Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
15



Kerajaan Bahadur ialah sebuah negeri berkumpulnya kesatria beserta para penyihir, tempat yang terbilang aman dikarenakan tempat berkumpulnya orang-orang yang berkeinginan tuk mengusir penjajah dari dunia lain. Karena itu mereka memperkuat kekuatan dengan mengumpulkan semua sahir dan kesatria.


Hurip menjadi orang terpenting dan yang paling kuat diantara para kesatria, sehingga ketika ia pulang dan terluka cukup parah karena ulahnya sendiri, kesatria lain terperanjat kaget agak panik. Sedangkan para sahir tingkat tinggi hanya sedikit kaget, dalam sekali lihat mereka tahu cedera Hurip dari sihir mematikan.


Kereta kuda berhenti. Hurip turun dari kereta kuda, ia menolak bantuan Alia begitu dia menawarkan diri untuk membantu berjalan, sementara Hurip memilih menggunakan sihir angin. Melayang menuju tempat tujuannya, yaitu istana kerajaan, membuat dua rekan setimnya ragu dan bimbang untuk mengikuti ketua.


"Jika ada yang macam-macam teriakan saja namaku apalagi bila ada yang macam-macam padamu, Alia."


"Begitu?" Azka menghela napas dan membatin, "ah dia hanya ngomong doang mana mungkin mau melawan satu kerajaan demi dua rekan yang beban."


Sampai tibanya Hurip depan pintu masuk istana, dia menendang pintu sewaktu dua prajurit tengah membuka pintu. Sambil melewati pintu, Hurip sambil menggerutu menggerakkan kedua kakinya, membuat Alia dan Azka kaget bahwa melakukannya tak sopan santun di istana maupun pada keluarga kerajaan.


"Heh pangeran tak berguna! Dimana ayahmu?" Tanya Hurip menatap mata lawannya tajam nan sinis.


"Engkau sangat lancang padaku, rakyat jelata! Cepat berlututlah padaku!" Kata pangeran ini dengan nada sombong bersama tatapannya merendahkan Hurip.


Alia kesal, begitu pula Hurip, tetapi mereka terdiam sebelum pangeran mengoceh tidak jelas sampai Hurip kehabisan akal, lalu langsung menyodorkan pedang sehingga menghentikan ocehan pria ini dan bersicepat dia menunjuk ke satu ruangan.


Azka sama sekali tak membuka mulut, dalam pikiran dia tengah mengingat-ingat, informasi tentang Hurip yang ditakuti oleh seluruh kerajaan. Menurut seorang pendekar pedang terkenal, lelaki ini bisa membunuh lawan sekali jentikan jari jikalau serius, namun hanya orang bodoh bicara padanya membawa-bawa kasta.


"Woi bajingan!" Kata Hurip menendang pintu kamar raja. Alia tidak melihat ke dalam sejak Hirup masuk karena sudah dikenali bila raja kerajaan Bahadur sangat tak mencerminkan untuk orang bergelar raja.


"Mau sampai kapan kau bermain-main dengan para wanita memakai uang pajak? Ah, lupakan itu. Aku akan mengambil uang di gudang harta.." cakap Hurip membuat pria gemuk dengan kumis melingkar kaget tidak main dan hendak beranjak dari ranjangnya.


Semasih belum ujung kakinya menyentuh lantai, dia langsung mematung, pisau sudah hampir mencapai mukanya. Dia kembali mundur selama pisau itu lagi melayang. Sementara Hirup tersenyum tipis, dirinya pun pamit, membanting pintu sebagai salam hormat.


Hal pertama yang disadari Alia, kemarahan tertampil di mukanya saat ini, sementara dia membayangkan betapa bagusnya Hurip menjadi raja. Mereka sampai depan ruang harta, begitu seorang penjaga datang, Hurip merebut paksa kuncinya dan membuka pintu.


"Kalian bebas mengambil sesuka kalian," kata Hurip kepada kedua rekannya. Alia menggelengkan kepalanya, selagi Azka mengangguk-angguk senang.


Satu jam berlalu, ketiganya keluar dari istana, selagi teriakan dari raja itu tertangkap telinga mereka. Bahkan Ria yang ada ditempat hanya diam, melihat bila keponakannya masih sama, walau kini dia cukup kasar saat mencuri dengan izin harta kerajaan.


Dibandingkan dengan dulu yang memaksa raja untuk memberikannya upah berkali-kali lipat, perihal ini lebih manusiawi ketimbang memakai matanya yang dapat memberi ketakutan bahkan membuat penglihatannya depresi. Walau Ria tersenyum kecut memikirkan cara tuk menutupinya dari publik.


"Kenapa berbisik? Aku tahu hal itu. Hanya saja, harga barang ini sangat mahal.." jawab Hurip. Alia yang menemani mereka berdua hanya mampu tersenyum hampa menyesali tidak mengambil harta apapun.


***


Mata Hurip terbuka, pada waktu bangun dari terlelap dalam tidur Alia menjadi orang pertama yang dilihat oleh Hurip. Dalam empat hari masa penyembuhan, Alia sudah melakukan yang terbaik, meskipun Hurip cukup agak menaruh harapan padanya, tetapi dirinya sadar dan mewajarkan jika ia belum berpengalaman.


"Pantas saja lukanya empat hari. Mamah dulu rawat luka lebih parah dari ini hanya sehari," kata Hurip sembari tersenyum kecil menampakkan bahagia dan sedih pada waktu yang bersamaan.


"Mamah.. panggilannya kekanak-kanakan banget, ah, kalo kita jadi kekasih kamu bakalan panggil aku kayak gimana?" Tanyanya Alia seraya merona merah.


"Dulu aku punya seorang ..." Kata-kata Hirup terhenti waktu dia mengingat Liana. Dia akhirnya menutup rapat mulut tanpa memberi jawaban pertanyaan Alia.


Semasa Alia merasa pertanyaannya membuat Hurip tak nyaman, terdengar suara ketukan pintu, sehingga menyelamatkan Alia secara tidak langsung. Pada waktu pintu terbuka, seorang prajurit membawakan secarik surat dan Hurip tanpa musti membaca sudah tau isi seluruh surat sesudah tau siapa pengirimnya.


Mereka berdua membawa sisa-sisa uang penjualan harta kerajaan, nyatanya Hurip tidak menyimpan uang maupun menimbunnya, dia memberikan nyaris semua pada yang membutuhkan. Mereka diberikan Hurip perlengkapan lebih baik daripada sebelumnya, hasil dari rampasan setelah izin dari korban.


"Lain kali berbuat dosa tanpa gue," kata Azka datang dari pintu masuk. Dia telah menunggu mereka berdua sampai di tempat ksatria, komandan Ria lagi menunggu di halaman sembari menikmati semilir angin dan meneguk secangkir minuman hangat.


Mereka bertiga menghadap pada pemimpin pasukan dan tanpa basa-basi Hurip menerima tugas baru, kegagalan mereka pada tugas mengambil gulungan sihir tidak diungkit dan ria sama sekali tidak marah, melainkan senang jikalau mereka selamat, meskipun mengambil gulungan sihir tersebut jadi mustahil.


Tugas tim Hurip kali ini pergi ke kota Jenjam, tempat para bangsawan tinggal. Keberadaan Bicras sudah mengancam manusia di kota tersebut. Sehingga Ria berpikir ini waktu yang tepat, mereka dimintai untuk mempelajari mengenai Bicras, meski mengorbankan para bangsawan menjadi keharusan.


"Tempat itu sudah menjadi kota para koruptor, jadi.. terserah kamu mau melakukan apa, asalkan jangan membuat mereka mengetahui jika nyawa mereka terancam.." kata Ria tersenyum masam kepara Hirup.


"Gitu ya? Itu jadi tempat sarangnya penjahat mata hijau uang saja," kata Azka tertawa kecil. Sampai tahap tawanya berkembang menjadi lebih kencang.


Sebelum Hurip pergi, Ria menjelaskan tentang cara agar mereka sampai dengan cepat, ketimbang memakai jembatan menuju kota tersebut Ria lebih menyarankan mereka menggunakan kapal. Karena atasan ingin informasi tentang Bicras cepat hadir, walau sedikit terdengar memaksa Hurip untuk cepat bergegas ke tempat tujuannya walau agak bahaya.


Hurip pun setuju, dia menerima peta menuju kota Jenjam dengan rute tercepat mengabaikan tingkat keselamatannya, mengingat Hurip sangatlah kuat untuk setingkat monster level tertinggi. Sehingga hal tersebut membuat rasa kecemasan Ria berkurang.


"Kami akan langsung menuju tempat tujuan," katanya Hurip menundukkan kepala. Melihat ketiganya keluar Ria menarik napas panjang sambil tersenyum kecil, melihat sebuah foto dalam bingkai, terdapat ayah-ibu Hurip beserta diriny swaktu Ria belum berumur.