
Anak seumurannya bermain diluar dinding kediaman saling bercakap-cakap dengan yang disebut teman maupun sahabat. Seorang gadis menatap seluruhnya jadi balik jendela, ia hanya memeluk sebuah boneka sembari menyaksikan manusia berjalan tanpa henti.
"Nn. Alia, anda bisa terlambat sekolah.." ujar pelayan menundukkan kepala belakang punggung Alia.
"Hmm.." Alia mengangguk pelan, "apa boleh boneka ini aku bawa ke sekolah?" Tanya Alia menatap pelayan yang membuang muka seusai menggeleng.
Alia menaiki kereta yang ditarik kuda menuju sekolah dengan perasaan takut. Bahkan usai sampai depan gerbang, dia gemetar sewaktu memegang tas penuh buku sembari menarik-narik napas, kemudian masuk melewati gerbang besar menjumpai bangunan besar.
Gadis ini membuka pintu kelas, segera menemukan remaja seumuran sedang mengobrol. Dengan agak cepat Alia berjalan dan terduduk di kursi, pandangan dia hanya tertuju pada lantai berusaha tidak menarik perhatian. Yang ingin dilakukan oleh Alia hanya diam.
"Hei.. kamu dari keluarga?" Tanya seorang siswi.
"Eh..." Alia hanya menganga. Setelah menunggu agak lama Alia tidak kunjung menjawab sehingga siswi tersebut pergi usai berdecak kesal dan menggerutu.
Setelah kejadian itu setengah dari jumlah murid pada kelas menjadikan Alia sebagai bahan ejekan, meski tanpa kekerasan menciptakan kesabaran mencapai batas dan Alia menggunakan kekuatan boneka. Pada hari itu dia membunuh empat siswi sekali sentuhan.
Kawan-kawan komplotan perundung tidak menyesali perbuatannya, justru mengaku bila Alia mengancam mereka jika tidak memberikan uang. Akibat itu sebab Alia hanya bangwasan kasta rendah, dia mendapat hukuman yang tidak seharusnya diberi pihak sekolah.
"Sekarang. Mintalah maaf pada mereka sebelum kau dikeluarkan dari seko--"
"Tunggu sebentar!" Seru seorang siswa menyela. Dia memasuki halaman sekolah membuat semua guru ketakutan, aura membunuh dipancarkan oleh sekujur tubuh dan kedua matanya membunuh seorang siswa menyebabkan teriakan kepanikan terjadi setelahnya.
Hurip mendekati Alia yang tengah gemetar ketakutan dan mengambil boneka pada tangannya. Refleks gadis ini merebut boneka balik. Perihal tersebut buat semua tercengang, begitu Hurip hendak mengangkat tangan, Alia mencabut kepala boneka dihadapannya.
Kejadian serupa terjadi kepada Hurip, berkali-kali lagi semua orang berteriak dan berhamburan berlarian akibat ketakutan luar biasa. Alia menarik napas lega dan berniat pergi, tapi tiba-tiba Hurip mencengkram lengannya memicu Alia terperanjat kaget mendapati Hurip mampu hidup tanpa kepala buatnya ketakutan.
Hurip menjentikkan jari. Dalam hitungan detik dapat terlihat regenerasi super cepat, selama itu terjadi Alia terlihat memeluk erat bonekanya dan tertampak gelisah. Sesudah penyembuhan Hurip sudah selesai secara penuh, dia berbicara sembari menunjuk Alia.
"Pengguna sihir Khitam melindungi apa yang dikira olehnya berharga. Gadis ini berusaha menjaga bonekanya, sementara, orang-orang ini serta semua orang yang mati dibunuh olehnya menjahili dia dan merebut boneka ini. Seharusnya guru dari sekolah ini tahu tentang sihir Khitam, lalu jangan pakai tingkatan bangsawan kalian!" ujarnya menatap tajam pengajar.
"A-Anu.. eng.. terima-kasih.." lirih Alia menundukkan kepala tidak berani memperlihatkan muka yang sedang memanas karena rasaan malu terhadapnya.
"Tak usah berterimakasih. Aku ingin para bangsawan tidak menginjak-injak orang yang lebih rendah kastanya.." ucap Hurip tersenyum ramah. Biarpun dia mengatakan hal indah tersebut, entah mengapa Alia merasa adasuatu dibalik kalimat yang dilisankannya.
Alia mengangkat Wajah menemukan nama murid di depan mukanya. Tanda pengenal bertuliskan Hurip Kausa Darma, lagi dan lagi gadis ini menekan dada pada boneka pada telapak tangan. Tidak lama Hurip hanya mengelus-elus dada sambil berjalan menjauh.
***
"Eh?" Alia tampak keheranan melihat sana-sini, "ada yang aneh.. penjagaan kota kayak lebih ketat."
"Kita cari senjata.." ujar Hurip mendahului langkahnya Alia melewati gerbang kota Bahadur usai diperiksa oleh para penjaga. Kecuali Alia tidak diizinkan Hurip.
Gadis ini semakin dilirik oleh orang-orang ketika dia masuk mendapat perlakukan khusus, seolah-olah Hurip tidak membiarkan siapapun menyentuh dirinya dan menjadikannya sebagai miliknya. Pikir warga di sekeliling mereka berbincang-bincang belakang Alia.
Kelahiran anak dari Hurip diharapkan oleh banyaknya orang. Sebab baru kali ini terdapat pahlawan yang sangat amat kuat, mempunyai anak dari si pahlawan sangat kuat menjadi harapan. Nyatanya Hurip tidak yakin apabila sesudah dia meninggal, anak tersebut mampu menahan beban seluruh tangkai Candrasa.
"Hurip...!" Seru Alia dari belakang.
"Ada apa?" Sahut Hurip.
Dia menghentikan ayunan kaki dan cepat menengok belakang, mendapati Alia serentak memeluknya sambil terengah-engah bersama keringat mencicik membasahi seluruh wajah. Hurip menyentuh kening Alia merasai panas luar biasa bagai menyentuh api, sontak Hurip cukup terperanjat sambil kebingungan.
"Sihir penyembuhan tidak bekerja..." Hurip bergumam seraya mengambil ramuan di kantong, "minumlah ramuan aga---tidak, Alia apa kau tak bisa menelan?"
Perempuan ini mengangguk terlihat amat menderita rasa sakit. Hurip tertegun sesaat melihat ada suatu jahitan disekitar pipi diantara kedua sisi mulut, tidak ada hal semacam itu sebelumnya hingga membuat dia bingung. Kedua mata Hurip melirik selingkungan banyak orang menjadikan mereka tontonan menarik.
Dia menghela napas dan menggendong Alia menuju tepi jalan. Selama beberapa menit memperhatikan jahitan tersebut makin berusaha menutup mulutnya rapat, sewaktu berusaha melepasnya, Hurip merasa bahwa benang-benang ini hidup dan berusaha untuk mengambil alih tubuh Alia sebagai inang pengasuh.
"Liana tidak mampu menggunakan kekuatan boneka jiwa kematian. Lalu.. siapa?" Batin Hurip berkeringat.
Hurip mengigit benang tersebut berusaha memakan seluruh mahkluk yang membahayakan nyawa Alia, tetapi dia tidak sempat. Benang-benang warna hitam tersebut sudah menutup mulut Alia sepenuhnya. Bila dibiarkan, selanjutnya, benang akan memenuhi mata.
"Anakku? Ini perbuatannya! Di mana Alia melakukan interaksi dengan.." Hurip tiba-tiba berhenti bicara.
Semua benang terkumpul menjadi bulatan kecil, lalu menghilang dimakan cahaya sihir perpindahan tempat. Dengan begitu Alia terbebas mampu untuk bicara kembali. Hurip mengigit bibir, dengan jengkel mengetahui, bila anaknya saat ini melepaskan suatu teknik itu dari Alia dan kabur tanpa jejak sedikitpun.
Mengingat bila itu dapat terjadi, kekuatan energi sihir bisa didapatkan dari Hurip sementara kemampuan yang mustahil dilepaskan Liana dapat digunakannya makin buat Hurip mengigit bibir. Dia menggendong Alia menuju toko senjata walaupun gadis ini pingsan.
"Apa yang harus kulakukan dan katakan nanti jikalau bertemu anakku?" Tanya Hurip dalam hati.
Dalam perjalanan Hurip melihat sebuah toko senjata yang sangat sepi bahkan terlihat seperti bangunan kosong. Diseberang terdapat toko senjata lain, tetapi Hurip pergi menuju toko bobrok ketimbang menuju toko kan penuh pelanggan dan mengetuk pintu toko.
Suara decitan pintu terbuka amat menganggu telinga dan Hurip menghela napas, tetapi Hurip langsung tersenyum begitu seorang kakek yang menggunakan tongkat membuka pintu. Toko klasik yang menjual senjata tanpa melekatkan sihir, sehingga Hurip dapat menerapkan sihir apapun sesuka hatinya tak seperti toko diseberang yang hanya menyediakan senjata yang sudah ditetapkan sihir dan takkan bisa diubah.