BEHIND THE QUEEN

BEHIND THE QUEEN
SHINE IKUT



"Aku ga kemana mana Shine, kenapa kamu jadi curigaan sih." mode memeluk.


Shine malu, hingga Leon mendekat dan banyak bercerita akan dirinya yang kagum pada Shine akhir akhir ini. Ia merasa bahagia karena Shine memilih tinggal lebih lama dengannya.


Beberapa hari kemudian, Shine ikut ke kantor. Ia menunggu Leon di ruangannya, tak banyak yang Shine mengerti soal segala persentase dan hitungan denda money heist. Ia mencoba menemani suaminya agar tetap semangat dalam menjalani kerugian dan keuntungan.


Shine yang sedang bermain game zuma di laptop sang suami, ia segera bersandar dan meluruskan kedua kakinya. Ada rasa pegal dan tak enak ke ulu hati, Shine mengusap ngusap perutnya. Mencoba agar dirinya tak terus menerus mual.


"Eh aku kenapa ya?" deru Shine.


Shine segera keluar pintu, mencoba ke gigir balkon. Menatap semua alu lalang jalanan mobil yang hilir berlawanan maju. Namun jengah Shine ketika menoleh kesampingnya melihat seseorang.


"Siang, nyonya Shine. Apa anda masih bernafas lega, setelah apa yang suamimu alami?"


"Kamu sedang apa di kantor suamiku?"


"Menurutmu, aku di sini seperti apa. Tidak mungkinkan jadi kacung bawahan suamimu. Yang ada akan aku buat sebaliknya!"


"Apa maksud kamu Jie?"


"Kenapa, terkejut. Atau suami mu tidak kasih tau dengan detail?"


Shine menghela nafas, ia segera mengalihkan agar dirinya tidak panik. Ia mencoba rileks dan tetap senyum. Sementara Jie cengenges tawa dengan renyah menertawakan.


"Hahaha, aku tau senyum kamu palsu Shine. Berusaha tidak panik, jelas wajah bodohmu itu selalu terlihat dan terbaca olehku."


Shine lagi lagi mencoba sabar, hanya Jie yang kecewa padanya, yang baginya sudah makan pahit dan asam garam. Ia bisa melawan Jie agar sadar dengan dirinya sendiri.


"Apa maumu, agar tidak mengganggu kehidupanku dan keputusanku Jie?"


"Realy? ok! aku bisik kan ya!"


Bisikan Jie membuat Shine mendorong Jie. Lalu ia pergi meninggakkan Jie di sudut ruangan, sementara Jie berusaha tertawa dan berteriak.


"Satu minggu, aku berikan waktu jika kamu berubah pikiran my Queen!"


"Aku bukan my queen lagi!" teriak Shine.


MAKAN SIANG.


"Bagaimana tadi kamu sayang? maafkan aku sudah membuat kamu menunggu lama!" senyum Leon.


Saat makan siang berlangsung beberapa puluh menit. Leon tau ada mata yang menatap serius pada istrinya itu.


'Jie, kau tak akan aku berikan kesempatan mendekati Shine, dia telah memilih menjadi keinginannya jangan halangi!' batin Leon yang takut kehilangan Shine.


Shine pun menyuapi steak sapi kemulut Leon dengan senyum tawa bahagia.


"Leon, ayo buka mulutmu! Aaaaaak." Shine menyuapi suaminya.


Lalu Shine terdiam, ia menekan sendok garpu dan menunduk.


"Mas Leon, Uuuuek.."


Shine pun memuntahkan dan mengenai kemeja suaminya. Membuat panik Leon saat itu dengan refleks.


"Sayang, ada apa kamu sakit, apa kamu kelelahan?"


"Mas Leon, maaf!"


"Tidak apa, ini bisa dibersihkan dan bisa dicuci lagi, sayang!"


Setelah itu Leon, mengelapkan tissue, Leon membawa nya pulang. Dengan sigap menggendong istrinya di depan banyak semua tamu resto yang datang. Tak sedikit yang melihat kemesraan dan sweetnya mereka.


Potretan demi potretan pun, tertuju pada Shine dan Leon.


***


Di rumah.


Satu jam berlalu di kamar, Shine yang sudah berganti baju, begitu pun Leon yang mandi dengan handuk kebesaran, menghampiri Shine, ia memberikan jahe hangat dan mengoleskan minyak angin.


"Sayang, apa perlu kita ke dokter sungguh wajahmu amat pucat?" tanya Leon.


"Tak apa mas Leon, aku mungkin saja ga suka steak, entah kenapa makan steak aku tadi merasa mual dan tiba aja ga suka. Mas ayo pakai bajunya!"


"Baiklah diam disini makanlah sesuatu. Mas akan berganti baju dan merapihkan semua nya."


Dering ponsel Shine berbunyi, setelah Leon berganti keruangan ganti sebelah kamar. Shine terdiam melihat sebuah foto dari Jie.


Tbc.