
Usai keluar dari bar, minuman yang dikonsumsi oleh Hurip mulai membuat pening kepala. Digandeng Alianty untuk berjalan. Memicu mereka menjadi satu pusat perhatian, dengan bentuk wajah mungil cantik dan rupawan membuat Alianty disebut kekasih Hurip, menjadi perbincangan hangat meskipun gelap malam serta dingin menemani suasana kota Alfha.
Hurip melangkahkan kaki agak sempoyongan, ketika dia berhenti melangkah Alia sejenak menatap muka lelaki yang digandeng. Air mata turun mengalir menuju dagu. Yang pertama ditangkap Alia, ekspresi Hurip selayaknya penyesalan dalam dan kegilaannya.
"Hurip .." Alia mengigit bibir sejenak. Ia menampilkan mimik wajah cemas seolah-olah berkata, "kamu kenapa. Apa yang membuat sang Hurip tersiksa dan menangis? Rasa keingintahuanku memuncak. Tetapi ketakutan terhadap kekuatanmu menekan lisanku."
"Suara hatimu keluar.." ujar Hurip mengecup Alia. Dia mendekatkan mukanya selagi Alia mematung, "kau akan kuhabisi jikalau keluar tanpa izin dariku. Bodoh."
Mendadak suara-suara bisik serta warga kegirangan menyaksikan pasangan khayalan. Yang paling Alia inginkan, tetapi Hurip tak menginginkan hal tersebut dan menyeret gadis ini bersamanya menuju gerbang kota. Hurip melakukan Teleport dan cahaya menelan mereka memindahkan mereka tempat tujuan Hurip.
Alia memejamkan mata seraya bersembunyi di dada Hurip, begitu membuka kelopak mata dan melirik selingkungan. Gadis ini tertegun sejenak. Taman dan bunga-bunga berderet rapi, berpusat kepada sebuah pohon besar depan danau kecil bening merefleksikan bulan yang brsinar terang kemerahan.
"Tempat apa ini?" Kata Alia. Dia melihat sekelilingnya menemui pemandangan indah bagai taman surga.
Hurip mendekati pohon dan duduk menyender pada batang pohon tersebut, dibawah rindang naungan tumbuhan besar ini. Dia menepuk tanah di samping dirinya, memberi isyarat Alia duduk. Gadis menawan ini mengangguk pelan sembari melangkah perlahan.
"Temani aku..." Pinta Hurip.
"Hm.." Alia mengangguk sambil memeluk Hurip dari samping dan berniat menikmati momen berharga ini.
"Kau tau ..." Hurip terdiam sesaat melihat ke angkasa sebelum berkata, "orang-orang memiliki penenang mereka masing-masing sesuai sifat dan karakternya."
"Maksud?" Alia menatap Hurip, "aku ini nggak terlalu ngerti soal penenang hati gitu.. maaf."
"Ketika sedang depresi, lelaki sepertiku akan mabuk maupun menyiksa perempuan di ranjang, tetapi perihal-perihal itu hanya obat penenang sementara dan tambah menyiksa. Sementara aku tidak mampu untuk menenangkan pikiran, biarpun satu menit."
Alia hanya mampu diam melihat di sisi menyedihkan Hurip ketika dilanda kesedihan. Diwaktu Alia menganggap bahwa dia minum alkohol, hanya untuk melupakan penderitanya sebentar. Meskipun Alia tau ada kemungkinan kekebalan terhadap mabuk serta minuman keras, akan bersicepat melemah, jikalau emosi pengguna tidak sedang dalam keadaan stabil.
Keluarga yang menganggap melupakan penderitaan dengan memakan obat-obatan maupun mabuk sebatas pelarian, mereka akan sengaja mengajarkan maupun menerapkan ilmu kekebalan yang melemah usai pengguna hilang akal. Membuat Alia keheranan karena keluarganya juga melakukan hal yang serupa.
"Bisa nggak kamu bicara sama aku.. kamu kenapa bisa sampai begini?" Tanya Alia.
Hurip menggelengkan kepala sebelum berkata, "aku pikir ceritanya akan panjang." Hidup terdiam sejenak kemudian melanjutkan, "mau mendengarkan cerita?"
Alia memberi anggukan hingga Hurip menceritakan semua setelah mereka berpisah. Musuh dibalik selimut sampai pertemuannya dengan perempuan yang telah dianggap Hurip telah mati. Membuat Alia mematung, gadis ini menelan ludah dan menyentuh kepala Hurip sambil menggunakan sebuah sihir.
Sihir yang mampu melihat dan merasakan ingatan seseorang. Asal target mengizinkan pengguna, maka dapat melihat memori secara menyeluruh bisa dilakukan. Alia terus dan terus menyelami isi pikiran Hurip bahkan sampai berawal dari masa kecilnya dia dan pertemuan Alia dengannya waktu masa sekolah.
"Aku belum puas. Kupikir ..." Alia yang semasih belum berhenti menelusuri memori Hurip tiba-tiba merintih kesakitan, lalu berupaya menahan seluruh rasa sakit.
Alia melihat penderitaan jiwa-jiwa yang dikendalikan oleh Hurip. Mendengar dan merasai penyesalan mereka, tiap detiknya lebih menyiksa ketimbang Alia yang sudah lenyap kemamuan pereda rasa sakitnya dan dia pikir Hurip pantas untuk menangis. Alia pikir jalan untuk Hurip tidak semudah membalik tangan.
Hurip melepaskan paksa sihir gadis ini. Membuang muka sejenak melihat ke arah bulan, hanya tempat ini yang membuat seolah-olah cahaya bulan merah-kehitaman. Taman ini dikelola oleh keluarga mereka, karena itulah, mungkin kakek buyut Hurip menyukai warna merah apalagi kekuatannya brasal dari darah.
"Huh.. apa yang kupikirkan?" Batin Hurip. Dia melihat ke Alia kembali menemukan bahwa gadis ini telah lelap dalam dekapan, biarpun hal ini terlihat terbalik.
Kelopak mata Hurip ikut menutup merasakan lejar selepas bertarung melawan banyak hal. Tidur merupakan cara manusia beristirahat, mau pikiran maupun tubuh, tapi berbeda dengan pemakai energi jiwa-jiwa. Hurip justru membuka mata kembali pada alam sadarnya berinteraksi dengan semua jiwa.
Waktu tidur tubuh Hurip akan istirahat selagi pikiran miliknya sadar, otaknya tetap sadar selama Hurip tertidur dan bermimpi berada pada sebuah ruangan hampa. Perihal tersebut senantiasa terjadi saat Hurip mencoba istirahat dengan cara apapun bahkan tidur.
"Kau kekanak-kanakan. Kekuatanmu memang besar, tetapi cara berpikirmu seperti anak 10 tahun!" Kata satu jiwa menceramahinya kembali berteriak-teriak.
"Diamlah kau.." Hurip mengepalkan tangan sembari menggeram, "apa yang kau tau tentang diriku? Huh!"
Tiba-tiba jiwa yang berupa api biru merubah bentuk menjadi manusia. Kakek memegang Candrasa, begitu pula Hurip menggenggam Candrasa. Denting pedang melatarbelakangi sekitar. Adu pedang yang terjadi, setiap Hurip menahan dorongan dari pedang lawan, ia mundur selangkah saking kuat dan berat.
Kakek melipat tangan dengan Candrasa diikuti posisi tubuhnya membungkuk ke depan, begitu pedang di tangannya digeser untuk sejajar dengan kaki kanan, bayangan bermunculan. Dia menciptakan bayangan untuk mengecoh maupun menakut-nakuti lawannya.
"Baiklah.. akan ku hancurkan kau, nyatanya, kemarin ketika aku menentang dirimu. Aku bisa membuka batasan manusiaku, bola kau musnah.. maka.." ujar Hurip menatap dengan beringas kepada kakeknya.
Bayangan memelesat cepat mendahului pengguna sihir tersebut. Hurip menghindari serangan semua bayangan tersebut, dia berlari menuju lawan, selagi bilah Candrasa terbungkus api hitam. Benang yang menunjukkan prediksi serangan kakek bermunculan, tetapi, hal tersebut membuat Hurip terperanjat kaget.
"Serukan pekikan sang kematian, bawalah entitas itu padamu!" Teriak Hurip merapalkan mantra.
Benang-benang yang ada bukan satu maupun empat garis, melainkan ratusan bahkan ribuan serangan hendak dilancarkan oleh kakek. Sehingga Hurip kini memakai sihir. Dia menempelkan sihir api kematian pada bilah pedang, api hitam berganti menjadi putih, diikuti oleh rantai-rantai membalut tangannya Hurip.
Hurip menjejak pijakan kaki, dia menekan tanah dan darah bercucuran deras keluar melewati mulut berusaha keras menyamai benang kakeknya. Waktu bermaksud akan melempar Candrasa, sontak Hurip membisu dan menatap seorang gadis dihadapannya.
"Alia?" Hurip membelalakan matanya.
Alia mengangkat tangan melingkarkan tangannya ke badan Hurip. Seketika sebelum satu detik mendekap dirinya, sesuatu memenggal kepala Alia dengan cepat sebelum Hurip sempat merespon. Monster itu yang memenggal kepala Alia, sontak memakan kakek satu kali gigitan. Membuat Hurip menjerit-jerit histeris melihat pemandangan tersebut seraya kedua tangan, mendekap tubuh Alia dengan gemetaran.