
"Bisa menahan serangan yang bisa meluluhlantakkan lima kota dengan medan pelindung milik leader Reza, bagaimana caraku untuk kabur? Jeda kekuatan jiwa milik dia sebentar lagi pulih.." batin pilot melihat muka kesal Hurip melewati kamera pada DyntalGear.
DyntalGear menembakan senjata proyektil berkaliber besar yang terpasang di pergelangan kiri, bertepatan pedang di tangan kanan dia terayun dan kedua serangan ditahan Hurip. Dia menggunakan pedang untuk membelah proyektil, memukul mundur pedang lawan memberikan efek angin yang mencabik-cabik.
Sayang pelindung DyntalGear sangat tebal, alhasil itu membuat serangan Hurip sia-sia dan hanya ada goresan-goresan kecil seakan-akan hanyalah digores silet saja. Ditambah lagi ledakan dari meriam musuh membakar setengah badannya. Menggunakan mata telanjang takkan membuat orang melihat, justru pilot mampu melihat mengandalkan kamera DyntalGear.
"Lukanya sembuh dalam sekejap saja? Bagaimana ia bisa..." pilot mengigit bibir sambil membatin, "pantas saja leader Reza kalah. Tanpa DyntalGear yang sudah diperkuat lima kristal sihir pasti aku kalah sejak tadi."
DyntalGear merupakan unit terbaru memiliki sistem AI tempur yang mempunyai pengalaman secara langsung para tentara di pertempuran asli. Sehingga menjadikannya sebagai robot yang berpengalaman, bahkan Pilot Otomatis bisa menjadi petarung handal dan bisa digunakan ketika pilot terluka maupun mati.
Diwaktu pilot sudah merasa bila Hurip sudah selesai beristirahat dan mampu menggunakan kekuatan jiwanya, tiba-tiba Reza menekan tombol membuka kokpit. Hurip terdiam sesaat waktu Reza keluar. Dia turun dari ruang kendali DyntalGear dengan langkah sempoyongan, luka-luka memang sembuh, tapi tidak dengan darah yang telah keluar belum tergantikan.
"Dinamit. Peledak yang akan menghancurkan salah satu kota, kau tau.." Reza menyender pada kaki DyntalGear sebelum berlanjut, "kami mengamankan warga sebelum meledakan kota. Mari kita membuat kesepakatan untuk genjatan senjata empat Minggu."
"Mengapa aku harus menghiraukan ..." Kalimat Hurip mendadak putus ketika Reza menusuk dadanya sendiri. Bersamaan dengan itu dinamit dibelakang meledak menghancurkan area seluas tujuh meteran.
Hurip terpaksa mengangguk mengingat kembali saat itu juga, dia mengabaikan kata-kata yang terkesan mirip ancaman dari tentara itu. Justru membawakan kematian bagi ratusan orang, dengan alasan perihal tersebut, Hurip menyetujui permintaan tak saling untuk menyerang kedua pihak selama sebulanpenuh.
Sesudah Hurip mengangguk dengan paksaan, Hurip mengedutkan dahi sambil berpindah tempat menuju kota berikutnya. Bergegas khawatir dinamit yang terkubur meledak kapan saja. Terlebih lagi dua mata Reza membuat Hurip teringat Liana, waktu gadis itu membunuh kedua orang-tuanya, terdapat keluk atau putaran yang mengelilingi titik pupil kedua matanya.
Lebih dikejutkan lagi bagi Hurip, mata ia agak kuning dengan bentuk spiral membuat dia sangat benci kepada Bicras. Menandakan jikalau manusia maupun mahkluk hidup, dikendalikan oleh si Bicras, masuk ke dalam keadaan hipnotis yang dapat mengendalikan korban secara penuh dari cara berpikir dan gerakan.
"Minggirlah mahkluk hidup!"
Hurip berlari sekuat tenaga, dia menebaskan senjata miliknya dengan pola miring membelah dua serigala yang menghadangnya. Melangkahkan kedua kaki dengan cepat, yang setiap langkah menempel angin mendorong tubuh agar bergerak lebih cepat. Kali ini Hurip tidak ingin terlambat untuk kedua kali kembali.
"Mengapa Reza yang seperti pemimpin prajurit dunia lain itu dikendalikan? Sangat membingungkan!" Ujar dia dalam hati bertujuan menerka-nerka jawabannya.
Candrasa sedang berada di fase pemulihan, belasan jiwa terlalu membebani dirinya, sehingga Hurip memiliki batas dalam penggunaan sihir apalagi sihir ruang dan waktu. Akibatnya dia tergesa-gesa sampai di kota selanjutnya untuk mengeluarkan seluruh, semua dinamit sebelum banyak manusia meninggal.
Setelah melihat kota, kota Alfha yang masih utuh dia lega karena masih sempat dan dia berusaha tidak memikirkan pilot itu berbohong. Bisa saja saat Hurip memasuki kota, dinamit meledak meluluhlantakkan kota, bersama dirinya meski selama dia memegang Candrasa ledakan dinamit tidak akan membunuhnya.
"Biarpun Anda pahlawan. Kami tidak dapat semena-mena membiarkan tuan menghadap Anda, Anda sebaiknya langsung menemuinya secara langsung di kediaman tuan," kata penjaga menundukan kepalan.
"Ini darurat.." lirih Hurip mengepalkan tangan begitu orang ini mengulangi ucapan, Hurip mencengkram kerah bajunya lalu berteriak, "nyawa penduduk lebih aman daripada sopan santun. Bawa tuanmu untuk datang kemari, jika tidak aku akan memanggil naga untuk membawa dia secara paksa kemari. Cepatlah!"
Kesatria penjaga bergegas memanggil tuan tanah ini untuk datang. Biarpun masalah akan terselesaikan, hambatan lain muncul dan baru disadari oleh Hurip bila penguntit mengikutinya sepanjang jalan. Karena sibuk mencerna kekhawatiran, pada akhirnya, Hurip menemukan seorang penguntit yang lagi sembunyi.
"Siapapun yang di sana, kau tahu? Aku sedang marah lebih baik kau tunjukan dirimu.." ucap Hurip berjalan mendatangi jalanan dan menemukan seekor kucing.
Mendadak kucing berubah wujud jadi manusia usai asap hitam mengelilinginya, tanpa menunggu lama Hurip menggeser pedang dan bermaksud menusuknya. Tiba-tiba mata Hurip membelalak dan menghentikan serangannya, alhasil gadis berbalut, pakaian serba putih mendaratkan pukulan padanya.
Lantas Hurip ingin melakukan serangan balik, malah dia berhenti bergerak seperti beku dengan kondisi matanya masih dapat melihat sekitar. Gadis ini cepat berpindah ke samping. Hurip terkena pukulan kedua, kali ini dia terlempar sangat jauh, hingga membentur tanah dengan kuat menyebabkan terciptanya lubang.
"Akan aku habisi kau. Dengan segenap tenaga!" Kata Hurip berteriak tersulut emosi kembali usai melihat pola serangan yang sama seperti gaya bertarung dia.
"Apa? Bagaimana bisa hal semacam ini terjad--!"
"Beraninya kau meniru gerakan kekasihku!" Teriaknya Hurip. Dia mendadak tiba depan musuh lalu melakukan ayunan berkekuatan tinggi, lawan mampu menangkis serangan Hurip, tetapi setiap tangkisan di tebasannya sangat berat dan mndorong bersamaan.
Sewaktu gadis ini akan membekukan waktu kembali Hurip bersicepat menggunakan sihir yang sama, sehingga pengaktifan sihir terpatahkan. Dikarenakan sihirnya gagal. Gadis ini berusaha kabur, tetapi Hurip tetap memberi rentetan serangan buat ia kewalahan.
Bilah pedang Hurip bercahaya diselimuti sinar putih yang menyilaukan, sesaat lawan kesilauan Hurip menebaskan Candrasa. Memotong kedua tangannya dan bersamaan angin yang ditimbulkan serangan Hurip, menyibakkan kain penutup wajah serta kepala.
"Liana?" Hurip menganga lebar semasih belum dia mengatakan, "jika kamu benar Liana. Maka..."
Hurip sangat kehilangan akal. Dia melihat jika Liana ada di hadapan, keduanya pun saling memandang sesaat, ketika dia tertegun dan diam. Musuh segera menyundul Hurip dan kabur, disitulah Hurip melihat bila para penjaga juga mengejar gadis yang mirip Liana. Sehingga mau tidak mau Hurip ikut mengejar mereka semua memasuki hutan balik menyusulnya.
Disaat yang sama Candrasa pulih kembali memakai jiwa lagi, Hurip terpelesat cepat dan menarik lengannya. Hurip menyadari bila dia mempunyai satu bahkan lebih dari kemampuan Liana. Hurip bergegas menariknya, lalu, memotong kedua tangan serta kaki gadis ini meski dia menjerit-jerit kesakitan. Tontonan tersebut dilihat oleh para prajurit yang melihat Hurip.