
"Kau ini, untuk apa kau mengapit aku seperti ini?"
"Aku berubah pikiran, Lusa kita menikah!"
"Kau gila ya, apa burungmu sudah tidak tahan ingin muntah. Kau mending cari perempuan malam. Aku tidak sudi, menikah dan memberikan mahkotaku dengan pria asing yang aku ga kenal sikapnya."
"Yang sopan, Shine! kau akan aku perlihatkan pabrik robot genius. Aku akan memberikan setengah saham milikku, jika aku tidak bisa membuat kamu mencintaiku!"
'Pabrik robot, kenapa aku tidak asing dengan kata kata ini ya?' batin Shine.
"Kalau aku tidak mau, dan tidak akan mau jatuh cinta denganmu bagaimana?"
"Akan aku buat kamu menyesal, aku akan mematahkan seluruh tulangmu, sehingga kamu akan menjadi robot yang aku gantung di kamarku. Gimana?"
"Ciih, dasar gila kau Leondra."
Uhuuuk! terbatuk Shine, ketika mama dan kedua orangtua Leondra melihat mereka sedang mengapit seolah memangku.
"Shine. Kalian.."
"Mah, ini tidak seperti yang mama pikirkan." Shine mendorong Leondra kala ia juga melepaskan eratannya.
"Tidak apa, pantas. Lagi pula pernikahan kalian lebih cepat. Lusa kalian akan menjadi pasangan sah. Jadi kalian bisa melakukan bebas, salto atau pun melompat lompat." ucap pak Hartawan.
Tooeng! Shine dan Leondra saling melirik benci.
"Benar kata pak Hartawan, Shine. Kalau kamu menikah, setidaknya mama tenang kamu ada yang menjaga." senyum manis mama Shine.
'Hah, semua ibu dan semua orangtua apa selalu memikirkan hati mereka saja, tanpa memikirkan perasaan anaknya.' batin Shine lemas.
KE ESOKAN HARINYA.
Jie menghampiri Shine di kampus, ia terlihat murung di taman. Lalu dengan bantuan ajaibnya, Jie menerbangkan sebuah bunga hingga tepat di wajah Shine.
"Ga lucu, masa terbangin bunga pake benang."
"Ikh, namanya juga usaha Shine. Kamu kenapa murung aja sih?"
"Kamu kenapa ga ada kemarin. Jie kalau kamu ada, kamu pasti bisa baca pikiran satu pria nyebelin."
"Heuumph, terus gimana dong?"
"Lusa aku menikah."
"What?"
"Denger dulu, kamu tinggal denganku siang hari. Biar bisa bantu aku, apa dia Leon yang kita cari. Aneh Jie, aku di sentuh oleh tangannya. Lemas bagai kesengat listrik, ini tuh dejavu Jie. Aneh, aku juga minta satu kamar dan kandang istimewa biar semua orang ga curiga. Kalau kamu benar benar kucing."
"Hah, baiknya. Tapi bisa jadi, kalau mobil putih si tindik. Itu di dalamnya dia, waah. Benar, jangan jangan aku kembali jadi kucing karena Leondra itu, Shine. Kita udah temuin dia."
"Tunggu Shine, apa mata dia biru sepertiku. Konon karena tatapan mata elektrik di zaman kuno, salah satunya akan kehilangan kekuatan sementara."
"Ok, I'm sorry."
"Bisa juga takdir, biar kamu bisa bantu aku mata matain dia, Jie adanya kamu aku bisa baca pikiran seseorang dan menguping dari jarak jauh. Bukankah biasanya aku bisa lakuin itu, tapi hanya orang terpilih kita harus bersama."
"Benar Shine, aku akan pulang. Aku akan bicara sama bibi Ela, kalau siang aku ga bisa bantu dia jualan."
Shine yang ingin protes, tiba saja di buat kesal. Kala Jie kembali melompat pergi bagai kucing yang terbirit birit di kejar dogy.
"Jie, kau kenapa lariiii.." teriak Shine, tapi seseorang dari belakang meninggalkannya.
"Shine."
"Astaga, Leondra kau mengagetkan aku saja. Pantas tadi Jie ..." terdiam. "Ada apa, bukankah besok kita bertemu?"
"Aku antar kamu pulang, sekarang!"
"Ga perlu, kamu kan yang buat nilai aku jelek. sehingga aku mengulang skripsi. Aku heran, ini kah cara pria buaya darat menahan seorang wanita."
"Tutup mulutmu, ikut denganku sekarang!" titah Leondra dan Shine mengekor.
Leondra menarik Shine, ia kini berada di pabrik robot. Konon Leondra tau jika kemampuan Shine alami, ia kuliah jurusan Sains dengan Mortuary Science.
"Kau sangat unik, mengambil jurusan kimia yang jarang wanita inginkan."
"Benar, bahkan aku ingin bisa mencapai perguruanku di london, jika bisa delapan ahli sains aku geluti, termasuk merancang mayatmu yang aku awetkan nanti!"
"Dasar wanita sadis kamu, Shine."
Shine tidak mengerti kenapa pria ini jika berdua seolah akrab. Tapi terkadang kembali datar membuat Shine bingung sendiri.
"Terus apa yang aku lakukan?"
"Nanti setelah pernikahan kamu akan tau sendiri, Shine. Aku hanya ingin memperlihatkan semua ini. Jika kamu berhasil, bukan saham saja yang berpindah ahli untukmu. Tapi aku akan pergi dari hidupmu."
Ungkapan itu membuat Shine sedikit sedih, tapi ia kembali sadar untuk tidak memikirkan lebih jauh.
"Aku mau pulang!"
"Baiklah, aku suruh Jacky mengantarmu pulang!"
Kembali terdiam, kala Leondra tidak mengantarnya. Hal itu membuat pikiran Shine gila tak bisa berfikir jernih. Ia masuk ke dalam mobil dengan wajah mengerut.
'Dasar pria aneh.' cibir Shine.
Dan saat di dalam mobil, Shine melihat sebuah tanda aneh yang terselip di atas kaca dashboard.
Tbc.