Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
33



Peri membungkuk memberi hormat pada Alia yang sudah sembuh pamit pulang, gadis ini menyusuri jalanan dan keluar dari hutan sesat. Seperti dugaan sewaktu dia menengok ke belakang, jalan menuju ke rumah dari para peri lenyap, membuat dia menghela napas selagi melanjutkan langkah menyusul Hurip.


Tiba-tiba dia terperanjat kaget menemui pertarungan dengan suara bising. Alia menyaksikan perkelahian yang berat sebelah, biarpun lawannya gadis dan pria itu sama sekali tidak mengalah terhadapnya. Begitu sadar hijalau pria misterius itu yang menyerang Hurip pada saat itu, tanpa pikir Alia memasuki perkelahian.


"Siapa kau?" Alia mendorong pedang lawan dengan pedangnya, "jawab pertanyaanku pria keparat!"


"Ooh.. kau rekan si pahlawan.." lirih lawan membalas dengan menumbuk bagian perut Alia. Hingga Alia muntah selagi terpelanting jauh belakang gadis tadi.


Alia menancap pedang ke tanah supaya mengurangi kecepatan agar dapat berhenti. Dia memburu napas, perbedaan kekuatan sangat tinggi dan rasanya dirinya takkan sanggup. Biarpun Alia sangat ingin tau nama pria misterius ini, dia merasa musti membawa gadis itu kabur saja ketimbang melawan dan tewas.


Gadis itu menatap Alia seakan-akan meminta untuk tidak ikut campur, tetapi rekan pahlawan ini tanpa menggubrisnya terpelesat kencang menuju lawannya dan mengayunkan pedang. Satu ayunan mampu ditahan oleh lawan, tebasan kedua mengenai lengan dan dada disusul Alia mengincar leher lawannya.


"Dengan ini ..." Alia menggenggam erat gagang dari pedang, "segalanya akan berakhir!"


Tangan yang memegang pedang mengeluarkan api hitam bersumber dari sela-sela jari, meruak pada bilah pedang terbungkus api yang mampu membuat regenerasi cepat melambat. Dia menyejajarkan satu ayunan menarget leher lawan sekuat tenaga, alhasil Alia melakukan gerakan dengan berkekuatan penuh.


Tebasan Alia membuahkan hasil saat pria misterius sedikit mengelak, lintasan pedang api hitam milik Alia terbentuk seperti bulan sabit dan gerakan Alia ini dapat memotong lengan lawan. Alia tidak berhenti melancarkan serangan dengan membuat bentuk dari bulan sabit lainnya secara beruntun, menciptakan kawah-kawah kecil disekitar pijakan lawan berada.


"Satu serangan terakhir, sebelum energi sihirku habis harus membunuhnya ...!" Batin Alia sembari dirinya berteriak menarik pedang menusuk lawan yang telah memiliki goresan luka-luka dalam di sekujur tubuh.


Alia menusuk lawan ini tepat di daerah dada sebelah kiri membuat dia sedikit menghela napas lega sesaat, sebelum dia bergegas mencabut senjatanya dan menangkis pukulan dari belakang. Akibat tengah lengah apalagi sudah keletihan selepas rentetan dari serangan sebelumnya, dia menyalurkan seluruh sihir energi di bilah pedang dijadikan pertahanan terakhir.


"Ugh!"


Sayangnya, meskipun menyalurkan melimpah energi sihir pada pedang. Pedang hancur lebur sesudah mendapatkan pukulan luar biasa berat. Bahkan Alia yang terlempar dan menubruk pepohonan nyaris tak selamat, Alia menggunakan sihir ketahanan disaat terakhir menyelamatkan hidup, memakai energi sihir cadangan yang sudah disimpan tuk keadaan darurat.


"Kalau gini, aku nggak punya kesempatan.." gumam Alia menatap beringas pada lawan. Bukannya mengincar Alia, justru pria misterius itu membuang muka dan kembali akan menyerang gadis tersebut.


"Hei kau. Larii!!" Teriak Alia sekuat tenaga sembari dia memukul tanah menciptakan guncangan dahsyat mengakibatkan pria itu terjatuh ketika berlari. Pada saat bersamaan sihir kabut, buat selingkungan penuh akan kabut yang menghalangi jarak pandang.


Menyadari bila gadis itu belum lari, Alia sangat muak sembari berdecak kesal bertumpu pada kedua kaki dan mengeluarkan sebuah kotak. Ia membuka kotak lalu memakan sebuah pil. Mendadak dia kehilangan akal pikiran, terbukti, seringai lebar seraya dua mata tertutup diserta air liur bagai hewan buas ke mangsa.


Dalam sekejap mata Alia tiba-tiba berada belakang punggung gadis itu yang tengah melindungi diri memakai pelindung. Tanpa peringatan Alia memukul pria itu hingga terpental jauh, bagian yang diberikan tumbukan pula sangat terluka parah. Alia menengok ke muka gadis disamping, seperti bernafsu padanya.


"Sebutkan namamu, brengsek!" titahnya menyenyumi ekspresi panik yang diperlihatkan olehnya. Sewaktu Alia mengajukan permintaan gadis itu tampak ragu-ragu, tapi, ketika dia melihat pria itu akan berdiri dia membuka mulut selepas menelan ludahnya sendiri.


Dhia menahan tusukan Alia menggunakan perisai tuk menahan serangan. Karena tidak berkunjung usai, kini Dhia bergerak cepat secepat Alia dan Alia cepat mengikutinya. Mereka saling beradu senjata. Hingga Liana hanya dapat melihat pergerakan cepat bagai angin, saling beradu senjata, bunyi dentingan sampai mengukir tanah setiap mereka saling mengejar.


"Ini yang diriku suka, pengguna sihir Khitam memang betul lebih baik daripada ksatria kuat penjunjung tinggi hal yang menjerumuskan ke kekalahan!" Kata Dhian berteriak-teriak seraya meninggikan kecepatan membuat Alia tambah kerepotan dan dalam sedetik saja banyak goresan-goresan kecil luka ditubuh Alia.


Akhirnya selepas beberapa menit terlewati, badai ini terhenti didapatkan hasil bahwa Alia langsung dari penuh luka-luka dan terkapar bersimbah darah. Saat itu juga Liana bersicepat kabur selagi Dhia memburu napas, dia kelelahan untuk melebihi kecepatan Alia.


"Dimana aku?" Alia membuka mata, "tempat ini.. dan malam hari, aku kalah."


Saat melihat hari makin gelap, usai menyembuhkan dirinya dia melanjutkan perjalanan sambil penuh akan rasa penasaran. Meski sedikit tersenyum dapat memberikan informasi pada Hurip, bahwa dia sudah tahu, nama pria misterius yang mengalahkan Hurip di kota mati waktu itu memiliki satu buah nama Dhia.


***


Hurip bernapas dengan terburu-buru menyaksikan ia telah membunuh kakek dan Alia. Mahkluk itu kini mendadak menjerit-jerit, selagi Hurip menggeram marah, dia menarik Candrasa dan menghampirinya mencoba melimpahkan amarah serta kebenciannya.


"Hurip Kausa Darmaa!!"


Keduanya saling meneriakkan kalimat yang sama di waktu sama, bahkan kedua Candrasa sedang saling berdenting dan menebas. Pertarungan tiada habis, berakhir dengan kemenangan Hurip yang mempunya mata kancing dan mulut setengah sobek setengah jahit. Dia menatap sinis dengan rendah pada Hurip.


HAHAHAHA! LIHATLAH ... LEPASKAN BILA KAU INGIN SEGERA MELENYAPKAN MUSUH!


"Takkan kubiarkan!" Jawab Hurip. Dia berusaha untuk bertumpu pada kedua kakinya, pada waktu sama, Hurip bermata kancing ini menghela napas sembari mengulurkan tangan dan memotong dua kaki Hurip dengan sihir angin membuat Hurip hanya menatapnya saja di keadaan sangat mengenaskan.


"Urip!" Panggil seseorang dalam kegelapan.


"Liana?"


"Hurip? Kamu kenapa, bangun!"


Kelopak mata Urip perlahan-lahan mulai terbuka, dia menjumpai wajah gadis rupawan dengan mimik muka cemas menatapnya dari dekat. Usai tertegun hitungan detik. Hurip menangis terisak-isak, dirinya mendekap Alia dengan kuat bahkan gadis ini merasa sesak napas karena tindakan yang dilakukan Hurip.


Alia tidak memahami laki-laki keturunan Sahir Darah, sama sekali. Yang dia pahami sekarang hanyalah bahwa Hurip memiliki sikap dan tindakan diluar nalar miliknya. Maka dari itu, Alia berkeinginan membantu Hurip, meski tidak mendapatkan hadiah maupun satu imbalan sekalipun. Meskipun harus melepaskan cinta pertamanya sebegitu mudah sambil berdiam.