Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
25



Seorang pandai besi yang sudah menjadi langganan keluarga Hurip, goblin ini diberikan umur panjang dengan gantinya untuk memperbaiki Candrasa dan menyimpan pedang pusaka tersebut bila sesuatu hal terjadi pada penggunanya. Dengan kata lain hanya ia satu-satunya yang dekat dengan keluarganya Hurip.


"Bagaimana keadaanmu, kek ijo?" Tanya Hurip usai meneguk teh. Dia menyimpan cangkir sesudah meminumnya pelan-pelan sebelum menatap Reza.


"Tadi itu apaan? Aku punya sedikit pengetahuan dari jiwa, tapi Candrasa punya Hurip.." Alia bingung berkata-kata ingin meredakan rasa pemasarannya.


Pusaka jiwa Candrasa, awalnya pedang ini hanyalah pedang dengan bilah besi tipis biasa yang tingkat kekuatannya hanya rata-rata saja. Tetapi dibalik dari daya tahannya, pedang ini memiliki kehampaan, jika seorang pandai besi menempa sihir pada Candrasa maka sihir tidak akan menempel dan tahan lama.


Pedang ini dibuang oleh pemiliknya, lalu sahir Darah yang cuma bisa mengendalikan darah dan jiwa mengambilnya. Memasukan begitu banyak darahnya beserta jiwa, yang tidak lain adalah, teman goblin ini atau kakek buyut Hurip. Jiwanya masuk ke dalamnya membuat goblin ini ketakutan dan menyegel pedang.


"Lalu, gimana Hurip bisa dapetin Candrasa sekarang gitu aja?" Tanya Alia.


"Hmm.. keluarganya datang, lebih tepatnya, kakek Hurip atau anak dari sahabat daku. Dia membawa banyak binatang panggilannya.. mereka bersedia tuk dijadikan sebagai sumber kekuatan.." ucap goblin.


Sumber energi sihir melimpah ruah pada tubuh Hurip bukan dari lahir, tetapi memproses jiwa seseorang, membuatnya menjadi energi sihir paling mematikan dan sebenarnya sangat berat. Keluarga Hurip cukup membuat keseimbangan alam kematian terganggu.


Walaupun begitu batasan memasukan jiwa ke benda padat maksimal hanya tiga jiwa, jikalau lebih dari jumlah tersebut, pengguna sihir akan tidak sadar jika dia memasukan jiwanya sendiri. Lalu, jadi manusia tanpa jiwa dan hanya berjalan tanpa arah selayaknya boneka mati yang memiliki nyawa serta kehidupan.


"Harimau kemarin jadi.." Hurip menghela napas dan sebelum bercakap, "tumbal untuk energi Candrasa."


"Kok gue punya firasat kagak enak?" Lirih Reza waktu Hurip menatapnya sejenak. Dia berjalan menuju paron mengambil pedang melanjutkan perjalanan.


Hurip bersama kedua rekan melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya, ketimbang tenang saat melangkahkan kaki, Reza membelalak memperoleh ketua timnya mengubah arah tujuan. Kota yang aneh dan belum pernah ditemukan Reza sama sekali, kota bawah tanah, milik para peri kecil.


Dikarenakan tempat ini dapat ditempuh di hitungan menit saja, Reza kaget jikalau jalan masuk ke kota bawah tanah ini sulit ditemukan. Jalan berliku-liku itu bukan masalah utama. Melainkan semacam sihir yang mengamankan jalan, membuat siapapun akan tersesat, terkecuali bersama Hurip.


"Tidak apa-apa. Pasti aku akan menjemputmu seusai segalanya telah selesai.." Hurip mendekati Alia dan membelai rambutnya sebelum berbisik, "buat muka cantikmu lebih rupawan dari sekarang sebelum aku jemput. Jangan biarkan siapapun menyentuhmu, bila kau ingin menikah denganku, aku bersumpah janji."


"Aku terima aja sandiwara kamu," ujar Alia menerima tangan Hurip. Mereka menautkan kedua tangan selama beberapa saat sbelum Hurip dan Reza pergi.


Sewaktu Alia melewati gerbang masuk kota tersebut tiba-tiba kota tersebut hilang, Reza mencoba untuk menyentuh tanah, secara bertahap tempat berubah dan kota peri seakan-akan tidak pernah ada. Buatnya sedikit jengkel jikalau masih banyak lagi hal-hal yang belum diketahui oleh Reza pihak mereka selama ini.


Dengan singkat, dia berjalan diikuti oleh Reza selama beberapa menit setelah menemukan padang rumput terbuka. Keduanya saling tatap usai Hurip menatap, sehingga Reza tidak heran, dari tatapannya saja yang menunjukan amarah sudah terlihat bila identitas dirinya sudah terbongkar bahkan mungkin usai lama.


Tiba-tiba Hurip menebaskan pedang, menghasilkan dampak hembusan angin kuat hingga Reza kesusahan untuk menahan dan didorong menggores tanah. Selepas bertahan puluhan detik. Sontak Hurip langsung berlari, Reza tidak sempat bereaksi, lalu ayunan pedang terbungkuskn api menyerang bagian depan badan Reza memberikan kerusakan raksasa.


"Sudah aku duga," ujar Hurip menilik alat tergantung pada telinga Reza bercahaya merah menandakan pemiliknya tengah dalam bahaya besar dan darurat.


Tanpa diduga Hurip, sepatu yang dikenakannya, kini berubah menjadi alat yang mengeluarkan angin kencang hingga mendorong pemakainya. Ia terbang ke angkasa dalam waktu sebentar, cukup untuk Reza menyembuhkan dirinya sendiri, memakai kristal hijau yang digunakan menyembuhkan luka pemegangnya.


Mustahil orang dunia lain menggunakan sihir apalagi memanggil raksasa, sudah jelas, raksasa maupun robot yang digunakan dalam pertempuran bukanlah mahkluk panggilan. Meski ada Golem, mahkluk yang serupa, dia tahu bila semuanya alat yang diciptakan.


"Kau bukan menggunakan sihir. Tetapi memakai batu kristal atau harta kuno.." Hurip menunjuk ke arahnya.


"Kenapa?" Reza menyimpan kristal penyembuhan dan berkata, "kau juga menggunakan Candrasa!"


"Aku akui kita impas!" Teriaknya Hurip melampiaskan amarah. Dia terpelesat bagaikan tembakan cahaya menuju musuh, kali ini, Reza lebih siap dan memakai medan pelindung yang berwujud tameng yang tebal.


Reza melepas tameng perlindungan, lalu menyentak senjatanya, sebuah senapan mesin dikeluarkan menembakkan belasan peluru dalam sekejap mata membuat Hurip kewalahan. Dia berlari menghindari semua peluru yang berusaha untuk mencapainya.


Sesudah lari-larian belasan menit, senapan mesin dia mengalami overheat dan Reza mengganti senjata yang lain. Hurip menggeser Candrasa ke sampingnya selagi api hitam menyelimuti bilah. Begitu pula Reza menyambungkan kabel, dia menghubungkan kubus energi, pada pedang laser di genggaman tangannya.


"Matilah untuk kedamaian dunia!"


Reza berlari menerjang Hurip yang menyambut Reza dengan tusukan, meski pundaknya tertusuk, lelaki ini bersikukuh untuk memberikan tebasan. Sewaktu pedang cahayanya tergerak. Pada waktu bertepatan Reza melotot kaget, ia mendapati bila energi pedang lenyap, membuat Hurip menyeringai jahat nan lebar.


"Saya kira pertarungan kami akan berlangsung akan panjang..." Batin Reza menatap musuhnya tengah menggerakkan pedang di atas kepala. Bersiap untuk membunuhnya sekali ayunan pedang berselimut api.


"Ap--!"


Tanpa diduga keduanya, ledakan-ledakan tersumber dari tanah meluluhlantakkan area sekitar mereka dengan cakupan yang cukup luas. Selagi Hurip lagi kebingungan. Dia mengambil kesempatan, bergerak mundur, meski dalam sekejap Reza melihat sebuah dinamit yang sumbunya belum terbakar pada tanah.


"Kami terlambat!" Ujar seseorang memakai pengeras suara dari dalam kokpit Spear-Gear. Mendadak saja robot raksasa mendarat dari langit menyakitkannya.


"Kalian yang menyiapkan ini?" Reza menggelengkan kepala sebelum berkata, "lupakan itu dulu. Lebih baiknya kita mundu---!"


"Tunggu bajingan!" Teriak Hurip melemparkan sihir angin yang menghancurkan sekeliling. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kali ini, Reza melihat semua benda yang dicakup hancur hingga jadi debu.


Sihir angin Hurip mendahului dinamit membuatnya selamat dari ledakan. Biarpun selamat, dia tetap menargetkan mereka dan tiba-tiba saja penghalang mengelilingi mereka semua dalam radius beberapa kilometer dari tempat Hurip berpijak. Reza pun tahu bahwa keluar dari penghalang ini pasti susah sekali.


"Siapapun yang mati..." Reza menghirup udara lebih banyak sebelum berteriak, "takkan saya maafkan!!"