
Alia masih belum sembuh dengan kondisi yang buat kemampuan khas pengguna sihir Khitam lenyap, pada pertempuran, Alia belum terbiasa dan kesulitan untuk menahan rasa sakit. Hurip pikir wajar gadis ini kesulitan menahan rasa sakit sebab belum terbiasa, biarpun Hurip meminta untuk membiasakan diri, pikir ia itu agak keterlaluan bahkan untuk secara sepihak.
"Alia. Gunakan sihirmu dengan baik, Azka, pakai dua pedangmu dengan tangan kanan.." titah Hurip.
"Panggil gue Reza. Nama itu terlalu merepotkan kalo diucapkan.." pinta Reza dengan sinis.
Mereka tengah melawan seekor monster kadal yang memiliki napas racun pelumpuh, ketua tim mereka menitahkan Alia menggunakan busur dan menggunakan sihir ketimbang pedang. Sementara Reza memakai pedang serta senjata jarak dekat.
Kadal Tidur, memiliki kelemahan pada sisiknya, yang akan menyebarkan asap dan membuat manusia mengantuk. Biarpun terjaga serta tahan dari asapnya, tetap saja, kadal bisa membuat manusia berkhayal dan terbunuh seketika. Lebih mematikan lagi kepala beserta ekornya yang dapat menyerang manusia.
Reza mengangkat dua pedang, menahan dorongan kepala kadal dan dengan cepat membelokkan pedang menuju arah yang berlawanan. Hingga Reza dapat menepi ke samping, lalu memotong kaki kiri depan monster. Sontak saja ekor si kadal bersicepat ingin mencambuk Reza, Alia menggunakan sihirnya.
"Nih kadal repotin doang!" Reza melompat mundur usai bongkahan batu besar mengenai ekornya.
"Alia. Berikanlah sihir penguatan kepada Reza, dan lebihkan penguatan kecepatan.." pinta Hurip memberikan instruksi begitu melihat kadal murka.
Tubuh Reza dibalut oleh cahaya putih yang membuat dia mendapatkan sihir bantuan, lelaki ini pun menarik napas, dia menggeser pedang ke belakang dan sampai sejajar dengan kakinya. Pada keadaan badan condong ke bawah mengelukkan bagian belakang.
Dia meninggalkan salah satu pedangnya menancap ke tanah tempatnya berpijak, sebelum dia berlari, mata Reza melihat ke arah pedang seolah-olah lagi memastikan posisi senjatanya berada. Sesudah hal tersebut, Reza berlari sekuat tenaga, menentang kadal yang tengah meraung-raung dan mengamuk.
"Mampus lu!"
Reza memberikan rentetan tebasan bertubi-tubi ke lawan, pada saat mengayunkan pedang, Hurip mengamati bahwa dia pernah melawan Reza pada waktu yang dekat berlalu. Dia menghela napas dan memfokuskan diri untuk menonton saja, ketimbang diam tanpa alasan yang sangat tidak begitu jelas.
Ayunan terakhir Reza menggerakkan pedangnya ke atas, memberi luka gores tebal, lalu menusukkan pedangnya dan menekan kuat-kuat. Sesaat sesudah kadal merasai sakit. Reza menumbuk monster pakai tinju, dengan disertai dengan sihir angin, membuat monster kadal melambung tinggi ke udara.
Reza melepaskan sihir angin, melayangkan pedang yang ditinggalkannya ke angkasa. Waktu Hurip menyaksikan pertarungan akan diakhiri, sambil dia menelan ludah ketika Reza terbang menggunakan sihir angin. Dia mengacungkan tangan ke atas kepala sehingga mendapatkan pedangnya kembali.
"Elu bakal gue kirim ke neraka!" Teriak Reza.
Bilah pedangnya terbungkus api merah nan hitam yang gelap, dalam garis yang tegak, Reza mengakhirinya dengan tebasan berkekuatan tinggi membakar lawannya. Sewaktu berusaha menebas membelah dua tubuh kadal, api semakin membesar, meruak ke seluruh tubuh kadal sebelum terpotong.
Hurip tahu bila dia takkan mengincar bagian sisiknya karena tidak tahu kelemahan, terlebih lagi, sesaat ketika Reza melancarkan serangan yang direncakan terlebih dahulu. Membuat Hurip mengigit bibir dan menggeram penuh akan amarah yang meluap-luap.
"Saat Azka melakukan rentetan. Pola serangan yang dilancarkan olehnya mirip dengan penembak jitu kala itu.. tidak, bukan mirip. Memang benar dia yang melakukannya.." batin Hurip melihat Reza turun.
"Hebat-hebat. Karenanya aku bakalan diusir dari kelompok ini," ujar Alia bertepuk tangan bersamaan wajahnya juga sedih akan hal yang diucapkannya.
"Ah, elu sadar dengan sihir bayanganku?" Tanya Reza menunjukan bayangannya. Memang benar Hurip mengetahui bila semenjak nama Reza datang, sihir bayangan ini terus mengamatinya, begitu pula Hurip.
Hurip menunjuk ke salah satu gunung, lalu melempar Candrasa dengan gerakan seperti melantingkan tombak. Tiba-tiba dalam hitungan detik saja gunung meledak. Mengakibatkan para naga yang tinggal, kini berterbangan, Hurip langsung mengangkat tangan.
Awan-awan badai berkumpul, lama-kelamaan semua naga berhamburan panik seketika. Sihir legenda yang dipastikan, mampu membunuh naga satu kali serangan. Membuat Reza dan Alia tertegun sejenak, sebelum sesaat dari petir menggelegar gencar, buat suasana di pegunungan serupa sebuah kiamat kecil.
"Buat apa kamu ngelakuin itu! Gimana coba kalo ada pendaki atau pedesaan disitu?" Alia menggerakkan kedua lengannya seperti ayam mengepakkan sayap.
Selagi Reza membuang muka ia sambil menggaruk-garuk, bertanya-tanya, apa yang dilakukan laki-laki secara tiba-tiba mendadak dan tanpa alasan ini. Buat dia geleng-geleng kepala dan membuang napasnya dengan berat semacam upaya melepas beban berat.
"Ah, pedang kembali.." Hurip mengangkat tangan dan mendapatkan Candrasa kembali dengan kondisi bilah retak yang sangat mengkhawatirkan pengguna.
"Tuh. Itu karma buat kamu!" Alia masih mengepakan kedua sayapnya yang membuat dia berkesimpulan jikalau Alia tengah mengejeknya seperti halnya Reza.
"Asal elu tau ya dek. Tuh gunung gede, memang gue tau elu tuh kuat.." Reza menahan tawa sebelum mencubit dirinya dan berkata, "nyari-nyari masalah di depan gue kalo nggak mau ditertawakan, adek kecil."
Hurip ubah haluan memasuki hutan, sementara Alia mengikuti dari belakang dengan wajah memelas dan Reza terlihat acuh tak acuh. Akhirnya sesudah berjalan cukup lama Hurip terhenti, terdapat sebuah rumah, memiliki aura yang mengerikan bahkan ngeri.
Seekor goblin kecil berpakaian selayaknya manusia menghampiri mereka. Hurip memasang ekspresi senyum kecut, tetapi goblin itu sebaliknya, rasa kesal dan jengkel sudah melekat pada wajah hijaunya. Dia langsung menendang Hurip pada bagian bawahnya.
"Punyamu memiliki ketahanan seperti baja. Memang benar keluargamu itu sangat daku benci.." ujar goblin sesudah berdecak kesal beberapakali setiap makian.
Pertamakali Hurip tersenyum ramah, menyodorkan Candrasa yang retak, goblin ini membawa pedang pusaka tersebut masuk ke dalam rumahnya dan dia meminta semua melepaskan alas kaki. Mendengar mahkluk kerdil ini bercakap Reza hanya terdiam saja.
"Uwah tempat apa ini?" Alia melihat sekitar mereka dan bercakap, "cantik banget!"
"Bagus, kan? Ini yang daku hias sendiri!" Ujar goblin membusungkan dada dan berkata, "tunggulah di ruang tamu akan daku perbaiki Candrasa sebentar."
Hurip duduk bersama timnya di atas sofa. Sewaktu mereka berbincang-bincang, cara bicaranya Reza berubah dan kelihatan berkeringat. Seperti dugaan Hurip. Dalam waktu beberapa menit berlalu, akhirnya goblin datang, dia membawa Candrasa dan sebuah batu kristal biru agak putih yang mengeluarkan asap.
Pedang diletakan goblin di atas landasan tempat menempa senjata, Hurip mendekati goblin, dia menerima kristal biru dan membuka penyimpanan mengeluarkan seekor harimau liar. Sontak harimau berniat menerjang Hurip, tetapi Hurip mencengkram, dia mencekik binatang ini tanpa belas kasihan.
"Seperti biasa. Kau bisa menarik dan memasukan si jiwa mahkluk hidup ke dalam benda, keluargamu itu sangat gila.." goblin menghela napas panjang.
Mndadak suara berat nan mengerikan terdengar, jiwa keluar dari tubuh harimau, lalu masuk ke dalam kristal di tangan Hurip. Dilanjutkan dengan goblin ini menempa kristal dengan sihir penempaan, menggabungkan bilah Candrasa dengan kristal jiwa.