
Sebelum pergi berburu,
seorang lelaki memasuki bangunan serikat pemburu dengan kedua mata mengamati tiap orang, banyak orang berpusat pada Hurip, selagi itu dia mendekati para pemburu yang lagi memilah tugas. Yang dilihat olehnya hanyalah Alia, dia tersenyum sembari menghampiri gadis tersebut dan mengambil kertas.
"Hei cewek. Apa peringkatmu di serikat ini?" Laki-laki ini bertanya tanpa menengok sedikitpun pada Alia.
"Elang." Alia membalas sambil menampilkan wajah sangat tidak peduli acuh tak acuh kepada lelaki ini.
Lelaki yang menggunakan topeng ini memberi kertas berisi tugas membunuh goblin besar, tingkat jingga, apalagi upahnya sangat besar sekali. Dia mengambil selembar tugas dari lelaki ini, mata Alia cukup kaget, bahwa dia memiliki peringkat elang dimana takkan mmenuhi syarat mengambil misi tingkat yang tinggi.
Alia menerima saran dari laki-laki ini, begitu maksud dia memberikan saran, dia langsung pergi tanpa satu kata sekalipun sembari membawa misi tingkat tinggi. Membuat Alia cukup keheranan, tapi dia tidak ambil pusing, lalu pergi ke meja resepsionis serikat.
Selagi semua berfokus pada pahlawan yang sedang melakukan sandiwara, lelaki ini pergi ke lantai atas, ia membuka topeng dan penutup kepala. Tertampak Azka memburu napas. Ia menenangkan diri sebelum memjak anak tangga mengecek penginapan kosong.
"Apa ada penginapan kosong?" Tanyanya pada salah seorang penjaga. Penjaga menggelengkan kepala berkata bila saat ini tidak ada ruangan yang tersedia.
"Ah, saya baru ingat! Anda bisa datang pekan depan bila tetap ingin menginap.. pekan depan ada beberapa yang akan meninggalkan ruangan," kata si penjaga penginapan dengan menampilkan senyum.
Senyuman ramah justru dibalas Azka dengan pistol yang ditodongkan olehnya, bersama seringai jahat, penjaga penginapan ini sangat ketakutan sebabnya dia mengetahui senapan. Berbagai ancaman diberi oleh Azka agar wanita ini dapat menurut kepadanya.
Hingga hitungan detik, wanita ini memberi anggukan takut dan mengatakan akan mengosongkan salah satu ruangan untuknya. Usai mendapat jawaban yang diinginkannya, Azka memasukan uang koin ke dalam sakunya, lalu dia pergi sesudah menembak dinding.
"Itu peringatan untukmu.." tunjuk Azka mengarah ke dinding yang berlubang. Jikalau dibandingkan dengan sihir, maka, dapat dipastikan bila peluru dari senapan kecil memiliki daya rusak setingkat sihir 5.
"Tenang. Kau bisa merasakan rentetan sihir tingkat 5 kapan saja, karena.. kami tak perlu merapal untuk menggunakan sihir.." ucap Azka memberi intimidasi kepadanya hingga wanita ini takut cuma utuk bicara.
"Oh ya benar juga.." Azka menengok ke belakang dan berkata, "tuntunan ini juga berlaku bagi pahlawan itu."
***
Warga desa pamitan dengan Hurip bahkan memberi beberapa obat-obatan pada mereka. Tanpa sungkan Hurip menerimanya, lalu mereka kembali ke kota, batas waktu tugas ialah dua hari. Sebelum upah misi mereka musnah Alia dan Hurip akan mengambilnya.
"Padahal mayatnya bernilai tinggi dipasaran, apalagi kamu nggak nurunin harganya.." Alia menghela napasnya sesudah berkata, "sayangnya banget tahu."
Serikat akan memastikan tugas para pemburu sudah selesai tanpa kecurangan, dengan datang ke tempat, bisa saja pemburu membawa mayatnya dan dijual kembali. Tetapi Hurip tidak ingin menjualnya. Karena dia merasa itu terlalu merepotkan, biarpun begitu, ia kali ini tidak mengincar uang melainkan perihal lain.
Dalam saat singkat mereka sampai di kota Bahadur dan langsung ke serikat, begitu membuka pintu, serikat sangat ramai. Mengingat jikalau waktu inilah banyak tugas yang disebarkan. Sehingga Alia cukup sulit mengambil upah mereka, selagi Hurip melihat-lihat penginapan di serikat pemburu di lantai atas.
"Benar," ujar penjaga penginapan sembari menunduk di hadapan Hurip. Sembari kelihatan agak ketakutan.
"Ketua. Elu akhirnya datang kemari!" Seru seseorang menepuk pundak Hurip agak keras. Sontak begitu matanya melihat penjaga penginapan, wanita depan Hurip, langsung buru-buru mengambil kunci ruangan.
Beberapa menit stelah Hurip membayar penginapan Alia datang, mereka pun berkumpul, hal pertama yang dilakukan Hurip yaitu memukul Azka. Dia masih kesal dengan pencurian uang sebelumnya. Sehingga sambil berjalan menuju ruangan, bentakan keras diterima oleh Azka yang menutup daun telinganya.
Pintu tertutup. Ketiganya terduduk di sofa, dengan Hurip sebagai pusat perhatian, rencana memiliki banyak perubahan serta hambatan mengenai uang dapat terselesaikan. Hurip merasa takkan senantiasa penyelesaian akan menghampiri mereka semuanya.
"Maka dari itu, Alia akan dibebaskan dari tugas selagi Azka akan tetap bersamaku hingga setelah ini." Hurip menatap Alia serta membentak, " tidak ada protes!"
"Baguslah. Gue udah muak sama elu juga," kata Azka sesudah mengangguk pelan. Bersicepat dia berdiri cepat menggigit bibir sembari berjalan keluar kamar.
Besok harinya, sebelum benar-benar pergi, Hidup kini berniat untuk menaikkan peringkat berburunya, karena dia berada pada peringkat putih yaitu pemula yang menyulitkannya mengambil misi tingkatan atas dan hal lainnya. Setidaknya dia ingin berperingkat kuning maupun hingga dalam waktu tiga hari lebih.
Hurip dalam tiga hari telah mencapai tingkatan hijau membuat dia menghela napas, kali ini, dia mengambil misi tingkat hijau paling atas langsung pergi membasmi raja tengkorak. Mereka semacam zombi tetapi hanya tersisa tukang saja, walau hanya tulang, mereka dapat untuk menggunakan senjata.
"Yang benar saja. Tengkorak berada di bawah tanah seperti ini?" Hurip menghela napas dan memandang ke arah wajah kliennya, "kalau begitu akan aku hab--"
"Sebenarnya..!" Wanita ini menjeda ucapan sebelum berkata, "mungkin saja itu suamiku yang berubah."
"... Ha?" Hurip menepuk jidat dan berkata, "akan aku habisi walau kau menangis.. untuk ketenangannya."
Hurip masuk dalam ruang bawah tanah. Bangsawan ini cukup kaya untuk membuat bawah tanah, sehingga tidak heran akan ada tengkorak muncul di tempat ini. Meski tidak mnutup kemungkinan jikalau ucapan kliennya benar, Hurip tidak bisa membiarkan.
Apalagi bila dia tidak salah dengar, suaminya adalah mantan kesatria, maka akan sulit menghadapinya secara langsung. Sewaktu berpikir dalam kegelapan, ada suara decitan beserta jeritan kecil, Hurip terburu-buru menyentak pedang, menggeser pedang dan memotong tengkorak yang berada di belakangnya.
"Intinya belum hancur," ujar Hurip. Tengkorak bangkit kembali seusai tulang-belulangnya berantakan.
Hurip langsung memukul inti yang berupa bola sihir pada dadanya, yang dilindungi tulang, sehingga mahkluk ini langsung mati dan suara jeritan orang meredup dan lenyap. Diakibatkan sihir dari tengkorak dan intinya hancur, maka sihir ikut lenyap seketika.
Hurip pun kembali dengan membawa pecahan dari kristal sihir atau bola sihir, sebagai bukti. Begitu memperlihatkannya, wanita ini menangis, tetapi dia tidak menampilkan ekspresi apapun dan pahlawan ini tetap berjalan dengan muka dingin tanpa peduli.
"Hadapilah kenyataan.." Hurip menghela napas, "kau tidak mengerti betapa sakitnya ketika mati dan tak direlakan oleh yang yang mencintaimu. Dikarenakan aku sudah tahu rasanya menginap di alam kematian."
Kali ini ujaran kalimatnya benar adanya, pahlawan ini memang patut menyandang gelar terkuat, segala macam hambatan telah dilewati. Terkecuali untuk melawan luka yang mengelupas kembali maupun di tempat yang dapat menerbitkan kenangan lama.