BEHIND THE QUEEN

BEHIND THE QUEEN
API CEMBURU



Shine dan Leon sedang berada di mall, sebelum ia kembali bekerja. Shine menatap seorang wanita menghampiri ke arah Leon. Tampilannya sangat cantik dan cetar, seolah Shine merasa terganggu.


'Aku berharap dia bukan ke arah Leon, bagaimanapun dia milikku.'


"Kenapa denganmu. Hey Leon." bisik Shine.


Tidak apa apa! mama dan papaku sudah menunggu, kita makan bersama saja. Lagi pula aku tidak tau siapa wanita disana.


"Benar kamu tidak tau, kenapa saat wanita itu menatapmu. Kamu seolah berbeda Leon?"


"Shine, jaga sikap. Jangan jadi manusia yang sukanya bertengkar! ingat kan, kita harus bertemu dengan orangtua. Lakukan ide cerdasmu, untuk mencuri data dengan telunjukmu lagi!"


"Huuh, dasar menyebalkan. Kenapa juga aku tinggal di bumi, masih diperalat. Hanya karena aku berbeda mempunyai kelebihan." gerutu Shine.


Shine menyalami mertuanya. Yakni pak Hartawan, kini mereka berada dalam meja bundar. Dan mama mertuanya mengenalkan seorang wanita saat makan bersama.


"Shine, gimana lancad perjalanannya. Eh iy! ga keberatan kan. Mama ajak Vira, dia teman Leon dulu?"


"Hay! Shine, lagi pula Shine ga keberatan kok mah."


"Syukurlah! ayo duduk." ucap pak Hartawan.


Mereka makan bersama, tapi tatapan Shine terhenti ketika wanita bernama Vira sedikit lancang, genit di depannya.


"Pergilah mbak! tidak pantas jika anda di sini, lihat saja ada banyak keluarga dua belah pihak. Jangan terlalu mencolok." tegas Shine.


"What, kamu cemburu Shine?" bisik Leon tersenyum.


Ia bukan cemburu, Ya! benar. Shine pasti bukan cemburu saat ini. Melainkan sedang menjaga lontaran kedua mertuanya. Tidak ada dikamus Shine untuk jatuh cinta pada pria seperti Leon. Meski dirinya kini sudah beradaptasi dengan bumi, tentu saja julukan ratu melekat, untuk tidak mudah mengakui kesalahan dan kecurigaan orang yang benar.


"Astaga Shine! aku tidaklah mati matian untuk menurunkan ketampanan, Tapi demi orang yang telah menampakan cemburunya. Maka aku merasa tersanjung!"


"Perhatikan sikapmu Leon, ada banyak mata menatap kita." sebal Shine.


"Really! Leon kamu tidak ingat aku. Darling aku Vira." bisik kembali pada telinga Leon, di depan wajah Shine, yang membuat Shine jijik membuang wajah ke samping.


Tanpa sadar kedua mertuanya menepuk bahu, dan menghampiri.


"Hai sayang! Shine, kenalkan Vira ini adalah tamu penting. Kita kedatangan tamu jauh."


"Benar Shine, aku adalah Vira." senyum centil menatap Shine, tapi Leon merasa tidak karuan takut Shine marah sampai di rumah.


"Shine. Ini, hanya rekan bisnis papa. Ya kan pah?" jelas Leon pucat, tak ingin Shine salah paham.


"Betul, aku adalah Vira. Sekaligus teman baik Leon dahulu. Shine, senang bertemu dan mengenalmu." ucap Vira dengan senyum manisnya.


"Heuuumph. Ya sama." balas Shine.


Tapi Shine menahan diri di depan mertuanya, ia tak ingin meledak ledak memaki Leon saat ini.


"Dia seleb movie. Kau ingat tidak adegan dan film yang di perankan wanita ini. Bagus sangat cukup bagus?" puji Hartawan. Membuat Shine menoleh dan merasa panas.


Sementara Vira tau, jika om Hartawan tak menyukainya. Pujiannya itu selalu merendahkan, terlihat dari senyuman kepalsuan jijik padanya. Bahkan terlibat dalam beberapa klien ambasador dari Requitmen keartisan yang di selenggarakan keluarga Hartawan di bidang money heist. Membuat jejaknya bagai empedu yang tak bisa masuk ke dalam kehidupan nyata Leon.


"Terimakasih Om pujiannya." senyum Vira. menunduk.


"Shine kamu mau kemana?" tanya Leon.


"Toilet, aku pamit kebelakang sebentar ya semua."


Tapi Leon segera mengejar Shine, ia juga ikut pamit. Seolah Shine yang dikejar merasa emosinya ingin meledak.


'Aku benci perasaan aneh manusia Leon.' batin Shine.


Tbc.