-sini bahwa mereka balik ke tempat awal, sehingga pantas saja militer tidak mampu mendapatkan batu permata yang diinginkan. Disaat gadis disandingnya tengah dilanda kepanikan, Hurip tidak lagi ikut panik, karena hal yang membatasi kekuatannya berkurang.


"Apa yang musti kita lakuin? Mimpi aku cuma berdua terperangkap. Tapi nggak selamanya juga!" Kata Alia.


"Mengapa kau mencita-citakan harapan tidak waras semacam itu. Bila terjadi, aku akan melampiaskan semuanya padamu!" Hurip menghela napas selesai berbicara sedikit disertai emosi melihat sifat aslinya.


"Y-Yah.. nggak apa-apa, kok. Kayaknya memaklumi hal-hal semacam itu aku sanggup!" Kata Alia kedua jari telunjuk, "kalo kamu mau sekarang juga.. aku..."


"Kau akan kubuat abadi. Tetapi tidak dengan tubuhku sehingga ..." Kata-kata Hurip tersentak tiba-tiba. Dia membuka mata menemukan Alia mendekap, sambil menggeleng-gelengkan kepala seperti berbicara jikalau dia sangat-sangat enggan hal tersebut terjadi.


Hurip mengentakkan kaki ke tanah menciptakan satu getaran setingkat gempa dahsyat. Tindakan Hurip memicu monster keluar dari sarang mereka. Banyak monster keluar, lalu Hurip langsung memerintahkan semua bayangan untuk membunuh seluruh monster, dan memakan waktu sampai setengah jam terlewati.


Mendadak Alia diangkat Hurip agar tidak menyentuh tanah. Bermula dari tempat pijakan Hurip, cahaya hijau menelusuri seluruh reruntuhan ini dari pijakan Hurip sampai semua penjuru tanpa melewatkan satu tempat sekalipun dan membuat peta tempat ini tergambar jelas pada telapak tangan kirinya Hurip.


"Lalu gimana sama sihir penyesatannya?" Tanya Alia.


"Apa kau lupa..? Peta yang diberikan peri juga, setiap pemegang peta melewati jalan pasti berubah seiring jauhnya kita dalam perjalanan," kata Hurip.


Hurip melangkahkan kaki sembari ia memperhatikan telapak tangan. Saat mereka hampir mencapai ujung peta, Hurip melihat ke depan terdapat sebuah taman bunga indah dan ada seorang ksatria yang memakai zirah emas lengkap menatap Hurip dari kejauhan, dia segera berjalan perlahan-lahan mendekati keduanya.


Setelah ditilik lebih fokus oleh Hurip, dibalik zirah itu terdapat seorang manusia bukan monster maupun mayat hidup. Hurip tidak menghunuskan pedangnya dan berniat bicara terlebih dahulu. Begitu pula ksatria ini seperti memiliki niat yang sama, sehingga kedua lelaki ini terdiam saling bertatap-tatapan lima detik.


"Apa tujuanmu datang kemari? Sebutkan nama Anda dan biarkan hamba tahu, siapakah Anda!" Tanya ksatria emas ini memberikan hormat kepada Hurip.


"Tujuan mendapatkan batu permata, diriku seorang pahlawan. Meskipun aku tidak ingin mendapatkan gelar tersebut," jawab Hurip menundukkan kepala.


"Namamu siapa, sebutkan," pinta ksatria menyentak pedang berlian yang berkilauan. Biarpun sesudah memperlihatkan senjata, sama sekali tidak dijawab.


Satu langkah mendekat bersicepat Alia menghunus pedang berdiri di hadapan Hurip. Dia menyaksikan tindakan gadis mungil itu, ksatria ini termenung saat Alia mengarahkan pedang kepadanya. Tak berselang lama ksatria emas ini meyarungkan kembali pedang dan membuka helm yang menutupi seuruh mukanya.


"Jika anda dapat menjawab. Maka tanpa ada tumpah darah diantara kita, akan hamba berikan, apa yang engkau inginkan.." kata ksatria emas tersenyum kecil.


Hurip mengiyakan tawaran ksatria ini. Dia menunggu pertanyaan yang dilontarkan, pada saat yang sama, ia memegang bahu sendiri dan memuaskan jawaban ksatria emas ini. Seluruh pertanyaan menusuk tulang serta jiwa waktu bersamaan. Seakan-akan mantan di atas kertas ini, pahlawan dahulu, mempertanyakan gelar penyelamat dunia... yang dipegang oleh dirinya.