
Selepas kejadian itu kepala desa bersicepat datang melihat muka Hurip segera ketakutan. Senyum ramah yang dimaksudkan Hurip diterima lelaki tua dengan berbeda, terasa bila ada hawa mengerikan, memaksa naluri bertahan hidupnya tidak menentang remaja laki-laki berambut hitam dan mata merah ini.
"Pak. Pedang milik kakekku ada di desa ini, bukan? Mengapa Anda tidak mengembalikan senjata itu meskipun tahu keturunan terakhir.." ujar Hurip seraya mendekat perlahan-lahan menatap kedua matanya.
Pria tua ini bahkan tak berani tuk melakukan kontak mata dengan Hurip, sehingga dia mendapatkan hal yang lebih buruk ketika Alianty menggunakan sihir miliknya lagi. Membuat jari kelilingnya berputar, lalu putus, membuat jeritan nyaringnya terdengar sampai setiap penjuru desa menangkap suaranya.
Alianty sudah mengetahui bila Hurip tengah marah, dia tidak menunjukannya dari luar, pancaran tatapan intimidasi dari matanya melebihi saat menakut-nakuti pria sebelumnya. Terlebih lagi ketakutan dari kepala desa tidak terlalu besar.
"Nilaimu dimataku sudah lebih baik Alianty. Teruskan kerja kerasmu seperti ini," ungkap Hurip.
"Pedang pusaka itu masih tersegel di gua ...!" Kata-kata kepala desa mendadak tersentak. Tindakan gadis belakang Hurip kali ini lebih parah, dia sudah membuatnya tidak mampu untuk melisankan kata.
Kepala desa yang merintih kesakitan ini menunjuk suatu bangunan. Begitu Hurip melihat arah kepala desa mengarah, dia menengok ke belakang, sewaktu dia mengangguk Alianty segera berhenti menusukan jarum pada leher boneka pada tangannya itu.
Seusai mencabut jarum tersebut kepala desa cepat batuk dan terlihat kesukaran bernapas. Dia bangkit melihat ketiga orang itu mendekati menara tengah desa, selagi ketiganya berjalan, orang-orang sekitar mengepung sembari semuanya membawa senjata.
"Kalian diizinkan membunuh. Kita sudah tidak butuh energi sihir kental, saat ini juga, aku akan memulai menghentikan pasokan energi ke tempat ini.." ujarnya Hurip membelalakan kedua mata kepala desa itu.
Selama ini Hurip yang memasok energi sihir lebih banyak ke desa ini. Sehingga ditambah dengan energi sihir alami dan energi Hurip, membuat para penduduk desa memanfaatkan ini, kemudian mulai menggunakan Candrasa sebagai pusat penyimpanan energi sihir kental yang luar biasa melimpah.
"Ah, makasih karena kalian sudah memberitahu cara untuk mengolahnya dan mengisi kembali sihir Candrasa.." kata Hurip menyeringai hadapan semua orang yang menyaksikan kehadirannya di tempat ini.
Kepala desa hanya menganga sedari tadi, senantiasa dia mengira naga yang dibunuh Hurip diluar hutan menyebabkan melimpahnya energi sihir. Nyatanya ia mempunyai perkiraan salah, sebab, semua ini adalah rencana pahlawan di depannya untuk mendapatkan pengetahuan serta mengambil kembali senjatanya.
Kedua rekan Hurip sudah bersiap-siap, ketika mereka sebelum menunggu perintah, Hurip berbalik badan dan menghentakkan kaki memanggil sesosok golem raksasa dari dalam tanah. Dia kini tertampak sedang menahan tawa keluar dari mulutnya melihat mereka.
"Jangan tertawa!" Teriak seseorang menerjang maju berniat menyerang Hurip. Sayangnya Alianty segera meremas boneka miliknya hingga hancur, hal serupa pun terjadi kepada semua yang akan menyerangnya.
HAHAHAHAHA!
Tertawanya Hurip membuat anak-anak beserta bayi di setiap rumah menangis menjerit-jerit. Suaranya menggema dalam pelindung. Selagi Alianty semasih melihatnya dan tersenyum, Azka menatap salah satu gedung yang membuatnya sangatlah penasaran.
"Inilah pahlawan yang dipuja-puja kah?" Batin Azka melihat Hurip menampakkan diri yang sebenarnya.
"Kejahatan apapun kan kulakukan, demi mewujudkan impianku selama ini, bahkan selama itu terwujud jika dunia ini jadi korbannya aku sama sekali tidak peduli dan biarlah.." ucap Hurip sembari berjalan melangkah meninggalkan kedua rekannya melawan mereka.
Hurip meninggalkan kedua rekannya tuk mengambil pusaka milik keluarganya kembali. Remaja laki-laki ini bersicepat membawa pedangnya balik. Bahkan ia tidak melihat keamanan apapun, hal tersebut buat, dirinya kesal meski begitu saja mendapatkan benda yang diinginkannya meski mengharapkan hal lain.
"Cepet banget. Perpindahan kejadian hari ini," ujarnya Azka tersenyum masam sembari menunduk jengkel.
***
Satu Minggu berlalu, tugas pertama mereka adalah pergi ke kota tempat berkumpulnya bangsawan. Ketiganya dalam kereta kuda bercakap-cakap, meski Hurip tampak enggan menjawab, keduanya seakan-akan memaksanya untuk membalas ucapan mereka.
"Alianty. Kita bakalan ke kota bangsawan, kan? Gue dari dulu nggak mau ke sana.." ucap Azka menghela napasnya memberitahu bila dia malas. Begitu pula wajah Hurip dan Alianty mengerti akan ekspresinya.
Kota bangsawan. Merupakan tempat dimana orang-orang penting berkumpul, kemananan begitu terjaga, bahkan kota itu memiliki belasan pengguna sihir tingkat paling tinggi. Hurip memperoleh sebuah atau satu pelajaran mengenai kota ini. Mereka akan cepat diserang oleh manusia dunia lain, pikir Hurip.
"Panggil aja aku Alia. Lalu, tugas apa yang diberi ke kita?" Tanya Alia sesudah menatap Hurip yang sedang merenung menatap ke luar jendela kereta.
"Kita akan mengambil gulungan sihir di kota mati, ya walau harus menghadap para bangsawan terlebih dahulu. Aku sudah mengancam supir untuk langsung saja ke kota tujuan kita," kata Hurip tersenyum kecil.
"Itu bagus banget!" Ujar Alia riang gembira mendapat kabar yang membuatnya lega. Reaksinya serupa sama Azka bersandar sambil menghela napas lega.
Mendadak Hurip meminta menghentikan kereta kuda dan turun dari kendaraan. Alia beserta Azka pun ikut, mereka menemukan seseorang, tentara dari dunia lain tengah berburu hewan. Menyaksikan hal ini Hurip mengendap-endap mendekati tentara tersebut.
Perlengkapan yang digunakannya terlihat ringan dan tipis. Hurip kali ini tidak gegabah. Dia lebih memilih mengintai kegiatan mereka, karena dahulu, ia pernah melawan mereka dengan pedang dan hasilnya Hurip kalah dengan beberapa tembakan mengenai kepala.
"Alia. Berapa berat baju zirah besi?" Tanyanya Hurip.
"Eh? Ah, mungkin sekitaran 5 kilogram.." jawab Alia sembari membuang muka tampak ragu-ragu. Hurip menghela napas karena beratnya melebihi belasan.
"Napa lu nggak langsung bilang, mau ngelakuin perbandingan sama tuh zirah?" Tanya Azka menoleh kepada Hurip. Hurip tidak merespon melainkan kini terfokus pada perkemahan tentara yang diintainya.
Selama hitungan menit mereka mengawasi, tentara di tempat itu berjaga-jaga depan salah satu kemah dan ada yang memasak juga. Melihat ini bagi Hurip mengecilkan kemungkinan menang. Dikarenakan kesatria mereka jikalau tak ada makanan bukannya mencari justru kembali tanpa hasil.
"Aku rasanya ingin mencaci maki mereka semua sekali lagi.." ujar Hurip. Dia menutup mata kanan dan mengamati mereka lebih dekat memakai sihir untuk mengintai lawan seperti sebelumnya.
Sontak matanya membelalak menemukan sebuah hal yang amat menakutkan. Dia berpikir jika perkara itu dilanjutkan, maka akan menjadi senjata yang begitu menakutkan dan menjadi mimpi buruk untuk dirinya selama-lamanya. Dikarenakan hal tersebut ia berniat untuk memusnahkan mereka di tempat.
Serentak Azka sesegera mungkin memukul Hurip membuatnya terpental jauh. Hal tersebut memicu datangnya para tentara, mereka bertiga pun bersicepat mundur, walaupun Hurip tidak berniat tuk tetap diam. Dirinya memiliki mata beringas bertuju pada semua musuhnya itu.