
Shine sempat panik, tapi ketika dokter memeriksa sang papa. Mama Lora meminta Shine ikut tenang, saat sang papa sudah normal kembali.
"Pak Gabin sudah membaik, mohon untuk tidak mengganggunya saat ini!"
"Baik dok, terimakasih."
"Mah, Shine ke bagian administrasi dulu ya?" mama Lora pun mengangguk.
Shine setelah menyelesaikan administrasi, ia segera mengangkat telepon. Leon memintanya untuk ke butik saat ini.
"Shine, ke butik Cheong ya! cari bukti atas nama tuan Petrik!"
Shine yang tadinya bingung, ia segera membalas dan menuju tujuan yang Leon minta. 'Pasti kesalahan data lagi,' ujar Shine
Di luar dugaan butik cheong.
Shine yang telah selesai melihat pameran dalam fashion. Ia kembali pulang dengan amat lemah. Tak sengaja melihat seorang wanita dan pria sedang bertengkar di tengah jalan. Shine terdiam dan menatap apa yang terjadi. Berusaha mendekati agar tidak bertengkar di tengah keramaian.
"Kau tau, kita melakuan itu hanya happy. Dan kau telah mempermainkan aku karena menyetujui rencana ayahku agar aku segera menikah. Satu hal ketika aku menikahimu tak ada yang berubah, kau tak boleh melarang kebiasaanku. Apalagi mengadu kebiasaanku. Jika tidak aku akan menceraikanmu Amel."
Shine mendengar, 'Oh, jadi namanya dia Amel. Apa manusia banyak masalah ya, apa aku salah tinggal di bumi lebih lama.' gerutu batin Shine masih menatap dua sejoli di depannya.
Kenangan menyakitkan itu membekas, terlebih sang suami berkata ia bertahan terpaksa dan tak ada rasa cinta seperti pertama bertemu. Amel meneteskan air mata semakin deras, ia tak menyangka pernikahan impiannya akan sepahit ini. Ia mendambakan pria yang dewasa dan bekerja keras apapun, meski hidup pas pasan.
Mas, jangan pergi! teriak wanita itu, tapi seorang prianya pergi meninggalkan. Hingga saat ini Shine mendekat, menepuk bahu wanita yang masih menangis.
"Mbak.. yang sabar, istrihatlah dirumah kasian bayinya di dalam perut ikut menangis, bersedih itu!" ucap Shine, bak malaikat penolong.
"Maaf, aku ga bermaksud ikut campur, tapi ga ada salahnya mbak tenangin diri! kasian anaknya mbak! meski saya juga belum pernah merasakan yang mbak rasain saat ini, tapi yakin semua ada hikmahnya. Mbak yang sabar ya!"
Shine mengenalkan dirinya, ia menjabat dan memberikan minum pada wanita hamil bernama Amel. Shine mendengarkan wanita itu bercakap hingga lupa jika ponselnya berdering.
"Baik, saya antar sampai rumah ya mbak!" peduli Shine saat itu.
***
Beberapa jam kemudian.
Berada di apartement, Leon. Ia membuang tas ke atas sofa dan bersandar. Leon memijit kening dengan segala beban tumpuan, ia membuka laptop nya dan mengirim email pada Jacky. Sementara Shine mengantar coklat hangat dan ikut menemani.
"Leon, tadi aku dijalan melihat orang bertengkar. Aku mau tanya padamu, apa setiap manusia akan terus bersiteru ditengah jalan, membuat kegaduhan?" tanya Shine.
"Shine, dimana kamu melihatnya? dan memangnya duniamu dahulu tidak ada yang bertengkar?"
Leon begitu menyebalkan, Shine terdiam dan kembali melihat data seseorang yang ingin ia curi data perbankan, tanpa diketahui pemiliknya telah berpindah. Leon yang tersenyum menggoda, meminta Shine senyum.
"Shine sayang, senyum dong! jangan cemberut, maaf aku ga ada maksud apa apa tadi, soal manusia pada umumnya memang bertengkar adalah hal lumrah, tapi jika ramai dijalan apa menyelesaikan? intinya kamu berbuat baik tadi sudah benar. Lain kali ga usah ikut ikutan ya!" senyum Leon.
Shine tidak sejalan dengan cara pikir Leon. Hingga akhirnya ia pergi ke kamar dan cuek pada Leon saat ini.
"Shine mau kemana?" teriak Leon.
Tbc