
Shine saat ini mengerjakan tugas kuliahnya dari rumah. Selama beberapa saat Leon mengetuk ruangan buku, pertanda jika ia akan masuk.
"Teh untukmu, masih banyak tugasmu?" tanya Leon.
"Jangan tanya, jika telunjukku bisa mengerjakan semua pr dari dosen. Mungkin aku sudah berada di mall saat ini, menggantikan jiwa ini hingga lulus." kesal Shine.
"Haaah, benar. Zaman kuno tidak ada mall, pantas saja." cibir Leon.
"Jangan mengolok, jika tidak aku tak akan bantu kau menjalankan misi!" ancam Shine.
"Jika tidak, kau tidak akan dapat bagian hasil dari misi. Katanya kau ingin membeli pesawat untuk pulang." menohok Leon senyum melirik Shine.
"Hish! dasar manusia menyebalkan, aku memang ingin pulang. Dan pesawatku menuju pulang berbeda dari pesawat manusia. Jadi jangan rindu jika aku benar benar kembali." gerutu Shine dan memutar kursinya.
'Benar aku akan merindukan, merindukan manusia unik seperti mu.'
Leon terdiam, benar jika Shine kembali. Maka bukan dirinya saja yang kehilangan wajah Hawa, tapi raga Shine yang mulai membuat dirinya tak ingin di tinggalkan. Meski statusnya menikah, tetap saja mereka menjadi teman bisnis dengan satu rumah berbeda ruangan.
Shine menarik buku lembaran yang dibuat oleh Leon. Isinya adalah misi sosmed yang harus ia pecahkan, dan meretas seluruh akun yang merugikan nama baik.
BERITA TERBARU HARI INI :
Terbaru, wanita yang akrab disapa Neng, itu membeberkan sebuah perbincangan direct message (DM) dengan seorang neti yang mengaku sebagai kru jet pribadi Hawker 4000 yang pernah disewa, anehnya seorang wanita bernama D mengaku telah kehilangan uang ratusan miliar dan menelusuri ke beberapa bank dan pihak berwajib tidak ada tanda tanda penarikan.
"Ini misi apalagi Leon?"
"Cara kamu kurang cantik, masih terjanggal disana. Tidak ada penarikan. Tapi uangnya berkurang, bagaimana apakah akun eccomerce asingku akan ketauan?" tanya Leon.
Shine yang melihat Leon panik, ia senyum dan bicara asal membuat Leon marah terdiam. "Bisa saja, sih."
"Apa.., lalu kita harus buat apa?"
"Kita, heuuumph! Leon, sepertinya aku butuh proyektor canggih. Kamu pergi dulu, aku ingin mengerjakan tugas dari dosen. Setelah ini aku janji akan menyelesaikan beberapa klien yang aku curi tidak terdeteksi."
"Hanya ga bisa bilang pada papa, karena aku putra semata wayang. Sudah keturunan untuk melanjutkan penerus menjadi wakil direktur "
"Hooh! kenapa tidak kamu bicara pada papamu, berhenti bekerja sama dengan para klien dan petinggi yang melakukan kecurangan. Bisa kan, kenapa tidak bisa?" tanya Shine.
"Kau banyak tanya sekali, aku akan ke gudang mengambil proyektor yang kamu inginkan."
Shine melihat Leon menghindar, kini ia kembali melakukan tugasnya dalam beberapa jam.
Dan saat tak ada orang di rumah, Shine membuka laptop milik Leon. Ia penasaran dengan isi privasi yang konon Leon bilang tak boleh di sentuh.
"Ah, pasword. Ga lucu."
Shine menatap sandi dengan kedua mata fokusnya, lalu telunjuknya ia angkat dan benar saja. Pasword itu mengetik sendiri dan membuka di setiap layar dan tampilan yang ingin dibuka.
"Ups, keren sekali. Jadi koleksi Leon adalah robot robot gamers. Wah nama Leondra disini bintang yang paling tertinggi."
Dan ada satu julukan dibawah daftar nama Leon. Yakni my Queen Hawa. Saat itu Shine melihat seluruh data yang isinya robot game dengan banyak level tinggi dan bintang paling tinggi. Sehingga saat tampilan terakhir adalah wajah Hawa yang mirip dengan wajahnya, hanya dengan tampilan baju kerajaan.
"Kamu lihat apa Shine?" tanya Leon yang membawa alat yang di inginkan Shine.
"Jelaskan apa semua ini? kamu bermain game sihir. Kenapa julukan itu mirip dengan namaku di masa lalu?"
"I-itu. Soal itu.. aku bisa jelaskan Shine. Tenanglah!" gugup Leon.
"Kamu membohongiku Leon. Kontrak kita batal, aku tidak seharusnya tinggal satu atap dengan kamu pria pembohong!"
"Tungggu!" teriak Leon, membuat mata merah Shine mengeluarkan air mata.
Tbc.