Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
27



Sesudah berpisah untuk membagi tugas mengambil uang kembali serta mencari pundi-pundi di serikat pemburu. Reza pergi ke sebuah gang, dia bertujuan untuk pura-pura mencari informasi kepada informan, meskipun dia sudah tahu keberadaan dan tujuan maksudnya dari para perampok mencuri uang Alia.


Ia memasuki hutan sesudah mendapatkan peta dari dari seorang informan gelap kota, usai berada di tengah-tengah hutan. Reza berhenti memakai peta kertas dan menggunakan peta hologram melayang, dia melihat ke salah satu tempat segera tersenyum.


"Kubus kalah.." ujarnya sambil melihat selingkungan dengan waspada. Tidak lama selepas ia bicara seseorang yang memakai rompi pelat baja datang.


"Angkat tangan ke belakang!" Teriak ia menodongkan pistol genggam pada kening Reza. Dia mengangguk lalu menuruti keinginan prajurit ini, mengikutinya dari belakang sambil kedua tangannya diborgol kencang.


Sesudah menginjak area aman, prajurit melepaskan borgol dan rantai dari pergelangan Reza. Sesudah Reza mendatangi tempat ini, sekelompok prajurit ini datang, mereka berbaris rapi dan memberi hormat kepada Reza. Lelaki ini menghela napas disertai angguk kepala saat melihat regu tembak luka-luka.


Tanpa banyak bicara, Reza langsung memerintahkan mereka untuk bubar kecuali leader setiap regu apalagi pemimpin regu Robot Tempur untuk mulai berdiskusi. Mereka pindah tenda khusus yang telah dipasangi peredam suara, meminimalkan penguping meskipun dia tak merasa akan ada yang menguping.


"Mengapa kalian membawa dinamit?" Reza menatap salah satu tentara dan mengatakan, "andaikata kita salah langkah akan terjadi keributan dan masyarakat akan terlihat bahkan mungkin akan ada korban jiwa."


"Kami mengetes. Tujuannya, biarpun target memiliki kekuatan diluar akal sehat, dia tetap memiliki banyak kelemahan yang bisa dimanfaatkan.." tentara sambil berkata menunjukan sebuah rekaman, "Anda bisa lihat rekaman saat misi 70 prajurit pada waktu itu."


Ia terkejut bahwa Hurip memiliki ketakutan terhadap dinamit serta monster daging hidup, jika diingat-ingat kembali, Reza pun tahu Bicras menyulut emosi pahlawan itu dan ternyata dia takut serta marah saat Bicras yang memiliki sihir hipnotis mengendalikan manusia dengan tanda-tanda mata bersinar kuning.


Reza menarik napas dalam-dalam, sebelum dia buat kedua matanya bersinar mambang kuning yang dibuat oleh sistem. Dia berdiri membuka baju dan terdapat badan setengah robot, apalagi kedua mata yang telah diganti dengan mata buatan dan mampu memprediksi gerakan lawan dalam hitungan detik.


Pemimpin mereka pun alias Reza membuat rencana membunuh Hurip, meskipun akan gagal, setidaknya dia berharap dapat menemukan solusi maupun cara untuk mengalahkannya. Dengan menyiapkan puluhan unit serta tentara di salah satu kota tujuan untuk berikutnya, untuk menyerang Hurip kekuatan penuh.


"Dimana para peneliti? Suruh mereka cepat datang ke tenda pribadi saya untuk membantu ganti perlengkapan.." titahnya beranjak dari tempat duduk.


"Pak. Apa kami boleh mengantisipasi rute perjalanan jika target mengganti jalan?" Tanya seorang laskar.


Setelah Reza keluar dari tenda, mereka memprediksi jalan maupun tempat dimana Hurip kemungkinan akan mengubah arah tujuannya. Mereka membagi di berbagai tempat, puluhan dan belasan unit robot tempur, agar bisa mengimbangi kekuatan dari Hurip.


Sewaktu bercakap-cakap mengenai rencana, tiba-tiba suara baling-baling helikopter terdengar dan para ketua regu keluar dari tenda. Menjumpai Reza telah memakai peralatannya. Dia membawa senapan jarak jauh, serta kelengkapan senjata tempur, buat semua orang tahu gempuran sebentar lagi dimulai.


"Kita semua pasti akan membuat para pemerintahan dunia ini membayar tindakan mereka kepada kita, kepalan tinju amarah kita harga mati. Jangan biarkan mereka semena-mena!" Kata Reza berteriak-teriak menyemangati seluruh tentara dari dalam helikopter.


"Sumpah. Takkan kubiarkan kejadian itu terulang lagi apapun yang terjadi..!" Batin Reza menggeram menatap ujung senapan dan mencengkram kristal.


Nyatanya Hurip selangkah lebih maju dari rencana Reza, meski dia telah mendapatkan bantuan yang dikarenakan rencana antisipasi dari ketua regu dan persiapan mereka. Reza hanya terdiam sejenak, pada saat dia sedang terjatuh dari ketinggian udara, giginya menggertak dan sorot mata menampakkan kedalaman lautan kebencian yang amat mendalam.


Reza meraih pistolnya. Dia membidik Hurip dari atas sembari mengerahkan semua energi kristal pada serangan terakhirnya, sehingga munculah lingkaran sihir dan jumlahnya tidak satu, tetapi puluhan bahkan ratusan sihir yang diarahkan kepada sang pahlawan.


"Bodoh. Penggabungan teknologi sihir memang kuat, tetapi, apakah bisa menyaingi kekuatan yang bersumber dari jiwa suatu mahkluk hidup? Mari kita adukan!" Kata Hurip memegang kuat-kuat Candrasa.


Seketika itu juga belasan jiwa keluar dari bilah besi tersebut, mereka mengelilingi Candrasa seolah mengisi daya. Hal serupa juga dilakukan oleh Reza yang menguras energi sihir dari semua kristal, yang mana dapat menyebabkan kehancuran pada tubuh, bahkan kematian bisa menjemputnya sekarang juga.


Semua lingkaran sihir bergabung, mengakibatkan dia muntah darah membebani dirinya sendiri ketika melepaskan tembakkan satu peluru yang menekan energi sihir seukuran satu benua. Sementara Hurip menunggu tembakan sebuah peluru mendatanginya.


"Belasan terlalu banyak. Tapi.. sudahlah," kata Hurip dalam hatinya. Dia dengan enteng mengayunkan Candrasa dengan gerakan layaknya memukul golf.


Jiwa-jiwa tersebut memelesat cepat disertai suara jerit tangis samar-samar, ketika dua kekuatan itu saling bertabrakan mempengaruhi ruang dan waktu sehingga merobek tatanan dunia. Membuka retakan menuju dunia yang lain tanpa diketahui oleh Reza.


Usai serangan Reza lenyap. Ledakan di udara terjadi membuat guncangan besar dan angin kencang, memperlihatkan sebesar apa kekuatan dari orang yang menjadikan jiwa sebagai sumber kekuatan. Ini membuat Reza yang sudah terkapar menangis, Reza hanya bisa mengigit bibir, menyadari dia akan mati.


"Papa akan menyusulmu sebentar lagi. Maaf.. papa lebih cepat mengikuti kamu, tanpa mewujudkan impianmu.." lirih Reza berkata-kata sambil merintih.


"Komandan!" Teriak seorang pilot dari dalam Dyntal Gear membuka kokpit robotnya. Dia buru-buru membawa Reza masuk ke dalam DyntalGear, untuk membawa kabur Reza, tetapi hal tersebut langsung diketahui oleh Hurip dan mencegat mereka saat hendak terbang melarikan diri membawa atasannya.


DyntalGear menembakkan meriam besar, membuat Hurip langsung menghindar, daya ledaknya itu sanggup menghancurkan area dalam cakupan yang besar. Hurip menggunakan sihir petir tingkat tinggi, tetapi DyntalGear langsung menahan dengan perisai, begitu sihir berhenti dia mulai mendekati pahlawan.


Sewaktu Candrasa digunakan Hurip untuk menahan hantaman pedang raksasa, tiba-tiba bilah pedang retak dan nyaris patah jikalau Hurip tidak melompat mundur. Hurip keheranan melihat robot putih yang mampu menyaingi pelindung yang menyelimuti dari tangkai Candrasa hingga ujung bilah, membuat robot ini jadi kewaspadaan baru bagi sang pahlawan Hurip.


"Sebaiknya kita berdua mundur. DyntalGear mampu untuk menandingi kekuatan pusaka Candrasa, selama tidak ada campur tangan jiwa.." ucap si pilot.


"Sejauh mana kalian mengetahui tentang Candrasa dan diriku?" Hurip memandang mata robot. Sejak dulu Hurip penasaran, banyak sekali rahasia entah jarang diketahui maupun rahasia mengenai keluarga dan Candrasa dimiliki oleh mereka. Membuat Hurip heran jikalau pengkhianat pun takkan bisa mendapat informasi yang sedetail mungkin tentangnya.