
Robot penjaga aktif, Hurip langsung menggunakan pelindung tebal untuk memberikan perlindungan, tetapi Robot justru memakai peluru kendali sehingga Hurip yang tidak menduga ini terkena ledakan. Dia berhasil melompat mundur ke belakang, walau luka bakar terdapat pada tubuh dan bajunya sobek-sobek.
"Dia telah diperbaharui ya? Menjengkelkan!" Bentak Hurip melemparkan sebuah tembakan sihir bilah air.
Robot tidak bereaksi apapun, andaikata menghindar maupun mempertahankan diri, lebih lagi robot menerima serangan Hurip dan tak membekas sedikit pun. Hurip terus berdecak kesal selagi dia mengganti pakaiannya dengan perlengkapan khusus, tentunya ia memulai tuk serius seusai mengenakan pakaian ini.
Ketidaksukaan Hurip terhadap mereka senantiasa memperbarui kekuatan tempur setiap bulannya, Hurip pikir hal trsebut harus diconto, meski tak harus dalam waktu singkat. Bertepatan ketika bilah pedang Hurip terselimuti cahaya, robot pula segera ikut menghunuskan pedang sinar biru dari punggungnya.
"Jadilah rongsokan!" Teriak Hurip menerjang maju lawan. Robot memecah tubuhnya menjadi tiga, tubuh utamanya melepaskan beberapa bagian besi yang meminimalkan gerakan serupa Spear-Gear.
"Gerakannya menjadi lebih gesit," batin Hurip melihat lawannya tengah berlari ke arahnya. Dengan segenap berkekuatan penuh Hurip mengayunkan pedang besi dengan tangan kanan, diikuti oleh Candrasa pada tangan kiri, maksud Hurip memberikan dua tebasan.
"Apa yang--!"
Pedang besi terbelah menjadi dua, robot menangkis tebasan pedang kanan Hurip dan pada waktu yang sama dia mengaktifkan medan pelindung. Tidak ada serangan Hurip yang berhasil. Sehingga dia mundur, justru, robot lain menembaki Hurip dengan peluru.
Medan pelindung, mirip dengan sihir pelindung, murni terbuat dari teknologi manusia. Pada cakupan radius tertentu semua serangan dari benda padat dapat tercegah, meskipun serangan beruntun dari senjata tumpul dapat merusak medan pelindung, itu menjadikannya sebagai penghalang kuat nan tebal.
"Sial. Tanganku kena," ucapnya menyodorkan lengan kepada Alia untuk disembuhkan. Gadis ini mencium tangan Hurip dan cahaya hijau menyelimuti lukanya.
"Jangan melakukan hal yang tak perlu.."
"Tenangkan diri kamu. Aku tau kamu kayak tergesa-gesa gitu, tapi.. pikirkan cara terbaik buat ngalahin robot itu. Di buku yang kamu tulis mereka mencipta mesin itu pake pengetahuan. Terus. Kamu lawan dia pake amarah gitu?" Alia menyerocos sampai-sampai Hurip kesulitan hanya untuk menyela perkataannya.
Hurip menarik napas perlahan-lahan mencari tenang terlebih dahulu, lalu dia mengangkat pandangan, senapan dengan empat kaki tersebut dulunya tidak bergerak dan hanya menembak saja jikalau musuh mendekat. Kali ini robot memiliki banyak perubahan yang menyudutkan Hurip, tapi Hurip tetap melawan.
Remaja laki-laki ini menggores lengan, darah yang digunakan untuk memanggil sebuah mahkluk. Mahkluk yang datang dari lingkaran sihir dari darah Hatma muncul. Seekor harimau putih bermata biru terang menundukkan kepala, dalam sekali tunjuk, harimau ini bersicepat mengaum dan menatap robot yang tengah dilawan oleh tuannya.
"Alia. Robot pembawa senapan akan kepanasan usai menembak dengan waktu yang lama, kau bersama harimau-ku buat kedua robot kepanasan selama aku mengurus tubuh utamanya.." titah Hurip.
Harimau putih ini berjalan menuju Alia, gadis ini agak kaget ketika memperoleh api biru menyelimuti sekujur tubuhnya saat Hurip maju selangkah. Alia kini menghela napas dan mengangguk. Hirup menjejak tanah, dia terpelesat kencang dan melakukan ayunan berkekuatan tinggi berupaya menebas lawannya.
"Seperti dugaan," batin Hurip. Robot tidak menangkis melainkan berusaha untuk mematahkan senjatanya, Hurip cukup heran, mengapa pedang cadangan miliknya terbelah. Sinar lurus itu mampu membelah benda apapun yang jika tanpa dilekatkan sihir.
Hirup mengambil belati, sebelum dia melemparkan pisau tersebut, dia melekatkan sihir pelindung dan penghalang pada bilah. Ketika ujung pisau mendekat, robot menggerakkan pedangnya, namun pisau menembus pedang cahaya dan mengenainya.
"Uwah celaka. Lupa mereka bisa membuat benda mati mempunyai kepintaran juga .." Hurip tersenyum masam. Setelah pertahannya tertembus, dia memperkecil cakupan medan pelindung melindungi badan dan Hurip kini kebingungan melawan.
Tiba-tiba dia tidak lagi mendengar suara gencaran peluru, sebab kedua senapan berkaki itu sudah mengalami kepanasan. Hurip pun menembakkan sinar penghancur, sihir tertinggi dari elemen cahaya, melelehkan mesin tersebut dalam sekejap mata.
"Pada awalnya, aku berusaha menghemat seluruh tenaga beserta energi sihir. Tapi.. kau memaksa diriku untuk menjadikan dirimu sebagai rongsokan dalam waktu singkat!" Cakap Hurip membentak-bentak dengan wajah jengkel dipenuhi oleh amarah.
Hurip menyarungkan kembali Candrasa, pada sarung pedang, bilah senjatanya bersinar terang. Ketika Hurip mengentakkan pedang, dia segera mengayun pedang dengan kekuatan tinggi, memelesatkan sebuah tebasan hitam berupa bulatan hitam pekat.
Benda bulat hitam tersebut menelan materi-materi di sekitarnya bahkan cahaya, dalam waktu singkat robot tersebut seperti dijepit oleh benda tak kasat mata dan hancur ditelan benda bulat hitam tersebut secara perlahan-lahan. Seusai lawannya lenyap tidak tersisa Hurip letih dan terjungkal ke tanah.
"Kamu nggak apa-apa?" Alia memeluk tubuhnya dari sisi kanan selagi harimau panggilannya berguling-guling di samping tuannya layaknya seekor kucing.
"Bagaimana kalian membuat benda itu terus menembak tanpa henti sampai panas?" Tanya Hurip menatap Alia sedang disanding kebahagiaan.
"Gampang aja. Biarin peluru menembak badan aku, sementara kucing kamu lelehin semua peluru yang datang ke kami.." cakap Alia sembari mengelus-elus perut harimau menggelitiknya sehingga mahkluk ini lebih lama berguling-guling di tanah menyukainya.
"Kau sangat manja pada Liana dulu. Apa kau kira dia Liana?" Hirup membelai bulu harimau sambil tersenyum tipis. Melihat senyuman Hurip, kali ini ada perbedaan ketika ia tersenyum sedih saat sandiwara.
Seusai berisitirahat, mereka masuk lebih dalam, lalu menjumpai sebuah tempat dengan pintu besi yang bahkan tidak pernah dilihat Hurip. Dikarenakan Hurip ingin apa isi dalam ruangan. Dia membuka pintu secara paksa, dengan tiga kali tendangan, begitu dia melihat ruangan ini membuat matanya membelalak.
Begitu banyak benda yang tidak dikenali Hurip dan Alia, mengingat ada robot penjaga, Hurip tak heran lagi memperoleh tempat semacam ini. Hal terpenting baginya sekarang, tuk mengambil semua informasi yang bada, lalu memberikan ke sekolah.
"Agaknya kita akan sibuk..." Hurip melangkahkan kaki dan menginjak lembaran kertas. "Berantakan sekali ruangan ini," keluhnya sembari berjongkok.
Hurip mengambil secarik kertas yang dia injak, lalu membaca isi kertas, membuatnya terkesiap kaget dan memerintahkan Alia tuk membawa semua benda tanpa menyisakan satupun. Dia menampilkan muka marah ketika mencerna kata-kata dalam kertas tersebut, berisikan mengenai dunia lain, serta senjata-senjata yang lebih kuat dari sebelumnya.
"Harus semuanya banget? Aku nggak bisa sihir ruang waktu dimana nyimpen semua.." Alia menarik-narik lengan baju Hurip hingga membuatnya kebingungan.
"Aku tergesa-gesa, ketimbang mencari jalan keluar, akan aku hancurkan tempat ini.." cakap Hurip. Dia mengetahui jikalau reruntuhan ini mirip labirin, jika mereka masuk dengan mudah. Maka mencari jalan keluar akan sangat sulit, terlebih lagi, Hurip takut terdapat robot lainnya yang menjaga reruntuhan ini.