Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
38



Hurip menendang gerbang raksasa sampai terbuka lebar memperlihatkan sekumpulan prajurit terkapar tidak berdaya, ditengah-tengah para ksatria pingsan seseorang melempar senyum kecil kepadanya. Alia memegang pegangan pedangnya bersiap siaga, tidak disangka siapapun pengkhianat datang kemari.


Tanpa basa-basi meski sekelumit. Hurip menerjang maju sembari kepalan tangan dikelilingi cahaya merah, kecepatan lambat yang diakibatkan kekuatan yang terpusat di buku tangan. Reza menyilangkan kedua tangan depan dada, dia menahan pukulannya Hurip berbekal pengetahuan dan alat-alat tempurnya.


"Yah. Memang hebat. Kelihatannya alat yang barusan dikembangkan cukup menahan kekuatanmu, tetapi.. ini nyaris memasuki tahap overheat. Monster macam apa dirimu ini?" Reza menatap tajam kepada Hurip.


"Kau pastinya menyesal menginjakkan kaki di dunia kami. Kembalilah sebelum aku.."


"Sebelum apa?!" Reza menyela sembari mendorong Hurip ke belakang sebelum berkata, "kau memang penjahat yang membuat dunia dan keluargaku mati!"


Hurip semakin kewalahan, akhirnya melepaskan tinju dan menjaga jarak beberapa meter. Selagi mereka saling memandang. Keduanya memperhatikan zirah serta peralatan masing-masing, tapi, nyatanya Reza mampu menganalisa informasi lebih baik dari Hurip.


Hurip memperhatikan pelat besi dengan batu kuning terpasang disetiap sisi pelindung tangan, sehingga dia menyadari kalau dari kelima batu permata, salah satunya sudah ditangan Reza. Diakibatkan karena dia tidak sekolah dengan benar, Hurip tidak tahu, manfaat dan fungsi ke-lima batu permata tersebut.


"Tidak. Ada kemungkinan besar peneliti belum tahu kekuatan apa didalamnya.." Hurip mengangguk-angguk, "belajar dapat dimana saja sekolah bukanlah satu-satunya tempat untuk mempelajari sesuatu hal."


Reza mendadak mengeluarkan sebuah benda kecil tipis, kartu memori yang bersinar kuning dimasukkan pada alat di tangannya. Dalam sekejap mata. Hurip tersentak karena kaget, energi sihir yang membludak baik dari luar maupun dalam. Kekuatan yang dimiliki meningkat secara dramatis menciptakan suasana mengerikan, memberi kegelisahan memenuhi warga.


"Kau memaksa diriku untuk melepaskan dia!" Bentak Hurip mengeluarkan Candrasa, pedang pusaka jiwa, sekali tarik dari sarung keluar terselimuti si api putih.


Mereka saling mengeluarkan pedang masing-masing yang terbungkus kekuatan luar biasa, penonton yang menonton hanya bisa tertegun. Sikap siaga dengan posisi kaki dan tubuh yang siap menyerang maupun bertahan, yang membedakan dari keduanya, Reza itu lebih terlihat kokoh dan tidak memiliki banyak celah.


Sementara Reza tertampak kebingungan, bahwa dia hanya bisa menyerang tanpa memikirkan kekalahan memukulnya. Posisi Hurip begitu ngawur sembarang tapi pada saat yang sama, celah sangat banyak dan masalahnya hanya satu, suasana disekeliling seolah-olah memberi kesan siapapun yang mendekat, mati.


"Memang pahlawan. Mengerikan," lirih Reza melihat lawannya sedang menunggu dia menyerang duluan.


"Akan aku akhiri dengan satu tebasan!" Teriak Hurip memijak tanah lebih kuat hingga membuat bekas kerusakan yang cukup kecil pada tempat pijakannya.


Memakai alat di mata, Reza memprediksi gerakan yang akan dilakukan dan melakukan antisipasi serangan. Reza menggeser pedang ke depan sambil menatap lawan. Menyejajarkan pedang menyentuh ujung kaki, energi sihir yang mengalir pada tumpuan baginya berdiri berkurang memungkinkan berat tubuhnya berkurang dan Reza mampu lebih gesit.


Energi sihir mengalir lebih banyak pada pergelangan ketimbang anggota tubuh lain. Hal yang diketahui Reza akhir-akhir ini, energi sihir mampu memperkuat anggota tubuh dan meringankan beban. Hal tersebut dapat memudahkan dalam pertarungan jarak dekat, meski Reza belum terbiasa mengalirkan energi sihir.


"Matilah kau.." ujar Hurip.


Keduanya bergerak bagai kilat cahaya. Bunyi denting pedang yang nyaring terdengar, seperti dugaan dari alatnya, Reza bisa menebak arah ayunan pedangnya meski dia tampak kesulitan menahan. Hurip semakin mendorong pedang memojokkan Reza yang tidak kuat, dia bergerak mundur perlahan-lahan menunggu waktu yang tepat melancarkan serangan balik Hurip.


Hurip menubruk dinding kastil mengakibatkan debu berterbangan menghalangi penglihatan, tiba-tiba saja api putih menyebar dari sumber debu dan cepat meruak menuju Reza. Tanpa persiapan apapun sadar atau tidak, dia terkena serangan Hurip yang memberi efek fatal pada alat yang menopang hidup milikinya.


"Ugh!" Reza merintih kesakitan sebelum berkata, "ini.. jantung buatan ini hanya mempunyai umur setahun."


"Pak. Reza, kami akan cepat datang pada titik lokasi yang disebutkan. Mohon diharapkan, Anda segera mencapai koordinat.." cakap pilot melalui earphone tanpa kabel. Yang terpasang di daun telinga kirinya.


Memanfaatkan keadaan, Reza kabur sembari dirinya memegang erat dada sambil terlihat kesulitan untuk menghirup udara. Sewaktu sadar jikalau melupakan seseorang, lelaki ini sekuat tenaga menghindar pisau yang tiba-tiba melayang menggores pipi biarpun Alia menarget leher musuh yang awalnya kawan tersebut.


Reza mengentakkan kaki menciptakan dinding tanah tebal memisahkan mereka berdua. Dikarenakan jemputan telah datang, DyntalGear yang lagi terbang membuka kokpit dan Reza menaiki robot raksasa ini selagi Alia menembakinya dengan sihir bola api yang tidak kuat. Lelaki itu hanya melihatnya sinis dari atas.


"Nn. Alia...! Apa yang terjadi?" Tanya prajurit penjaga menghampiri mereka berdua membawa pasukan.


"Hurip! Kamu nggak apa-apa?" Tidak mengacuhkan para prajurit, dia mendekati Hurip sedang berusaha berdiri dengan luka di kedua kaki yang terluka parah.


Sambil menyembuhkan luka memakai ramuan, Hurip menatap jikalau bagian bawah tepat kaki mendarat terbuat dari berlian. Kali ini Hurip mengetahui adanya kegilaan. Sempat Hurip mengusulkan persenjataan yang brbahan berlian, sekarang Hurip paham, alasan usulannya kala itu ditolak mentah-mentah semuanya.


"Melimpahi diri sendiri dengan kekayaaan. Namun, pada akhirnya, mereka akan tewas setelah para rakyat mereka yang seharusnya dilindungi.." batinnya Hurip sembari dia mengigit jari geram hingga putus.


"Hurip? ... Mengapa kamu terlihat ..."


"Seandainya Alia punya kabar yang baik. Kecupan itu satu saja.." Hurip terdiam menjeda ucapan sebelum berkata, "akan aku berikan jikala kau memang punya."


"Ada! Dapet kabar kalo ada anak sama ciri-ciri mirip sama anak kamu, beneran!" Kata Alia tergesa-gesa.


Hurip menoleh muka Alia yang kegirangan seakan-akan melihat anak kecil mengharapkan mainan. Buat lelaki ini menghela napas. Candaan yang dibuat oleh dirinya diharapkan, biarpun dia cukup senang kalau informasi yang didapatkan Alia benar dan nyata ada.


Begitu walikota beserta Ria bergabung menyaksikan kerusakan halaman depan kastil Hurip berbentak-bentak kepada dua-duanya. Komplain mengenai itu tidak membuahkan hasil. Justru jawaban walikota ini membuat Hurip tambah geram, bahkan tidak berefek apapun, pertahanan seperti itu tidak akan cukup kuat menahan serangan penuh para penjajah dunia lain.


"Hurip. Bukan kah dirimu sudah membuka pembatas yang mengurangi kekuatan aslimu?" Kata Ria.


"Diriku akan senang bila kau berkata, mengapa kamu kalah? Ketimbang bertanya seperti itu.." Hurip yang tengah menyembuhkan luka menghela napas, "kamu tidak memahami seberapa kuat dan mengerikannya."


Melihat tatapan mata Hurip saat ini siapa pula sadar pahlawan yang dijuluki ksatria dari segala ksatria, dirinya sedang memiliki suasana hati yang teramat-amat buruk. Membuat hampir semua orang langsung menelan ludah dan ketakutan mendalam, karena hal tersebut sudah biasa apalagi Hurip sering mengguna sihir intimidasi ketika memiliki tatapan kebencian itu.