
Perlahan matahari mulai keluar dari persembunyian nya selama waktu malam, ia pun menyapa kembali bagian bumi yang akan di sinarinya selama waktu pagi ini sampai akhirnya ia harus bergantian lagi dengan sang bulan.
Aku membuka mataku seperti biasa di pagi hari, terbangun lebih pagi dari kebanyakan manusia, Shine melihat ke arah Jie. Karena kaki kucing yang selalu membangunkan ku setiap jam empat dini hari, kaki kucing itu tak akan berhenti menggangguku dan mengatakan semua kewajiban yang harus aku lakukan hari itu, sebelum aku terbangun dan melakukan apa yang dia katakan.
Yap. Kaki kucing itu milik Jie, penyembuh, yang kini menjadi teman ku dan juga guru ku yang berharga di dunia baru.
"Jie! Bangunlah, kamu harus memanen buah. Waktu pagi jam empat adalah yang paling baik untuk memanen itu dengan kualitas bagus! Kamu bisa membuat banyak potion penyembuh dengan itu! Cepat bangun! bukankah kamu ingin tidak kembali lagi jadi kucing?" ungkap Shine.
"Astaga, bahkan aku lupa sudah jadi manusia. Tidak asik, aku kembali jadi kucing pukul enam sore hingga pukul dua malam. Kenapa aku tidak bisa bebas juga sepertimu Shine."
"Kau bertanya padaku, yang aku sendiri tidak tau Jie. Ayo, bersiaplah! aku harus kuliah, jangan sampai terlambat. Bisa bisa mamaku mengeluarkan busa Jie!"
"Aahaha. Ya, baiklah Shine. Sabarlah Shine, mataku masih ingin menempel ini."
Shine melempar bantal, sehingga Jie mencoba bangun dan memaksa, mengekor Shine yang menuju lemari besar. Shine menyiapkan pakaian, dan mereka segera turun setelah bersiap.
"Shine, setelah pulang kuliah. Kamu segera antar kue kering ini ke pak Hartawan ya!"
"Ke kantornya mah? enggak ah. Males, aku ga mau."
"Shine,.."
"Ok, ok baiklah. Shine akan mampir."
"Jie, temani Shine ya. Jangan sampai dia tidak mengantarnya!"
"Ok tante." senyum Jie, yang langsung mengambil sandwich.
'Dasar rubah, bisa bisanya dia makan sandwich. Harusnya kau itu makan whiskas." sebal Shine yang menatap Jie.
"Shine, kamu ini kalau ga ada Jie nyariin, kalau dekat kamu benar benar ga rukun. Apa sih yang kalian rebutin, pacar atau ..?" tanya mama.
"Bukan tante, maaf Jie mengambil sandwich kesukaannya. Habisnya enak sih, selai kacang campur tuna buatan tante." ucap Jie.
"Ya, ampun. Kirain apa, ya udah cepat berangkat gih. Nanti kalian terlambat!" ujar mama.
Saat ini, Shine kembali kuliah di hari pertama. Jie masih stay menemani Shine. Hingga saat mereka pulang, Jie bertanya pada Shine.
"Shine, ini gedung milik pak Hartawan? gila, besar banget ya. Pantes aja mama kamu nekat mau jodohin kamu. Bahkan kamu bakal tunangan, aku jadi iri karena kamu mau laku. Ingat ya Shine, kamu jangan lupain aku."
"Jie, udahlah. Kembali ke topik lain, kamu lupa kita kemari untuk apa?" menatap tajam.
Saat Shine dan Jie melaju ke lift, mereka menuju lantai enam belas. Lalu berbicara pada receptionis. Shine bicara ingin mengantarkan kue tart ini sampai pada pak Hartawan.
"Bu, pak Hartawan ada. Saya mau antar pesanan?"
"Apakah anda nona Shine?"
"Ya, benar saya Shine."
"Nona Shine, sudah di tunggu di dalam!"
Shine masuk, tapi Jie menghalangi. "Shine aku akan berkeliling, kita bertemu di loby ya."
"Kamu ga ikut masuk Jie, aku cuma sebentar doang kok."
"Ga perlu, aku ga enak. Di dalam itu calon mertua kamu Shine."
"Pah, ini sudah beres. Aku keluar dulu ya?"
Shine menatap pria itu, pak Hartawan yang merasa berbunga kala perjodohan putranya berbuah manis. Ia segera menyadarkan.
"Eheuum, kalian sudah mengenal?"
"Tidak pak." serentak mereka menjawab bersamaan.
"Shine, ini putra bapak. Dan kamu Leo, antar Shine pulang ya! Shine kenalkan dia Leondra."
Shine terdiam, kenapa bisa nama yang mirip. Tapi sayang, Shine tidak bisa mengetahui Leon yang mana yang harus ia cari.
'Oh, cahaya bulan. Aku harus kemana lagi, di bumi ini berapa banyak nama Leon yang harus aku kunjungi?'
"Kau bicara denganku?" tanya Leondra.
"Tidak, ah ya! aku katakan padamu, perjodohan itu, kamu pasti tidak menyetujuinya kan. Bagaimana kita sepakat, kita tidak benar benar bertunangan. Tolong lah sepakati, bagaimana?"
"Kenapa begitu?" tanya Leondra.
"Karena aku masih kuliah, dan aku sedang mencari seseorang, seorang pria pastinya. Sudahlah, kamu antar saya sampai sini saja. Ah! Jie, kemarilah. Ayo kita pulang!" teriak Shine melihat Jie dari jauh.
Leon, dengan tatapan kesal. Merasa jatuh harga dirinya, sehingga ia meminta Jacky untuk menyulitkan hidup Shine. Terutama di kampusnya, ia harus memberi nilai jelek agar Shine tidak lulus.
"Dasar gadis bodoh, terang terangan tidak menyukai dengan alasan sedang mencari seseorang." gumam Leon yang murka dengan tatapan dingin.
"Shine, siapa pria tadi?" tanya Jie.
"Dia anak dari paman Botuna, uups. Maksud aku pak Hartawan. Tapi tenang, aku sudah bilang agar dia mau menyepakati kita tidak bertunangan beneran."
"Shine kau bodoh sekali, kau sekolah tapi tidak tau tempat. Bagaimana jka dia tidak terima Shine?"
"Apa yang kamu pikirkan kucing, aku bicara jujur. Untuk apa juga aku takut pada dia."
Shine masih menatap arah jendela taksi. Ia masih melihat Leondra yang berdiri tegap seolah masih melihatnya. Ternyata di balik wajah Leondra yang tenang dan lembut, ia juga memiliki tatapan tajam dan dingin menyeramkan.
"Aku tidak boleh takut, tidak boleh." gumam Shine.
Dan, sssrrth! tiba saja taksi berhenti, belum berjalan jauh. Supir taksi bicara jika mobilnya mogok yang mengakibatkan rem mendadak.
"Kenapa pak?"
"Tiba tiba mesinnya mati neng. Sepertinya kalian harus turun, cari taksi lain saja."
Shine dan Jie sudah turun, sehingga ia memutar kepala karena turun dengan jarak berjalan yang cukup lumayan jauh.
"Shine, ada mobil putih itu. Gimana kalau kita minta ijin menumpang sampai depan?"
Shine melambai, mobil putih itu acuh melewati mereka. Dan Shine jelas melihat pria tadi, itu adalah putra Hartawan dan si pria tindik yang mengabaikannya.
"Jadi dia itu..?" lirih Shine.
Tbc.