Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
20



Azka mengangkat senapan, dengan teropong yang terpasang pada senapan, dia membidik Alia dari kejauhan. Dia menarik pelatuk memelesatkan peluru tanpa meninggalkan suara dari tembakan, berkat peredam suara. Hingga Azka melanjutkan tembakan hingga ketiga kalinya, buat Hurip tersadar menengok ke lawan mukanya menjumpai Alia tak sadarkan diri.


Belasan menit sebelumnya,


"Pesawat tempur sudah sampai di lokasi. Mohon untuk memberikan perintah. Pak Reza!"


"Lakukan pada pukul 10 malam. Prioritaskan semua pemimpin, abaikan para warga dan bawa semua anak-anak yatim piatu ke markas.." Reza menekan tombol pada alat komunikasinya memberi perintah.


Reza maupun nama samarannya Azka, kini dia cukup menyayangkan jika satu-satunya yang murni rekan Hurip tewas. Maka dari itu ia membiarkan Alia untuk tetap hidup dan mengincar bagian tubuh yang setidaknya takkan instan membunuh gadis tersebut.


Reza tersenyum tipis, ia membalas lambaian tangan Alia yang tengah kesakitan tersebut. Yang paling parahnya Hurip sama sekali tidak sadar, bahwa Alia tengah menderita dan mencoba terus memanggil namanya dengan suara lirih pelan.


***


Sesudah membawa seluruh benda, mereka berdua berniat akan keluar dari bawah tanah. Andaikata Hurip tidak menengok ke samping, mereka tak akan berhenti dan menjumpa sebuah tulisan-tulisan aneh dimana Alia kesulitan membacanya. Seluruh aksara pada batu ini sangat jauh dengan aksara dunia ini.


"Di masa lalu, bahkan jutaan tahun yang lalu huruf-huruf ini tidak pernah ada. Tapi.. mengapa keluarga dan diriku bisa membacanya?" Batin Hurip.


Pada batu besar terdapat ukiran bertuliskan: Mereka berpindah-pindah memijak daratan. Tampil pula prajurit beramuk-amuk nan bertikam diantara naungan seluruh aditokoh warita dunia.


Masing-masing tiap tindakan, berawal khalayak remeh renik ... mampu tuk mengutik jemari ujung lengan waktu mencapai janjinya. Tiada sedia perihal remeh di dataran kita, sepanjang mereka menghendaki perkara terpenting dan senantiasa mampu bersaing menggerak jari-penunjuk waktu.


Mendadak Hurip melempar Candrasa, tangkainya mengeluarkan panas yang luar biasa panas, sehingga refleks Hurip melemparnya. Sesudah Hurip mengambilnya walau merasa panas, dia mengetahui jikalau mungkin Candrasa ada hubungannya dengan batu ini, berhubung ia bisa paham dengan aksara ini.


"Eh?" Hurip terkejut ketika dia mendekatkan pedang kakeknya dekat tulisan. Malah disamping batu, terdapat tulisan lain tercipta, seperti tengah ditulis.


Pada batu ke-dua diukir tulisan: Bahkan perwira menyandang gelar adiraja nan adipurna tidak sudi menamakan sendiri selaku yang dipertuah tanpa kaum nista beserta kaum kebiadaban pada janabijana miliknya. Biarpun kekejaman tidak dihajatkan, tuan merasa gelebah menjumpa sosok..


Hurip menyalin semua tulisan ke atas kertas, usainya dia langsung menghancurkan kedua batu tersebut, walau Hurip merasa jikalau kalimat terakhir bukanlah ujung dari kata-kata tersebut. Tidak panjang pikiran mengenai perkara ini, mereka mengangkat kakinya.


Mereka mencoba untuk menyusuri jalan pintu keluar, nyatanya Hurip sulit menemukannya. Dikarenakan Hirup agak terburu-buru, dia menempelkan sihir tuk memperkuat kekuatan dan menghancurkan seluruh tembok yang menjadi hambatan bagi mereka.


"Dinding terakhir!" Hurip memukulkan kepalan tangan yang diperkuat sihir. Begitu dia mendapatkan sinar matahari, dia bergegas keluar dan menghela napas.


Mereka ternyata membuat terowongan menuju keluar, justru disamping mereka, tepat pintu masuk yang mereka gunakan sebelumnya. Hal tersebut tidak membuat kaget, justru, pemberi misi pencarian yakni bangsawan sebelumnya terkapar di hadapan pintu gerbang reruntuhan bawah tanah.


Hurip dan Alia bergegas menghampirinya, pria yang berstatus bangsawan ini sudah meninggal. Alasan yang pasti bukan karena hewan, melainkan seluruh badannya terdapat lubang-lubang bekas tembakan pistol. Membuat Hurip menghela napas panjang.


"Sebenarnya apa yang tengah terjadi disini?" Tanya Hurip dalam hati. Awalnya mereka akan bergegas menuju kediamannya, justru menjumpai mayatnya depan pintu seakan-akan melakukan penyambutan.


"Alia?!" Hurip menangkap badan gadis ini. Sontak dia dikagetkan dengan tiga luka dari senapan, jelas sekali dia tidak mendengar adanya suara tembakan, membuat Hurip berdecak kesal dan mencoba untuk melakukan teleport. Cahaya menelan mereka, tetapi tidak terjadi apapun dikarenakan sihir Hurip gagal.


Hurip melihat lukanya, tapi tidak ada tanda-tanda dia sembuh. Segera Hurip mengambil botol ramuan penyembuh, tapi tidak berpengaruh apapun terhadap luka-luka Alia. Lelaki ini berdecak kesal. Lalu, dengan tergesa-gesa dia menggendong Alia menuju kota.


"Tunggu sebentar!" Hurip tiba-tiba terhenti.


Dia tidak sadar bila tidak ada tanaman, pengobatan secara tradisional. Jarang di kota adanya ahli obat-obatan, disebabkan obat telah luput sejak datangnya zaman sihir beserta ramuan. Yang berada dibenak Hurip pun sekarang perkampungan atau pedesaan.


Hurip berkeputusan untuk mencari perkampungan terdekat, kebanyakan ahli obat berada pada pedesaan, akibatnya banyak penyakit yang tak dapat sembuh dengan sihir. Laki-laki ini menarik napasnya dan menggerakkan kedua kakinya dengan bergegas.


Mendadak Hurip terhenti berlari, ia menghindar dari terpelesat peluru dan menembakkan bola api mengarah kepada penembak. Begitu melihat sebuah senapan laras panjang. Hurip kaget, dari pengalaman pertempuran sebelum merekrut dua orang rekan, orang yang menghadangnya seorang penembak jitu.


"Tolong berikan gadis itu kepadaku.." penembak jitu ini mendekat perlahan-lahan sembari tidak pernah lengah untuk melepaskan kontak mata dngan Hurip.


Begitu pula dengan Hurip, dia menurunkan Alia ke tanah dan membaringkannya tanpa sedikitpun menoleh ke arah lain selain musuhnya. Ketika lawan sudah mengangkat senapan, Hurip bersicepat menghunuskan Candrasa menentang musuhnya.


Lawan menembakkan peluru yang terpelesat cepat, tapi Hurip berhasil memukul dan mereka seakan-akan tengah bermain baseball. Dalam waktu singkat Hurip mencapai lawan, lawan langsung mengganti senjata, sehingga mereka berdua saling adu pedang.


Dentingan bunyi kedua bilah pedang yang saling lagi terhantam satu sama lain menghiasi suasana hutan, keduanya seimbang dengan cara mereka masing-masing. Hanya mengayunkan pedang mengandalkan prediksi masa depan serta kecepatan, sementara lawan, menggunakan teknik gaya berpedang dan alat prediksi yang terpasang pada kedua matanya.


"Bisakah kau membuka topengmu itu?" Tanya Hurip usai berdecak kesal dengan raut muka jengkel.


"Ugh! Alat ini tidak bisa memperlambat gerakan dari lawan lagi," batin lelaki ini. Dibalik topeng terdapat Azka yang tengah merasai sakit pada dua matanya.


"Matilah kau!" Hurip mendorong lawannya segenap tenaganya. Alhasil Azka terpelanting jauh bahkan tanpa kehadiran sihir membantu pertarungan Hurip.


Azka memburu napas. Semua perlengkapan tempur yang terpasang di badannya mengepul, uap keluar melalui sela-sela kecil alat tersebut. Menggerakkan satu tangan saja Azka kesulitan. Akibatnya hantaman kedua mengenai letak wajah meretakkan topengnya.


"Lalu, apa gunanya kami sudah payah mencuri sihir penyanggah tingkat paling tinggi? Toh, sama sekali tidak berefek pada Hurip.." gumamnya.


"banyak sihir sepertinya tidak bisa digunakan, alasan yang ada mungkin dia memakai penyanggah.. selama ada Candrasa aku tak perlu khawatir kalah sepertinya.." batin Hurip. Sewaktu bermaksud untuk memberikan lawan luka kembali Hurip terhenti.


Robot raksasa mendarat di belakang penembak jitu ini, pintu pada dadanya terbuka, memperlihatkan seorang pilot menunjukkan muka kesal. Ia menekan sebuah tombol. Seusainya pelontar rudal pada bahu robot, penutupnya terbuka, membuat Hurip gelisah.


Ketika pilot berniat memusnahkan Hurip, Azka cepat menghentikannya dan kabur dari mereka sesudah melemparkan sebuah granat kecil. Ia menyarungkan Candrasa kembali seraya berjalan menghampiri Alia, luka yang ada belum pulih, membuat Hurip musti membawa Alia ke desa maupun kampung terdekat.