
"Sayang, Shine cepat ke bawah ya. Kita makan malam bersama, ajak Jie juga nanti!"
"Iy mah," teriak Shine membalas masih mode di dalam kamar.
"Shine, aku mana bisa ikut makan malam bersama denganmu. Bahkan aku hanya akan hadir sebagai kucing." ungkap Jie.
"Kamu akan tetap dapat kursi, mama tau kalau aku memelihara kucing. Jadi tetaplah baik baik, dan awasi orang yang mencurigakan ya!"
"Hoooaam. Meeow." lirih Jie meniru kucing.
Jie akhirnya memberikan sebuah foto, sehingga saat itu Shine menatap bulat bulat seluruh foto keluarga.
"My Queen, kamu mendapat kesalahan karena kesombongan. Kamu dahulu ingin sekali mendapat cahaya dan kamu tidak puas dengan gelarmu. Sehingga raja dari segala cahaya yang licik memanfaatkanmu, ingat dia tidak baik! jangan mengulang kesalahan di Zaman kuno hingga saat ini." jelasnya.
"Lalu aku, aku kenapa bisa sampai di tubuh wanita ini?"
"Aku belum sampai memahami Shine, yang aku tau keluarga ini kecelakaan, namanya Hawa. Itulah mengapa saat Hawa kembali mamanya sangat senang, terlebih saat hadir memberikan nama Shine Hawa untukmu. Dia beranggapan sinar kekuatannya kembali hadir, maka dari itu sayangi mama mu!"
"Ah! sakit sekali jika aku memaksa mengingatnya, apakah mama Hawa mempunyai perjanjian?"
"Aku rasa tidak Shine."
***
Pukul delapan malam, shine membawa kucing di tangannya. Ia menuju meja makan dan terlihat semua orang sudah berkumpul. Bukan hanya sang mama, tapi terlihat ayahnya hadir juga. Tak lupa pak Hartawan dan putra menyebalkan itu ada.
"Mah, Pah." Shine menunduk hormat, lalu meletakkan kucingnya di sebelahnya. Sementara Leondra berada di samping kucingnya.
'Oh, astaga aku berada di tengah tengah calon pengantin.' batin Jie.
"Kamu bawa lagi kucingnya sayang?" tanya Retno Hartawan.
"Ah, iya tante. Bahkan kucingku ini sangat berbeda. Ia lebih suka makan sandwich tuna juga pie apel. Dia tidak menyukai daging atau pun tulang. Tenang tante, kucing Shine terawat pastinya."
"Ah, benar. Sangat cantik dan menggemaskan." ujar bu Retno.
Makan malam bersama tanpa hambatan. Setelah makan, benar saja hati Shine berdegub kala kedua orangtuanya membicarakan pernikahan esok sore.
"Shine, ijab kabul di adakan hanya kerabat saja di grand Hartawan. Ingat, jangan kemana mana. Resepsi akan di meriahkan nanti ketika setelah dua bulan berikutnya. Jadi mama harap kamu benar benar menurut pada suami kamu nanti!"
"Ya, itu benar sayang. Shine Hawa anak papa yang cantik. Papa ga sangka kamu akan secepat ini menikah."
Hal itu juga membuat mata Leondra menahan, ia menahan sakit kala sepatu tinggi Shine menginjak kakinya.
"Hey, apakah kau sengaja menginjak kaki ku?" bisik Leondra.
"Jaga bicaramu, atau aku robek mulutmu Leondra!" menatap tajam.
Eheuum!! Shine, perhatikan sikapmu nak. Ujar mama membuat mata Shine tersenyum dan pamit ke toilet. Sementara Jie yang menjadi kucing ia menatap seluruh penghuni yang sedang berbincang. Entah kenapa ia tidak melihat aura raja system dijaman kuno.
'Konspirasi, ini pasti konspirasi tersembunyi. Shine aku yakin itu.' teriak Jie lalu berlari mencari Shine.
Jie melihat Shine berada di balkon, ia mendekati dan duduk diatas balkon menatap Shine. Jie mengahapus air mata Shine dengan cakaran tangan kucingnya.
"Shine, apa yang kamu tangisi?"
"Entahlah Jie, aku merasa rindu dengan ibuku. Tapi melihat mama Hawa, aku merasa berat untuk meninggalkannya. Apakah misi kita akan berhasil. Apakah ibu ku akan ditemukan atau sia sia saja kita kelak..?"
'Siapa wanita dengan pakaian kuno itu? Kenapa mimpi tentangnya begitu menyakiti hatiku? Kenapa dalam beberapa bulan ini dia terus hadir di tidurku dengan mimpi yang sama? Bahkan aku tak mengerti yang dikatakannya tapi mengapa aku sakit?' menatap Leondra ke arah Shine yang semakin menjadi, sesak pun di pukulnya dengan keras.
"Shine." lirih Leondra.
"Mau apa kamu, pergilah!"
"Shine, aku akan katakan sesuatu kejujuran. Aku tau dan menyesal, karena kemarin aku bicara aku bisa membuat dirimu melihat ibumu yang asli. Tapi percayalah, kali ini aku ingin berkata jujur sebelum kita menikah."
Shine menatap Leondra, Jie si kucing pun menyingkir berada di pojokan. Mendengar masak masak apa yang ia lihat saat ini.
"Aku memang manusia biasa, tapi terkadang aku menjadi gila ketika aku memimpikan rasa bersalah. Dan tujuannya adalah mencarimu, orang yang ada di dalam mimpiku adalah kamu! aku tidak tau, apa setelah kita menikah aku bisa membantumu atau tidak. Yang jelas aku ingin hidup tenang tidak bermimpi lagi. Dan aku bersedia menuruti perintahmu. Aku tidak akan menyentuhmu Shine meski keluarga kita menjodohkan kita, dengan kita menikah aku akan menjaga jarak!"
Tanpa pikir panjang, Shine senyum dan bicara pada Leondra. "Baik, Leondra. Akan aku panggil kamu Leon, aku menyetujuinya. Jika kau berbohong lagi. Maka aku tidak tahu apa yang terjadi nanti."
Shine meninggalkan hingga melewati tubuh Leondra. Namun sebuah sengkatan kakinya membuat ia jatuh tepat pada atas tubuh Leondra.
Ssrrtth! Auaah.
Shine dan leondra saling menatap, dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Tbc