Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
11



Nyatanya mereka ternyata melompat sejarak empat meter dari jarak awal disebabkan Hurip tidak pernah pergi ke kota mati, akibatnya dia tidak memindahkan mereka ke tempat tujuan, melainkan hanya beberapa meter ke depan. Hurip bermaksud akan membentak Azka, tapi Alia menghentikannya.


"Kalian bebas bertengkar lain kali. Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan saja," ujar Alia tergesa-gesa.


Keduanya mengangguk bersamaan. Mereka berdua memanggil raksasa batu, selagi masih belum gelap Hurip dan rekannya bergegas. Sepanjang perjalanan menuju kota mati, kini mereka hampir sampai, tetapi tiba-tiba ada burung yang bertengger di bahu Hurip.


Ternyata ada sebuah gulungan kertas pada kakinya dan Hurip mengambilnya, dia membuka kertas, menjumpai peta kota yang menunjukan lokasi-lokasi tempat gulungan sihir berada. Dia menghela napas dan menuliskan surat kepada Ria sebagai balasan.


"Uwah.. gue pikir elu bakalan gunain sihir telepati atau semacamnya," kata Azka menampilkan senyum seakan merendahkan seseorang di sampingnya.


Sesampainya ditempat mereka dikagetkan dengan kita yang menjadi sarang monster, biarpun robot-robot lagi membersihkan mereka, Hurip menonton pemandangan ini tidak menyenangkan. Dirinya kini mengambil peta menyadari tujuannya ada di pusat.


Dia melihat ke tengah-tengah kota, terdapat sebuah bangunan, yang pasti bukan milik dunia ini. Karena tidak ada benteng yang seperti itu. Sebab perihal itu Hurip memasuki kota bersama Azka dan Alia, mereka melewati pintu langsung disambut monster.


"Tidak ada yang namanya kematian bagi kalian asal jangan terlalu menjauh dariku," ucap Hurip tanpa sedikitpun menolehkan mukanya pada lawan bicara.


Monster belalang sembah raksasa mulai menyerang Hurip, ketika dua tangan tajam terayun, bertepatan dengan Alia menebaskan pedang. Kedua tangannya terpotong disusul Hurip bersicepat melompat, lalu dia memenggal kepala lawannya secepat mungkin.


Hurip mundur ke belakang, mereka melindungi Hurip selagi merapalkan mantra sihir. Selama beberapa detik seusai lisannya habis, awan-awan hitam yang menyembulkan petir merah tertampak, berkumpul di atas kota membuat kengerian mendalam bagi lawan Hurip sekarang di tempat ini juga.


"Matilah kalian!" Teriak Hurip melemparkan tombak ke angkasa hingga menembus awan. Tanpa musti menunggu lama akhirnya langit menjawab panggilan Hurip, kali ini, petir yang menghantam tanah tidaknya hanya satu melainkan puluhan sambaran.


"Hebat banget.." lirih Alia terkagum-kagum mendapat tontonan menarik. Selagi laki-laki di samping gadis ini tertegun memperoleh di langit seakan milik Hurip.


Hurip menarik senjatanya, pada ujung bilah tipis di pedang Candrasa menyembulkan api putih. Secara beruntun dia mengayunkan pedang. Melepaskan tebasan api putih, setiap melewati mahkluk hidup, api itu membakar semuanya hingga menjadi debu.


Dalam penglihatannya begitu banyak benang merah berusaha mencapai dirinya, namun Hurip sesegera mungkin memotong tiap mahkluk, khusus musuhnya yang besar. Dia terpelesat dengan gerakan kegesitan menyilaukan mengikuti lintasan pedang api meruak ke seluruh tempat yang dilalui bilah.


"Alia! Cari dan tuntun selagi aku menghabisi mereka semua.." titah Hurip melemparkan peta di tangannya.


"Dia belum serius? Candaan macam apa ini," ujarnya Azka memperoleh monster yang habis bertukar jadi debu selepas ia menyentuh bilah pedang milik Hurip.


Hurip berlari paling depan, selagi Alia menunjukan arah menuju letak pusat kota, Azka melindunginya dari belakang. Mereka berlari sekuat tenaga untuk mencapai tujuan. Pada di tengah perjalanan, seekor monster meraung, Hurip menghentikan langkahnya dan menyuruh kedua berlindung serta menjaga jarak.


Peluh mencicik dari dahi Hurip sewaktu menjumpai monster ini kembali. Dengan perawakan meraksasa serta tubuh-tubuh robot yang menempel pada badannya, menjadikannya sebagai monster dengan pertahanan terkuat, disebabkan Hurip mengetahui mahkluk ini menghancurkan robot besar yang telah mati dan memasukinya bagaikan cangkang.


"Kembalilah kepada pangkuan pencipta!" Teriaknya menarik anak panah sembari berlari. Anak panah pun terpelesat dari busur dan mengenai muka musuhnya.


Hirup berdecak kesal dan mengganti senjatanya ke pedang. Dengan tangan kiri kosong, Hurip langsung mencengkram erat tubuh monster dan bersicepat mengangkatnya. Dia cepat mencampakkan monster tersebut hingga meluluhlantakkan area sekitar.


Rantai merah keluar dari tanah, lalu melilit tubuhnya seraya berusaha menariknya masuk ke dalam tanah, meskipun monster tidak berdiam diri dan membuat belasan tangan panjang menarget lawan. Hirup tahu ada belasan lengan datang, dikarenakan Hirup buru-buru pindah, alhasil mereka mencambuk tanah tempat Hurip berpijak dari bertumpu pada kakinya.


"Tidak habis-habisnya! Kapan ini selesai?"


Walaupun Hurip memotong tiap-tiap lengan lawan, benda itu terus memanjang setiap terpotong memicu amarah Hurip. Dikarenakan Hurip enggan berlama-lama, dia menghunuskan pedang lain, dia kini memegang kedua pedang yang telah terbungkus oleh api biru dan merah kehitaman.


"Dengan ini aku jamin kalian tidak akan bisa kembali beregenerasi lagi!" Kata Hurip berteriak-teriak.


Hirup mendorong menggunakan kedua pedangnya sehingga para cambuk sedikit terdorong mundur, dengan cepat dia membalik tangkai senjata, lalu dia menggerakkan tubuh supaya berputar searah jarum jam. Kedua pedang miliknya pun berhasil memotong banyak lengan lawan yang bagai cambuk tersebut.


Tidak usai menyerang, Hurip melantingkan jauh-jauh senjatanya hingga menusuk badan lawan begitu melewati para lengan cambuk. Bertepatan sewaktu ujung kedua pedang menyentuh lawan, mendadak cahaya menelan Hurip dengan cepat buat laki-laki ini memperoleh pedang kepunyaannya itu kembali.


Dia menguatkan dorongan tuk menusuk lebih dalam memicu raksasa menjerit-jerit kesakitan, lalu lengan yang dimilikinya bermaksud akan menyerang, tetapi Alia dan Azka menembakkan sebuah sihir cahaya memotong seluruh cambuk kepunyaan monster ini.


"Tusukkan pedang itu hingga perutnya jebol!" Teriak Alia mencoba untuk menyemangati ketua timnya.


Hirup mencabut senjatanya kembali, kemudian dia mengayunkan pedang memberikan tebasan beruntun dan gencar tanpa henti. Saat-saat terakhir Hurip mengangkat pedang kanan, ia memberikan pukulan ke bawah menghadiahkan luka fatal tebasan yang dalam menghancurkan besi yang jadi bajunya.


Disusul menebaskan pedang dalam dua titik sudut yang bersebelahan ke kiri kanan, diikuti tebasan api garis lurus kanan kiri, lalu diakhiri dengan Hurip melompat ke atas dan memutar tubuhnya selayak gasing memotong habis semua lengan cambuknya.


"Candrasa. Tunjukkan kekuatan yang kuasa untuk menggetarkan dunia!" Teriak Hurip.


Sebelum mendarat Hurip melakukan ayunan dengan berkekuatan tinggi dari posisi atas kepala, hingga dari ujung atas hingga bawah monster yang menjadi lawan Hurip mendapatkan luka. Disebabkan monster belum mati, Hurip turun ke tanah menghadapnya.


Hurip tanpa menunggu lawan bereaksi apapun, kini dia menebaskan senjata dengan lintasan pedang berbentuk silang atau huruf X dari atas ke bawah, lalu membalikkan cengkraman tangkai pedang dan mengulangi tebasan sebelumnya mengikuti lintasan serangan sebelumnya dari bawah ke atas.


"Hahh.. hahh.. akhirnya selesai," kata Hurip memburu napas selagi tubuh monster ini terbelah menjadi tiga bagian. Bertepatan dengan darahnya menciprati muka Hurip membuatnya terlihat seperti orang jahat.


"Gue kira elu bakalan mukul nih monster diakhir, nyatanya beda.." ujar Azka menghampiri Hurip yang lagi merasai lejar selepas bertarung dengan monster yang sudah menghancurkan setengah kota selama satu malam walaupun banyak kesatria menjaga kota.