
Napas kedua remaja laki-laki ini memburu diserang lejar selepas beradu jotos. Pada saat Hurip berniat maju kembali, tertangkap suara jeritan, bahkan Azka pun mendengarnya. Mereka sesegera mungkin untuk pergi menemui letak jeritan setelah tahu Alia hilang.
Mereka Bersicepat mengejar Alia yang masuk dalam hutan. Sewaktu mereka menjumpai sumber jeritan, ada Alia dan seorang gadis di belakangnya. Saat Alia menahan kaki monster yang akan menginjaknya, Hurip melepaskan anak panah dan meledak setelah bersentuhan dengan monster yang dijumpainya.
"Alia. Kembali kemari!" Teriak Hurip memerintahkan rekannya lebih mengutamakan nyawanya. Hanya saja dia kelihatan enggan meninggalkan perempuan di dekatnya membuat Hurip merasa sangat jengkel.
Lawan mereka yaitu naga, mahkluk yang masuk ke dalam kategori monster selama dia berbuat jahat kepada manusia. Naga yang memiliki kalung hitam pada lehernya dicap sebagai monster. Mereka cepat mundur sesudah Hurip memukul mundur lawan.
Meskipun sudah berlari cukup jauh, naga tetap keras kepala, mengejar mereka hingga mereka menjumpai naga telah menghalangi jalan. Alia mengentak tanah bersamaan dengan Azka, tercipta dua buah dinding batu, di depan dan belakang tubuh mahkluk menjepit hingga kadal raksasa ini meraung-raung kesakitan.
"Matilah kau," ujar Hurip tiba-tiba muncul dari balik asap yang muncul diatas naga. Dia mendaratkan tendangan pada kepala musuh dari atas ke bawah.
Kepala naga langsung menghantam tanah, sewaktu dia bermaksud akan menyemburkan api, Azka datang dan menarik tanduknya. Azka bertumpu pada kedua kaki sambil mengangkat seluruh tubuh naga, dia melemparkan kadal raksasa dan menggunakan shir mematikan yang memancarkan sinar pemusnah.
Walaupun sudah mendapatkan sihir menyebabkan sayapnya robek, naga ini tetap menantang keduanya dengan raungan penuh amarah. Sementara itu Hurip langsung terpelesat dengan Azka, mereka dari kedua arah memukul naga, tiap tumbukan buat naga muntah sebab keduanya memiki kekuatan luar biasa.
"Uwah.. kenapa mereka kayak main voli aja?" Tanya Alia dalam hati sembari tersenyum masam melihat mereka memainkan naga tersebut layaknya bola.
"Hebat sekali.." perempuan dekat Alia tertampak tertegun melihat permainan kedua laki-laki itu.
Hurip turun dan menembakkan sinar lurus berwarna merah, memotong kedua kakinya. Bertepatan Azka memutuskan ekornya sekali ayun pedang. Mereka berdua tertampak kesal, seolah-olah tengah meluap, melampiaskan amarah yang terpendam pada hati.
Naga jatuh ke tanah, membuat kawah besar dan menghancurkan area sekitarnya. Alia beserta perempuan yang diselamatkan mengecek keadaan mereka, justru bukannya terluka, melainkan mereka tengah menggergaji tanduk naga yang dikalahkan.
"Bodoh. Jangan menghancurkan tengah-tengah dari tanduk ini, itu bagian paling kuat!" Bentak Hurip seraya merebut gergaji dari tangan dengan paksa.
"Gue juga tau itu tolol!" Bentak Azka balik. Keduanya tertampak masih bertengkar, menyaksikan hal ini Alia berpikir mereka layaknya adik-kakak bercekcok.
Sementara Alia mengajak perempuan yang dibawa olehnya bicara pada Hurip, Alia tidak dindahkan oleh keduanya dan hanya memusatkan perhatian pada lawan bicaranya sekarang. Begitu pula Azka enggan mengalah makin memanaskan suasana keduanya.
"Roarr! Beraninya kali--!"
DIAMM!!
Sebelum naga menyelesaikan kalimat yang hendak diucapkan dia terkena pukulan dari Hurip dan Azka, secara bersamaan. Hantaman memakai buku tangan tersebut membuatnya terlempar lagi. Alia melihat naga itu kehilangan kehormatan, sehingga naga itu kabur dan terbang ke tempat yang jauh.
"Dia punya luka yang selamanya takkan pernah bisa sembuh. Mungkin bahkan di surga sekalipun luka yang dideritanya takkan sembuh," ujar Alia menatap naga pergi dengan terburu-buru berlari terbirit-birit.
"Mana aku tau dia masih hidup!" Jawab Hurip teriak-teriak serupa anak kecil. Hirup memakai sihirnya tuk mencari keberadaan naga yang dikalahkan mereka, tetapi ia tak kunjung menemukannya dan menyerah.
"Maaf, apa Anda pahlawan itu?" Tanya gadis disisi Alia mendekati Hurip. Hurip hanya mengangguk tanpa reaksi lain selain meminta mereka untuk cepat kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Mereka bertiga kembali ke mobil. Dikarenakan bahan bakar kendaraan habis, terpaksa Hurip memanggil seekor raksasa batu, mahkluk ini menarik kendaraan mereka. Alia bercakap-cakap dengan Hurip selagi perempuan ini mengobrol dengan Azka, menampak kekesalan mereka yang berat hati saling menatap.
Tiba-tiba saja raksasa batu berhenti. Dikarenakan segerombolan monster menghadang, kali ini, Alia diberikan tugas untuk membunuh mereka semua dan Hurip diam. Dia melihat jikalau Alia memakai senjata ketimbang sihir Khitam kepunyaannya.
"Baik. Apa yang dia lakukan untuk membasmi semua mahkluk itu?" Gumam Hurip berniat menonton Alia bertarung memakai pedangnya.
"Heh tolol. Alia pakai pedang dan sihir lah, kenapa kau pikir dia bakalan gunain bonekanya lagi? Karena itu membebani dirinya.." kata Azka tersenyum usil.
"Sok tahu-menahu kau. Darimana otak udangmu itu dapat pengetahuan tidak pasti itu?" Tanyanya Hurip memicu amarah Azka meluap-luap lagi seperti tadi.
Ketika perdebatan kembali terjadi, Alia yang tengah mengayunkan pedangnya melawan monster depan mukanya. Dia mengentak pedang menusuk lawannya dan membelah dua monster, semasa monster lain datang, Alia memutar tubuh dan menciptakan angin kencang yang mencabik-cabik monster di sekeliling.
Disebabkan monster masih tersisa, Alia melompat mundur ke belakang, kemudian mengentakkan kakinya ke tanah. Kedua dinding panjang menjepit empat monster hingga hancur. Melihat yang lainnya memanjat, Alia menghancurkan dinding batu, dirinya menggunakan bongkahan batu sebagai penembak.
"Matilah kalian," ucap Alia mengarahkan sekumpulan batu-batu menghujani segerombolan monster. Pada hitungan detikpun seluruh monster terbantai olehnya.
Monster berwujud tumbuhan bergerak ini tertampak sangat menjijikan, ketimbang monster tipe tanaman lainnya, karena mereka bukan memakan hidup-hidup mangsanya. Melainkan mengikat monster memakai akar dari tangan mereka, lalu menghancurkan lawan, secara berkeping-keping dan memakannya.
"Gara-gara kau, aku tidak bisa melewati pertarungan Alia yang ingin aku lihat.." bisik Hurip dekat telinga.
"Itu salah elu sendiri tolol," jawab Azka dekat telinga.
Melihat senyum kecut keduanya, Alia tahu bila Hurip maupun Azka tidak menonton pertarungannya, malah bertengkar adu mulut. Walaupun demikian dia seolah-olah melihat hubungan mereka merenggang, pikir Alia melihat pertikaian mereka sedari tadi saat pertamakali Hurip membunuh anak-anak tersebut.
"Apakah mungkin mereka menginginkan agar anak-anak di dunia ini memihak mereka? Kupikir, bahkan dulu saat kecil.. tidak, pengajar di sekolah tidak lah mengajar dengan baik.." batin Alia sambil mendekat.
Mereka sekarang melanjutkan perjalan menuju kota mati. Meskipun tujuan sedikit berubah, mereka akan berkunjung ke salah satu desa, tempat tinggal gadis yang bersama mereka sekarang ini. Hirup setuju tuk mengantarkan perempuan ini ke tempat tinggalnya.
Bahkan belum lama mereka dalam perjalanan, gadis ini menunjuk sebuah perkampungan terdekat dan turun di dekat sungai. Mereka semuapun berpamitan dan tim Hurip kembali melakukan perjalanan, meski raksasa menarik dengan lambat, kecepatannya serupa dengan kuda dan sama sekali tak berbeda.
"Heh tolol, mengapa kita gak menggunakan sihir Teleport milik elu?!" Tanya Azka membentak-bentak Hirup. Laki-laki yang dituju pun terdiam sejenak dan menghancurkan raksasa batu, dalam beberapa saat cahaya pun menelan mereka untuk sampai tujuan.