BEHIND THE QUEEN

BEHIND THE QUEEN
KETAUAN MAMA



Saat ini Shine ingin mengunjungi kantor Leon. Namun tidak sangka jika ia harus melihat pemandangan yang tidak ingin ia lihat. Di dalam lift, terlihat seseorang yang pernah bermasalah dengannya. Hingga saat Shine memencet tombol, tombol lift tidak berfungsi.


Dengan keadaan tidak panik! Shine berusaha fokus membuka dengan jari telunjuknya. Dan ia bisa keluar dari lift itu dengan selamat.


"Ah, syukurlah aku bisa bernafas dengan lega." ucap Shine.


Shine sudah kembali pulang. Rambutnya masih terjaga dengan lurus, saat membuka helm. Hingga Leon pamit dengan senyuman lesung pipi yang membuat semua iri, bahkan kaum Hawa sekalipun.


'Aah, so sweet. Kenapa lesungnya tidak pindah ke aku.' batin Shine menatap Leon.


"Aku pamit dulu! besok aku hubungi kamu Shine! kalau aku ada dadakan meeting. Kamu lebih dulu ke rumah sakit ga apa kan?"


"Ya! sayang, aku harusnya berterimakasih sama kamu suami gantengku. Terlebih kamu selalu membantu beberapa orang yang kesulitan kemarin."


"Sudah jadi tugasku! untuk semua karyawan yang kesulitan, akan ada jaminan dari kantor." jelas Leon.


"Baik sekali, perusahaan kamu pasti bakal banyak seluruh cabang akan ramai. Kalau tau bosnya saja dermawan, aku bakal kasih info. Kalau Money Heist akan menyejahterakan karyawannya. Seperti musibah dalam keluarga bukan? anda pantas sukses Leon."


"Tunggu! tidak semua Shine, ada beberapa di cover dari bpjs. Tapi seperti Pak Bruto itu pilihan."


"Kok gitu?"


"Gini ya! Shine yang manis, kasus seperti pak Bruto itu adiknya kecelakaan. Jika saat kontrak kerja ikut asuransi, maka 60 % dari kantor akan mengeluarkan untuk kebutuhan pokoknya di luar biaya rumah sakit tercover. Jadi itu sudah tugas pengelola usaha papa, kamu jangan ikut ikutan ya! takut salah penyampaian." senyum Leon, sedikit menggaruk alis.


"Ok! baik aku paham pak Leon."


"Jangan baku, aku ga suka kamu panggil pak."


"Leon, kita pulang ya. Udah jam dua malam nih, kamu bawa anak orang semalam ini."


"Ya! maaf ya. Nanti kita bilang sama mama kamu juga. Next ga lagi, kalau saat ini jam sembilan aku minta maaf sama mama kamu."


Shine kembali kagum, ia melambai kala Leon telah memakai lagi helm dan pamit. Shine kembali membuka dan menutup gerbang rapat. Lalu dengan santainya, ia masuk melupakan jaket kulit yang masih ia kenakan. Karena saat ini Shine tepat berada di kediaman mama Lora, sementara waktu karena Leon ingin terbang ke inggris.


"Ya ampun. Jaketnya, tunggu kok ruangan kamar ku tiba tiba nyala, apa ada seseorang yang tinggal di kamarku, setelah lama aku ga pulang."


Shine melipat dan menyembunyikan di bawah kaca lemari. Di samping pot hias yang terlihat cantik, tertutup bunga anggrek. Shine menepuk tangan, lalu merapihkan pakaian saat ia akan masuk ke dalam rumah tengah.


"Dih, anak perempuan pulang pagi. Habis lembur apa ...?" melirik tajam sang mama.


"Maaf Mah! Shine udah bau apek ini, banyak kuman. Dari rumah sakit juga mampir, terus ketiduran, udah ya mah. Bye! makasih udah bukain pintu, nanti Shine ke ruangan mama mau jelasin sesuatu."


"Gajelas! pasti kamu ngedate kan Shine?"


"Hemmmmh. Beneran deh, Shine bau apek, nanti Shine bawain coklat satu kg ya. Biar mama senyum terus."


Shine pun berlari, hingga ia terbentur tembok. Membuat sang mama menertawakan Shine kala itu.


Bruuugh!


"Kenapa Shine, dapet jackpot ya?" goda mama Lora masih mode tertawa.


Tbc.