Candrasa Hurip

Candrasa Hurip
14



Alia mengecek detak jantung Hurip, lalu dia menaruh jarinya dekat hidung Hurip tidak terdapat napas maupun detak jantung, tetapi matanya menandakan dia masih hidup. Ketika Alia dibuat bingung, rekan yang mengulur waktu terpelanting jauh sehingga dia menghantam sebuah bangunan.


"Ini bukan akhir dari segalanya," ujar Hurip menyeka air mata Alia yang menetes ke pipinya. Hurip mulai berdiri, hal pertama yang dilakukannya usai bertumpu pada kedua kakinya, yaitu menendang Alia dan menyingkirkannya dari medan pertempuran.


"Bukankah ada cara yang lebih lembut untuk menyingkirkan dia dari marabahaya?" Tanya musuh sembari menahan tawanya. Seolah-olah menganggap si Alia hanya sebagai barang semata.


Hurip mengigit tangannya sendiri, menghisap cairan tubuhnya sendiri hingga tahap dimana dia sudah kesulitan menyerap dan terdengar Hurip mengecap rasa darahnya sebelum dia mengigitnya. Dia tidak selesai dengan perihal itu saja melainkan memakan dagingnya sendiri membuat Alia serta pria bingung.


Mendadak setelah habis memakan banyaknya darah beserta daging, tubuhnya memancarkan aura ngeri dan terlihat Hurip lebih kuat dari sebelumnya. Lawan pun bergegas menuju tempatnya Hurip, dia memukul Hurip tepat pada perut, melantingkannya jauh-jauh serupa seperti yang terjadi kepada Azka sebelumya.


"Ugh!"


Pria ini berpindah tempat ke hadapan Hurip, ia cepat mencekik musuhnya selama beberapa saat semasih belum melemparnya menargetkan Alia. Menangkap Hurip bisa terbilang sulit, namun perempuan ini tetap menerima Hurip meskipun dia ikut terdorong, sebab Alia memperlambat lemparan bukan menghentikan.


"Memang betul itu teknik yang memberikan. Namun, selama lawan menyerang sebelum prosesnya usai, maka jurus itu bukan ancaman.. hmph.. Anda benar-benar kekurangan pengalaman," komentar pria ini sembari hilang meredup dibaliknya kabut sekeliling.


Azka berupaya bangkit dengan susah payah, dirinya menghampiri Alia serta Hurip dengan sempoyongan dan menemukan ketua tim pingsan. Dia menghela napas membantu Alia membantu menyeret laki-laki ini, walau Alia merasa tidak pantas, tapi bila mereka menyadari jikalau berat Candrasa sangat besar.


Dikarenakan Candrasa tidak bisa lepas dari pinggang Hurip, maka keduanya menyeret Hurip dengan sulit sembari mewaspadai para monster diselingkungan, walau usai menggunakan sihir penyembuhan beserta beberapa usaha lainnya Hurip tidak kunjung bangun.


"Gimana ini?" Tanya Alia menjadikan pahanya Hurip sebagai bantal. Gadis ini tertampak kebingungan tak main menghadap situasi mereka sekarang ini, lebih-lebih dia memikirkan monster sekitaran mereka, dan musuh mereka dari bisa saja menemukan mereka.


"Diamlah Alia. Ada sebuah suara," kata Azka berbisik-bisik sambil mengintip dari balik tirai. Dia terkaget sewaktu menyadari monster itu mendatangi mereka, Azka langsung panik, laki-laki ini memakai sihir angin melemparkan Hurip keluar bangunan.


"Aku nggak sudi kalo yang nendang kamu!" Kata Alia sambil berlari mengejar Hurip sesudah memberikan sebuah boneka kepada Azka sebelum dia mengejar.


Azka menengok ke belakang memperoleh beberapa monster tengah dimakan oleh monster ini, monster ini bernama Bicras, dinamai Azka saat ia pertamakali menemukannya di dunia ini. Bicras awalnya seekor monster menjijikan serupa seonggok daging raksasa menggunakan benda keras, seperti siput cangkang.


Awalnya Bicras tidak menggunakan apapun, namun usai mereka mempelajarinya setelah dia membaluti tubuhnya dengan rongsokan besi, peneliti dari dunia bumi mengetahui jikalau monster ini sangat mematikan. Dia menghela napas panjang, kemudian berlari terpontang-panting menghindari rudal.


"Kali ini ia membaluti tubuh dengan robot kami yang masih berfungsi? Jangan bercanda!" Kata Azka dalam hatinya. Sembari kabur dari kejaran monster ini, dia terus berupaya menghubungi tentara, namun alat komunikasi pada daun telinganya tak berfungsi.


Dikarenakan keadaan darurat, Azka terhenti sebentar, lalu mengambil sebuah kubus dan menekan satu tombol. Tidak menunggu lama sebuah robot raksasa datang dan mendarat dari langit lepas. Menghadang Bicras untuk menyerang Azka lebih jauh lagi.


Lelaki ini sedikit khawatir bila Spear-Gear dikalahkan, lalu Bicras menjadi semakin kuat selepas melahap wadah robot ini. Tapi rasa cemasnya seketika lenyap begitu kokpit Spear-Gear terbuka, seorang manusia selaku pilot menampakkan diri, memberikan hormat terlebih dahulu sebelum bertarung pada atasannya.


Remaja ini mengangguk sembari membalas dengan senyumannya, kemudian angkat kaki menjauh dari tempat tersebut. Azka bersembunyi pada salah satu rumah sembari menyaksikan pertarungan kedua raksasa, alasannya lega, yaitu unit Spear-Gear yang dikirimkan lebih baru sehingga melebihi unit lama.


"Terlebih lagi yang mengendalikannya seorang pilot bukan AI lagi.." ujar Azka tampak tersenyum senang.


Monster ini seperti cairan kental bergerak, sehingga dia bisa membentuk apapun sesukanya selama tubuhnya cukup membentuknya. Bicras membentuk sebuah tangan, lalu bersiap untuk memukul Spear-Gear, tapi robot mengeluarkan uap panas membuat Bicras langsung mundur merasai panas.


"Kelemahannya panas udara sih. Selama panas tidak membentuk api.." Azka menghela napas mengingat jika pilot Spear-Gear ini pertamakali melawan Bicras.


Pengaman pada bahu, siku, lutut, mata kaki beserta leher pun terlepas usai uap keluar. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat serta membuat robot lebih gesit dalam gerakan, meskipun pertahan agak melemah, perihal itu akan sebanding bila pilot dapat menghindari berbagai serangan dari musuhnya.


Bicras memulai serangannya layaknya petinju, meski demikian, Spear-Gear menepis dan menghindari pukulan. Selepas Bicras bermaksud akan mengubah bentuk tangan, robot tergerak, dia menepik tanganya yang telah berubah menjadi kapak besi besar.


"Bicras melepaskan besi pada salah satu anggota badan dan membuat besi jadi kampak? bodoh, itu celah!" Komentarnya terhadap pertarungan raksasa.


"Pak. Apakah Anda sudah menjauh sejarak radius sekitar lima puluh meter?" Tanyanya pilot Spear-Gear menghubungi Azka lewat alat komunikasi miliknya.


Sesudah mendapat jawaban, pilot itu bergegas mulai memasuki mode tempur. Dia memutar senjatanya, membuat Bicras fokus sesaat, tombak dilemparkan oleh Spear-Gear sehingga lawannya menghindar dari benda tersebut meski nyaris hilang keseimbangan.


Spear-Gear berlari mendekati Bicras, dengan cepat dia merebut kapak dari tangan lawan dan memukul memakai senjata lawan. Saat lawan menyembuhkan diri, Spear-Gear bergegas menukar tangan dengan bor atau jara, yang awalnya hanya digunakan untuk menggali kini terpakai sebagai senjata mematikan.


Spear-Gear mengarahkan tangan kiri yang terpasang bor pada tempat dimana terletak daging yang tidak dilindungi besi, semasa benda itu menusuk, berputar tanpa mendengarkan raungan Bicras. Azka sekarang tersenyum masam mengetahui jara sangatlah sakit.


"Sebaiknya aku pergi sebelum Hurip bangun," cakap lelaki ini pamit kepada pilot. Pilot pun mengangguk sembari melihat atasannya lari pergi lewat kamera.


Dalam perjalanan menyusul mereka berdua, seekor burung hinggap di pundak membawa secarik kertas, Azka terhenti dan membuka kertas. Sebuah surat memerintah mereka untuk mundur, tugas telah berakhir, karena beliau enggan terdapat ada kontak senjata antara Hurip dengan pihak musuh mereka.


"Cepatlah!" Teriak Alia dari kejauhan. Begitu melihat Alia melambai-lambaikan tangan, dia mempercepat langkah, hal pertama yang dilakukan Azka sewaktu dia menaiki kereta kuda adalah memukul ketua tim.


"Apa yang kau lakukan? Ah, lupakan saja. Supir cepat pecut kuda!" Perintah Hurip sesudah menghela napas. Dia melihat jikalau terdapat bekas kecepatan sihir pada kedua kaki Azka, Hurip berkesimpulan, bila rekannya mengelabui Bicras dan melarikan diri.