
Alianty bertugas memantau lawan mereka sebelum Hurip lebih siap. Bertepatan sewaktu pahlawan ini menyiapkan peralatan, Azka mengetahui jikalau dia memakai jubah tempur dan senjata pedang. Bahkan pelindung pada dadanya kelihatan sulit ditembus.
Hurip yang telah mengatur segala sesuatu sebagai perlawanan, menghindari kesia-siaan belaka. Dia mengintip sedikit, benda itu bersicepat melontarkan peledak, Hurip sudah pernah melawan hal serupa Hanya kali ini mata yang dimiliknya lebih baik.
"Kalian jangan mendekat jika aku belum memberikan perintah!" Ujar Hurip berlari menuju musuh.
Robot berwujud manusia beralih ke mode tempur jarak dekat, dia menghunus pedang dan menolak tebasan Hurip. Mereka saling beradu pedang sejenak, semasih ketika Hurip melemparkan sihir angin membuat lawan terdorong ke belakang.
Mendadak bilah pedang Hurip terselimuti api putih yang meruak ke pergelangan tangan. Dia bersikap tinggi seolah-olah tengah menghormati lawan. Seketika Hurip sampai di depan lawan, perpindahan atau pergerakannya tidak dapat diikuti mata robot maupun manusia yang menonton pertarungannya.
"Kecepatan cahaya? Tidak, mungkin kegesitan dari pahlawan ini melebihi..." Batin Azka menyaksikan pertarungan diantara mereka berdua dari kejauhan.
Semasa ujung jari tangan kiri Hurip mencapai lawan selagi tangan lain menghela pedang, robot segera bereaksi cepat, matanya bersinar dan matanya Hurip terkena sinar tersebut. Akibatnya serangan dadakan dari Hurip patah karena dia disilaukan oleh lawannya.
Lawan menendang Hurip membuatnya terlempar hingga menabrak pohon, dan menghancurkan empat pohon agar Hurip terhenti. Selagi lelaki itu berusaha untuk bangkit kembali. Robot menghujaninya dengan gencar peluru, hal tersebut buat Hurip menciptakan sebuah dinding kristal selaku payung.
Hurip bersicepat berdiri, dia menghela napas ketika bilah pedang pada genggaman mulai bercahaya merah. Menyaksikan perubahan pada mata beserta senjatanya, Azka tidak mengharapkan kemenangan, ia hanya ingin menilai sejauh mana kemampuannya.
"Aku kan mengantarkan dirimu kepada pangkuan pencipta. Jika kau adalah mahkluk hidup!" Bentak Hurip menekan kedua kakinya pada tanah lebih kuat.
Tanah disekelilingnya hancur, sontak saja begitu dia menerjang dengan kekencangan luar biasa sangat menyilaukan Hurip mendaratkan pukulan pada lawan hingga terpental. Dalam cakupan radius sekitar tiga meter Hurip menumbuhkan kristal bentuk duri seusai dia mengentak tanah sekuat tenaga.
Karena robot jauh dari tempat Hurip, dia tak terkena tusukan kristal duri. Walaupun Hurip mengharapkan hal lain. Dia menghiraukan lawan saat pundak mulai mengeluarkan sebuah benda, benda persegi tersebut terbuka dan membiarkan peluru kendali mengincar Hurip, membuatnya lari dikejar benda tersebut.
"Rudal kayak gitu cukup repotin. Mirip kayak sihir yang dikendalikan penyihir, tapi rudal mengejar sasaran tanpa harus dikendalikan.." ucapnya Alianty.
"Untung kami sengaja memberikan informasi kepada mereka agar mata-mata sepertiku bisa berbaur dan alasan lainnya.." batin Azka menatap gadis disisinya.
Selagi Hurip menghadapi benda mati bergerak ini, kedua rekannya berniat membantu dengan memakai sihir serangan kiat. Tindakan yang akan dilakukan mereka diketahui Hurip, Hurip langsung menembak mereka dengan sihir angin memberikan peringatan.
Ketika dia berjarak cukup jauh, dia menyarungkan kembali pedangnya dan mengumpulkan angin pada sekeliling. Sebelum para rudal mendekat dia cepat menyentak pedang keluar, kemudian bertepatan saat rudal telah cukup dekat tercipta angin puyuh sekitar tubuh Hurip melindunginya dari berbagai serangan.
Hirup berniat mengembalikan rudal milik lawannya, justru lebih dulu meledak menyebarkan asap hitam dan Hurip menutup mulutnya. Sudah beberapa banyak dia menemukan robot yang menggunakan racun, karena itulah dia menutup mulutnya memakai kain ditambah sihir pelindung tebal depan muka.
"Aku kesulitan bernapas waktu ada penghalang di depan hidung dan mulut.." batin Hurip.
Hurip menghilangkan asap menghalangi pandangan dengan sekali ayun pedang. Lawannya kini sedang berjalan menghampirinya. Bersicepat keduanya tidak berlama-lama dan saling bertemu, dentingan suara dua bilah pedang bertemu melatarbelakangi tempat.
"Kau betapa tidak tahu kesalnya diriku saat melawan musuh yang terus berkembang setiap minggunya. Bisakah kalian tak memperbaharui mesin aneh kalian itu huh?" Kata Hurip memegang erat senjatanya.
Tiba-tiba tegangan tinggi petir terlihat menyembul-nyembul keluar dari bilah besi tipis itu, menyaksikan itu Azka menghela napas dan memejamkan mata merasa mungkin bahan robot tersebut tidak mampu untuk menyaingi Hurip yang sekarang ini.
Lawan Hurip sekarang menyalurkan listrik dari daya miliknya pada pedang, mereka saling menatap, sebelum sesaat keduanya terpelesat dengan tanpa suara dan kegesitan yang menyilaukan. Azka yang menjumpai robot itu mengimbangi kecepatan Hurip tercengang perkiraannya itu sedikit salah.
"Mesin itu bisa menyaingi Hurip? Seharusnya hal itu termasuk diluar akal sehat.. tidak, sihir pula masuk keluar akal. Mungkin saja para peneliti memberikan sihir atau semacamnya pada benda itu."
"Azka. Apa yang harus kita lakuin?" Tanyanya Alianty terlihat gelisah menonton kilatan dua cahaya saling beradu pedang sembari lari-larian.
Tanpa tidak terduga robot terhenti bergerak, kedua kakinya terbakar dan dadanya terbuka mengeluarkan uap. Melihat hal tersebut Azka sadar dia mengalami overheat atau kepanasan. Mendapati lawannya kini berdiam, Hurip memelesatkan diri, bermaksud akan menusukan senjatanya dan membelah dua robot itu.
"Akhirnya kau kelelahan, rongsokan!" Teriaknya Hurip berusaha mengentak pedang pada dada lawannya.
Semua orang terkaget. Justru saat-saat terakhir ini Hurip tertusuk, robot langsung aktif begitu Hurip sampai di hadapannya dan langsung menusukkan pedang. Tetapi karena Hurip mengelak supaya tidak terlalu mengenai serangan, pundaknya pun terkena tusukan, membuatnya lengah dan terpukul.
Robot melepaskan senjatanya, lalu dengan cepatnya menyundul Hurip sehingga terlempar dan berguling-guling hitungan meter dari lawan. Robot memungut pedang Hurip, tampak jikalau robot itu terseok-seok dalam berjalan, daya yang digunakannya untuk dapat menyamai kecepatan Hurip kini nyaris habis.
"Hurip!"
Alianty menghunuskan pedang, sarung pedang dia lemparkan pada lawan dan berusaha melindungi Hurip. Bersamaan ketika robot mengayunkan pedang sarung milik Alianty terpotong, begitu pula dirinya, dia terkena tebasan di pipi sebelum gadis ini datang pada Hurip dan berdiri di hadapan lawan mereka.
"Selangkah lagi bakalan aku potong kecil-kecil. Besi hidup!" Kata Alianty.
"Apakah ini rasanya rekan sendiri pun mengabaikan perintah dari ketua?" Tanya Hurip berupaya bangkit.
Gadis ini diam bergeming. Sewaktu robot menusuk perutnya, Alianty cuma mengambil sebuah boneka, dia mencekik leher mainan itu dan memutar kepala dari benda itu. Bertepatan robot tersebut mendapat tusukan di bagian perutnya dan kepalanya berputar, layaknya burung hantu, lalu terpisah dari badannya.
Lawan mereka kini tumbang dengan pengorbanan dari Alianty. Keduanya tumbang, terkapar di tanah, membuat Hurip tertegun memperoleh pemandangan tak tersangka ini. Hurip bertumpu pada kedua kaki, kemudian berusaha membangunkan Alianty.
"Regenerasinya ..." Azka datang dan berkata tiba-tiba begitu melihat lukanya pulih. Kemampuannya mirip seperti pengguna boneka tumbal, tetapi Hurip tidak menyangka, pengguna teknik Khitam masih bertahan mengingat sihir ke-sebelas ini sudah terlupakan.
"Mengapa robot ini mengabaikan perintahku?" Tanya Azka dalam hati semasa melihat luka Alianty. Dia tahu bahwa mungkin saja Hurip akan memilih gadis ini ketimbang mencari pemukiman pengguna energi sihir kental, tapi Azka hanya dapat mengharapkan.