Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
07



Perlahan-lahan kelopak mata Alianty menyingkap mendapatkan pemandanfan seseorang, cepat Hurip membelai rambut gadis ini. Segera dia datang, merangkulnya, dalam dekapan hangat seorang gadis Hurip terpaksa melakukan hal semacam ini.


Sihir Khitam, angka ke-sebelas dalam tingkatan dari semua sihir dunia ini yang terbagi menjadi dua puluh macam sihir. Mereka menggunakan benda berharga maupun boneka untuk melawan musuh. Sangatlah banyak negara melarang penggunaan di sihir Khitam.


"Tanpa iming-iming kehormatan, aku cukup suka pada sihir ini yang efektif membunuh mahkluk hidup. Ya itu pertanyaannya, mengapa robot itu..." Gumam Hurip sembari merangkul Alianty yang ketakutan.


Ditambah pemakai sihir Khitam akan ketakutan bila menggunakan boneka, karena efek ketakutan mati, jikalau musuh tidak terkena sihir ini. Maka membalik kepada pengguna sihir. Justru, Hurip pikir karena Alianty belum cukup memiliki mental maupun watak yang kuat untuk menggunakan sihir ini.


Dikarenakan Hurip mengenal beberapa pengguna sihir Khitam, mereka tidak peduli yang namanya kematian, asalkan pengguna sihir berani sihir Khitam akan menjadi sihir paling mematikan. Walau Hurip tidak bisa menggunakannya meskipun mempelajari, dia merasa Alianty tidak sepenuhnya tak berguna.


"Mungkin memperalatnya dengan bujuk-bujuk cinta tidaklah sepenuhnya salah.." batin Hurip tersenyum tipis menguatkan pelukannya balik.


***


Mereka melanjutkan perjalanan seusai beristirahat sejenak, pria yang diselamatkan oleh mereka menuntun ke perkampungan. Hirup sudah pernah mencapai desa ini, tetapi penghalang desa memiliki ketebalan tinggi, sehingga Hurip musti melepaskan sihir berkekuatan tinggi untuk masuk.


"Lain cerita jika ada penduduk sengaja membuka pintu untuk masuk.." ujar Hurip dalam hati.


Dia memejamkan mata kirinya. Saat pria ini meminta mereka untuk menunggu, semua mengangguk, kecuali Alianty yang masih menempel erat memeluk Hurip dari samping. Hurip menggunakan sebuah sihir yang mampu membuatnya mengawasi lawan dari jarak yang jauh, layaknya CCTV bergerak.


Pria itu menaikan tuas sembari menyalurkan energi sihir kental, sembari mengucapkan kalimat. Hurip tidak mendengar kata-katanya, tapi membaca gerak bibir selagi dia berlisan, sehingga dia mengetahui cara menyusup ke pemukiman tnpa perlu membawa seseorang yang mengetahui kodenya.


"Wah.. penghalang langsung menipis," ucap Reza semasa pelindung secara bertahap hancur seukuran pintu membiarkan mereka semua masuk.


Hurip menghela napas. Dia begitu benci menjumpai bangunan-bangunan tinggi, dari sudut pandangnya, dirinya seolah-olah melihat bangunan pena merobek kertas di langit. Sementara Azka membelalakan dua mata sembari menganga lebar mendapati hal ini.


Langsung terpikir olehnya jikalau bangunan tempat ini bukanlah mirip, melainkan melebihi kata serupa, selayaknya gedung pencakar langit. Meski tampak sangat tua Azka tidak pernah tahu ada tempat, mirip sekali dengan bumi tempatnya berada.


"Lalu, aku ingin bertemu kepala desa. Dimanakah dia sekarang ini?" Tanya Hurip menghentikan langkah pria yang hendak mengundang mereka ke rumahnya.


Pria ini menunjuk salah satu gedung yang ditunjang oleh batang kayu. Rumah yang ditunjuknya itu kini membuat Azka bersama Alianty beserta Hurip cepat menganga lebih lebar, dikarenakan kayu tersebut dapat menopang berat bangunan yang meraksasa.


"Sebelumnya itu sama sekali tak ada. Apa itu batang pohon Awet?" Tanya Hurip dalam hatinya sembari buru-buru berjalan menghampiri bangunan tersebut.


Sebelum mencapai rumah kepala desa, seseorang menghentikan langkahnya dan Hurip terdiam. Dia mengaku sebagai penjaga desa ini. Berteriak-teriak memicu orang lain melihat, hal tersebut membuat para warga memasuki rumah, menjadikan suasana sepi seakan-akan mereka sama sekali tak disambut.


Dengan gesitnya kesatria mengelak tebasan Alianty, disebabkan tindakannya barusan memicu amarah gadis ini. Hurip yang menonton tidak berniat untuk turun tangan. Sewaktu gadis itu menahan hantaman pedang kesatria, lalu, begitu Alianty membalikan cengkraman tangannya dan melakukan tebasan dari bawah ke atas memberikan luka dalam.


"Pengguna sihir Khitam setelah menggunakan sihir mereka akan mendapatkan sifat yang lain. Mungkin akan lebih tepat disebut.. kepribadian lain.." batin Hurip lagi menyaksikan pertarungan mereka berdua.


Gadis ini menghindari serangan mencoba untuk mengambil kesempatan. Kedua matanya terfokus pada lawan, secara bertepatan juga menarget tangan lawan. Semasa kesatria sedikit kehilangan keseimbangan Alianty bersicepat menarik senjata mendorong pedang lawan hingga lepas genggaman.


Sebelum kesatria terjatuh ke tanah, Alianty sesegera mungkin merampas balik tenaganya dan membalik pedangnya untuk memotong tangan lawan. Melihat aksi Alianty, Hurip mengetahui bila dia melakukan pertarungan dengan alasan membalas perbuatannya pada diri Hurip dan tujuannya hanya sebatas itu.


"Kau takkan ku maafkan. Semua sihir regenerasi di dunia ini tidak akan bisa menumbuhkan tanganmu kembali jikalau kau tidak bersujud kepada Hurip ...!"


"Ketua. Dia kayaknya bakalan jadi tergila-gila sama elu, gimana tuh?" Tanya Azka tersenyum kecut. Di raut wajah Hurip tidak memberikan jawaban maupun tebakan untuk ungkapan kalimatnya.


Tiba-tiba ada cahaya merah menyembulkan sebuah botol berisi cairan hijau cerah. Ketika Hurip berniat memberikannya ramuan penyembuh, pengguna sihir Khitam, menghalangi jalan lelaki ini. Dengan wajah cemberut Alianty menggelengkan kepala berulang.


Hurip menghela napas sebelum dia berpindah cepat ke samping kesatria. Walaupun dalam waktu yang lambat Hurip bergerak normal, dia mampu membuat orang lain seakan-akan melihatnya berteleport, karena Hurip sadar jikalau dia merasa ini diperlukan untuk melawan sihir penyanggah.


"Ini ramuan yang bahkan setingkat dengan cairan pembangkit kehidupan. Jika tangannya tidak sembuh balik, maka nilai Alianty melebihi empat harta negara.." batin Hurip menyirami tangan ksatria.


Selepas menunggu beberapa menit ksatria ini malah berteriak-teriak meminta pertanggungjawaban, selagi Hurip merapalkan mantra penyembuhan, lagi dan lagi Alianty menginjak lehernya. Dengan wajah penuh amarah gadis ini memaki dan membentaknya.


"Bakalan ku buat kau kehilangan jiwa agar kau gak bisa dihidupkan lagi!" Teriak gadis ini menyentak senjatanya lagi. Tetapi kali ini berbeda jauh dengan sebelumnya, ada api hitam menyelimuti pedangnya.


Hurip menghela napas sebelum dia membelai-belai rambut Alianty dan berkata, "turunkan senjatamu jikalau kau ingin menjadi senjataku dan mengabdi kepada diriku, maka kini patuhi perintahku sekarang."


"Maafin aku.." lirih Alianty. Dia menyarungkan kembali pedangnya sembari menatap wajah lelaki bernama Hurip Kausa Darma yang menjadi pemimpin timnya.


Yang membalut bilah pedangnya bukan sembarang api, melainkan sihir pemanggilan, memanggil dari alam kematian dan memerintahkan panas mengitari senjatanya. Dengan kata lain bisa dibilang Alianty ini menguasai sihir kuno yang paling kuat.


Bila dia meneruskan serangan, maka kata-katanya itu akan menjadi kenyataan. Siapapun yang mati karena sihir tersebut akan tidak dapat dibangkitkan lagi. Dan bahkan jiwanya pun ikut lenyap. Hurip kini menghela napasnya menimbang-nimbang seberapa banyak dia mendapatkan kejutan dari mantan kekasihnya ini.


"Ya. Aku baru menyadari, memalsukan kematian itu cukup meresahkan.. apalagi bertemu dengan gadis yang pernah menyukaiku. Meskipun sekarang dia mencintaiku, bukan menyukaiku lagi secara fisik atau kulitnya saja.." batin Hurip menatap gadis di dekapan kedua tangannya tengah terlelap dalam ketenangan.