
Pada kedua sisi pintu bawah tanah terdapat patung raksasa, menandakan bila mereka perlu melawan maupun mempunyai syarat untuk masuk. Hurip tahu sebab dia telah berkali-kali menghancurkan monster penjaga, demi masuk ke bawah tanah, entah dapat harta karun maupun benda berharga lainnya.
Alia berniat untuk langsung menghunuskan pedang, biarpun begitu Hurip terdiam, membuat gadis ini bingung. Nyatanya Hurip bukan melamun maupun termenung belaka. Dia tengah memikirkan, langkah tepat untuk melawan patung batu, kebanyakan orang pasti berpikir bahwa mereka lemah terhadap air.
"Kali ini tampaknya akan berbeda." Hurip mencabut belati dari punggung dan membidik. Sewaktu sihir terpusat pada ujung belati, Hurip melantunkan sebuah mantra, sebuah teknik menciptakan kekuatan besar terpumpun pada suatu titik kecil ujung belati.
Bagaikan mengecilkan bola api raksasa menjadi satu ukuran kepalan tangan, namun bolide tetap memiliki daya hancur dan kekuatan sama layaknya bola api raksasa. Meskipun begitu setingkat Hurip cukup sulit untuk menggunakan cara ini, sehingga belum pernah ada yang melakukannya selain keluarga Sahir Darah.
"Kamu lagi ngapain? Kok ngeri banget energi sihir yang keluar dari tangan kamu!" Kata Alia menunjukkan ekspresi bahwa dia merasa ngeri.
"Kembalilah kepada pangkuan pencipta!" Hurip kini berteriak sembari menekan tanah. Kedua kaki yang menopang tubuhnya tercabik-cabik, akibat, Hurip meminimalkan semua energi sihir yang tersalur ke seluruh tubuh kecuali kedua tangan dan kepalanya.
Hurip melemparkan belatinya sekuat tenaga, walau darah mendadak keluar dari matanya dia kelihatan biasa-biasa saja. Kecepatan pisau menuju targetnya bukan main. Kurang dari satu detik, satu monster penjaga tumbang, dengan keadaan setengah tubuh hancur dan bahkan patung lain terkena dampaknya.
"Kamu nggak apa-apa?" Alia menyabet lengan Hurip bersicepat melihat keadaannya dari dekat.
"Apa yang kau lakukan hah?!" Hurip menendang Alia untuk kedua kalinya agar dia tidak terkena serangan musuh. Hurip menahan sambaran patung penjaga dengan Candrasa. Disebabkan dia sudah melakukan teknik sebelumnya dia ingin menghemat stamina.
Dia melepaskan sihir angin berkekuatan tinggi untuk mendorong lawan, biasanya musuh akan terbang ketika terdampak sihir ini, tetapi dikarenakan kali ini lawannya cukup kuat sehingga hanya terdorong dari tempat Hurip menggunakan sihir hanya tiga meter.
Hurip menancapkan pedangnya ke tanah. Dia kini memegang tangkai Candrasa, seperti tengah menenangkan diri, biarpun patung penjaga langsung bermaksud menyerang. Dia menciptakan pelindung di hadapan untuk membentengi serangan musuhnya.
"Sialan!" Alia melompat dan menusuk bahu penjaga dengan pedangnya. Saat Hurip mengira dia akan kehilangan senjata, justru Alia memutar tangan dan darah bercucuran melumuri bahu batu penjaga.
Melihat sekilas siapapun tahu itu ialah teknik Khitam yang dimana mirip sihir pembusukan, tetapi karena teknik ini tidak membutuhkan energi sihir, melainkan darah pengguna sehingga menjadikan teknik langka dan jarang ada yang tahu. Bahkan Hurip tertegun sebab benda semacam batu menghitam karenanya.
Alia mencabut pedang dan menendang musuh, yang tidak bisa melawan. Hurip tidak usah menebak. Dia sudah tahu kalau kebanyakan pengguna sihir Khitam senantiasa melakukan pertarungan keji, contohnya, racun saat dalam pertarungan dan bukan sembarang cairan mematikan sebab benda bisa terpengaruh.
"Ayunan api pemusnahan dosa," lirih Hurip sembari mengangkat pedang. Dia melakukan gerakan dari bawah ke atas segenap tenaga, lalu tebasan Hurip berwujud seperti api melengkung yang memeluk.
Hurip menyarungkan kembali pedangnya, bertepatan musuhnya hancur menjadi beberapa bagian dalam keadaan terbakar dan tengah proses jadi abu. Selagi gadis yang bersamanya menghampirinya, Hurip tidak langsung masuk ke dalam, ketimbang dia melewati pintu kemudian tidak dapat keluar Hurip menyimpan sebuah batu permata untuk berpindah tempat.
Tidak sedikit reruntuhan bawah tanah menjebak saat seseorang masuk ke dalam, karena itulah untuk berjaga-jaga, Hurip memperhitungkan sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Dia sesudah melakukan pencegahan kini ikut masuk bersama Alia.
Tiba-tiba pintu masuk di belakang mereka tertutup dengan sendirinya. Alia cukup panik, sementara Hurip sudah menduga ini dan mencoba menukarkan posisinya dengan batu permata. Namun, hal tersebut juga tidak berlaku dan Hurip sedikit ikut panik juga.
"Sepertinya tidak ada pilihan untuk tetap maju. Toh, tugas kami mencari seseorang di tempat ini dan tentu saja.. sepertinya ini takkan mudah.." gumamnya sambil melangkah masuk reruntuhan lebih dalam.
Hurip sudah mendengar mengenai orang yang perlu dicari, seorang laki-laki pendekar, dimana dia tidak menggunakan sihir melainkan murni di perlengkapan dan wawasan pengalaman. Dia dari awal hingga akhir mencapai pintu ruangan paling besar, telah dari tadi sadar, bahwa tak ada obor atau api unggun yang ditemukan mereka sepanjang perjalanan.
Jejak kaki manusia juga tidak ada. Hurip mulai heran setelah tidak mendapatkan tanda-tanda bahwa manusia pernah kemari, selain mereka. Tiba-tiba dia terperanjat kaget. Hurip mengerutkan dahi sembari berdecak kesal, ia memasuki lebih dalam reruntuhan dan benar-benar tidak ada bekas jejak kaki manusia.
"Bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan," gumam Hurip menoleh ke selingkungan.
"Hei Hurip. Lihat nih ada jejak kaki aneh!" Alia teriak melambaikan tangan dari kejauhan.
Hurip bergegas menuju tempat Alia, justru matanya langsung terpaku dengan tatapan tajam. Alia sama sekali tidak mengenalinya. Tetapi Hurip sangat teramat kenal, bahkan enggan bersua atau reunian dengan musuh mengerikan semacam ini kembali.
Alia berdiri mengejar Hurip yang tiba-tiba melangkah terburu-buru seakan-akan dikejar waktu. Sesudah Hurip berhenti, Alia menjumpai mesin bergerak lagi memperhatikan mereka, dikarenakan hal inilah yang membuat Hurip berhenti dengan raut wajah jengkel.
Dia telah melawan robot penjaga ini selama empat kali sendirian, mendekat maupun menjauh menjadi pilihan buruk bila bertemu dengannya. Hurip pernah mendekat, justru, robot terbagi menjadi dua dan menembaki dengan peluru gencar tiada tanpa henti.
"Jangan menjauh. Jika kita menjaga jarak, maka dia akan melemparkan puluhan rudal sekaligus.." titah Hurip memegang erat lengan Alia disamping dirinya.
"Kenapa gak kita dekati aja?" Alia lebih melekat pada Hurip selagi mengajukan pertanyaan. Sesudah Hurip menjawab dan menjelaskan, Alia menarik napas, dia mengambil bonekanya berniat menghancurkannya.
"Tidak. Tunggu, jangan memutar kepala bonekamu, bila kau mati atau regenerasimu lambat itu akan membuatku kesulitan.." kata Hurip memberhentikan tindakan Alia semasa dia hendak memutar kepala.
Alia menghela napas. Dia menarik tangan kanannya boneka, sesudah putus, tertampak robot di depan mereka tidak terkena dampak apapun dan malahan berbalik kepada pengguna. Gadis ini bertekuk lutut memegang bahu dengan tangan lain seraya merintih.
Seperti dugaan Hurip, robot pada waktu itu memiliki sedikit kehidupan, entah karena monster daging hidup maupun sebab lain. Sekarang menyadari kalau mereka berada dalam situasi bahaya. Berlainan pada saat itu, mereka kini berada di ruangan tertutup, sehingga Hurip dan Alia musti sungguh berhati-hati.
"Bantu aku dari belakang," perintah Hurip menepuk pundak Alia perlahan. Sembari dia berjalan menuju robot yang ketika Hurip mendekat, dia aktif dengan tanda-tanda cahaya pada kepalanya, seolah-olah lampu tersebut ialah kedua matanya walaupun lain.