Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
29



Menggunakan dorongan sihir angin, dia memelesat cepat mendahului semua prajurit yang mengejar gadis mirip Liana tersebut. Akibat ketakutan Liana pergi dari hadapannya lagi, Hurip membuat gadis ini tidak mampu bergerak dengan sihir pelumpuh kuat.


Mata Liana terbuka lebar-lebar saat Hurip menaikan pedang pada bagian atas dekat lututnya. Begitu diayunkan, gadis ini menjerit-jerit kesakitan sewaktu Hurip memotong kedua kakinya. Takut kehilangan orang yang disayanginya kembali, Hurip melakukan apapun, demi mendapatkan hal berharga kembali.


"Maafkan aku.." Hurip menarik napas dalam-dalam sebelum bercakap, "aku sudah nggak mau kehilangan kamu lagi. Jadi, maafkan keegoisanku."


"Urip, malahan, yang harus minta maaf sama kamu itu aku.." ucap Liana berusaha untuk berdiri. Gadis berambut pirang ini menghunuskan pedangnya lagi membuat Hurip menelan ludah, sehingga yang ada dalam pikiran Hurip saat ini, ialah membuatnya Liana tidak bisa bertarung maupun kabur.


Liana maju menyerang terlebih dulu, Hurip memakai semua kemampuannya untuk menghentikan gadis ini bagaimanapun caranya. Sehingga tanpa sadar, ia membuat Candrasa masuk mode, pengguna tidak akan mendapatkan batasan dan melewati segala dari batasan manusia tanpa peduli konsekuensinya.


Kali ini Hurip dapat melihat beberapa saat kedepan ketika lawan menyerang, Hurip menangkis semua tebasan Liana dengan melihat lintasan serangan. Dia langsung mengayunkan pedang, memotong senjata Liana, lalu mendaratkan pukulan berat sampai Liana terpental cukup jauh akibat dampak serangan Hurip.


"Melihat masa depan dan prediksi serangan lawan tidaklah semudah bayanganku.." batin Hurip.


Liana tidak menyerah. Ia menembakan tombak petir secara bertubi-tubi, sementara Hurip hanya diam bergeming dan menahan semua sihir Liana memakai pelindung. Gadis ini sadar bila ini diteruskan, maka yang duluan tumbang ialah dirinya disebabkan habis energi sihir dan Hurip dapat menyerang dirinya lagi.


"Apa yang harus aku lakuin?" Liana ini menggenggam erat pedangnya dan berkata, "mau nggak mau ak--"


"Jangan mengada-ada.." Hurip tiba-tiba berpindah ke lawan muka Liana. Dia menendang gadis ini, lalu mematahkan kedua tangan membuatnya memekik sangat keras dari sebelumnya hingga Liana terkapar.


Hurip menatap wajah Liana, mengingat pertemuan mereka sangat buruk saat pertamakali. Karena keduanya dijodohkan, bukan bertemu secara alami, menciptakan ketegangan diantaranya. Dalam waktu lama Hurip dan Liana mampu mengakrabkan diri, sehingga kekuatan diantara dua keluarga makin kuat.


Keluarga Liana bisa menjadikan daging-daging yang masih segar menjadi energi sihir, sedangkan dari keluarga Hurip dapat mengubah jiwa mahkluk hidup menjadi energi sihir. Bila pernikahan mereka saat itu lancar-lancar saja, maka anak mereka mampu memiliki dua kemampuan keluarga masing-masing.


"Yah.. sampai akhir hayatnya, ibu sama sekali tidak mengetahui keberadaan yang diculik.." batin Hurip.


"Tolong kembali ke kota Alfha dan beritahukan pada tuan kalian untuk menggali tanah mencari dinamit yang ditanam orang dunia lain," titah Hurip pada para prajurit yang mendekat tanpa menoleh para prajurit.


Justru saat prajurit bermaksud angkat kaki, tiba-tiba Liana bergerak dan menggunakan sihir angin tingkat tinggi memotong-motong tubuh prajurit dengan instan. Menebak apa yang terjadi, Hurip bersicepat menyerap jiwa salah satu prajurit dan menyimpannya dalam bilah Candrasa mengambil kesempatannya.


Potongan daging mengepul berubah menjadi asap kemerah-merahan. Kemudian masuk ke tubuh Liana, Hurip pun tidak menyangka dan baru pertamakali melihat kemampuan aslinya. Pasti akan sangat guna di perang, tetapi, Hurip merasa ragu mengimbangi kekuatan yang serupa dengan kemampuan miliknya.


"Maafin aku, tapi aku bakalan lebih serius sekarang!"


"Akan kubuat kau berada dipelukan tanganku lagi!"


Selagi ia melancarkan rentetan tinju, Hurip membalik tangkai senjata dan mencoba menebas pergelangan tangan Liana. Justru pedangnya yang terdorong. Dan saat yang sama, Liana mengubah arah pukulan, pukulannya kali ini sampai ke Hurip meski ditahan.


"Tidak hanya kuat, tiap pukulannya terasa sangat berat hingga aku terdorong.." kata Hurip dalam hati.


Hurip menciptakan sebuah tameng kristal, dengan penglihatan masa depan dia berhasil menangkis serta menahan tiap-tiap tumbukan Liana. Nyatanya tidak mengubah fakta dia akan kalah jika terus bertahan seperti ini, maka Hurip mempunyai ide lain.


"Ini udah berakhir, Urip!" Teriak Liana.


"Ini bukan akhir dari segalanya," jawab Hurip bernada pelan nyaris tidak terdengar. Selagi sibuk memukuli kedua tangan menyilang Hurip, mendadak Liana kini terhenti karena ada yang menebaskan pedang di bagian punggung. Hingga Liana berhenti memukul.


Liana melompat samping begitu menoleh belakang terdapat Hurip yang lain, awalnya dia bingung dengan adanya dua mantannya. Tetapi ditilik lebih fokus lagi yang menyerang boneka buatan Hurip, tapi Liana bingung mengapa dia seperti memiliki sesuatu kesadaran, padahal terlihat terbuat dari benda mati.


Alasan boneka sangat terlihat hidup, pemilik boneka membuat jiwanya terbagi menjadi dua kesadaran sehingga mampu membuat benda mati selayaknya benda hidup. Memiliki akal serta kemampuan yang sama dengan aslinya, meski sesudah penggunaan ini akan membuat pengguna sakit kepala dan terbebani.


"Gini nih aku gak suka kamu nyembunyiin kekuatan dari aku.." Liana mengepalkan kedua tangan bersama mata menatap tajam sebelum berkata, "bersiaplah.."


"Satu pertanyaan seandainya aku kalah.." kata Hurip mengangkat sebelah tangan dan bertanya, "dimana anak kita? Saat itu.. aku menitipkannya pada Ria, tetapi berkata ada yang menculiknya. Apa itu kau?"


"Apa yang kamu katakan? ..." Liana terdiam sejenak sebelum berteriak, "ulangi lagi!"


Liana melesat cepat bagaikan kilat, kecepatan tinggi tidak mampu diikuti mata Hurip dan ketiganya saling beradu pukulan. Hurip menyimpan Candrasa. Pada saat-saat terakhir, dia tahu jikalau Liana akan marah, bila tahu anak mereka hilang tanpa jejak bahkan sihir yang menyelimuti sekujur tubuh lenyap tanpa bekas.


Hurip mengigit bibir, selagi Liana terfokus pada yang asli, boneka menarik Candrasa dari pinggang Hurip dan bermaksud akan menyerang Liana seperti titah penggunanya. Tapi Hurip tiba-tiba menggunakan jiwa dan mnghentikan bonekanya untuk menyerang Liana.


Waktu Hurip membunuh bonekanya sendiri, akibat dari pemakaian sihir datang, kepalanya tiba-tiba sakit seketika. Mengambil kesempatan ini Liana langsung melancarkan begitu banyak rentetan pukulan. Dalam hitungan puluhan detik Hurip terkapar pada tanah.


"Ulangi ucapan kamu tadi.." Liana menduduki Hurip dan berteriak, "katakan lagi!!"


"Maaf. Aku nggak bisa penuhi permintaan kamu saat itu.. sambil memukul mundur penjajah, aku berusaha untuk mencari anak kita," kata Hurip menahan tangis.


Liana tidak merespon kata-kata Hurip, ia menduduki Hurip yang tengah terbaring dengan kedua tangan terbungkus api biru membara. Tampak linangan air matanya lenyap menjadi uap, melihat api yang sudah murka, dia menghela napas dan memejamkan mata.


"Nyatanya aku adakalanya meluapkan anakku sendiri dan hanya berharap saja ada keajaiban," kata Hurip. Hingga ucapannya barusan semakin memicu murka Liana, Liana pun segera melepaskan pukulan api yang memiliki daya hancur dan ledakan mencakupi belasan meter dari tempat mereka berada saat ini.