
"Kenapa, masih menatapku seperti itu Shine?"
"Leon, kamu benar benar tidak sabar. Aku malu, bagaimana aku ke rumah sakit jika aku akan sulit berjalan. Dan kenapa milikmu besar sekali, membuat aku ingin tapi sakit."
"Hahaha, kamu benar benar ratu moody, mana bisa kamu berkata segambalang itu. Sini, peluk dekapan kehangatan. Dengan senang hati aku akan membuat kamu nyaman, dan sejenak bisa kembali berjalan!"
"Benarkah?" Shine dengan bodohnya merapatkan kedalam dekapan Leon.
Leon yang bercerita kebahagiaan dan dirinya sudah milik Shine. Meminta mereka saling jujur dan terbuka dalam menjalani kehidupan baru, Shine yang percaya, membuat salah satu kakinya menyentuh milik Leon dan membangunkannya.
"Leon, itu tidak benar. Perih itu masih ada? jangan lakukan lagi! kita sudah sepakat bukan. Lagi pula aku tidak sengaja."
"Shine, kamu memulainya. Aku tahu cara yang ampuh agar kamu rileks."
Shine menelan saliva, begitu pula tirai kamarnya tertutup dan pintu terkunci otomatis dengan hentakan jari telunjuk Shine, suara layar televisi menyala dan hal itu membuat Leon menyumbingkan senyuman. Benar saja Leon sudah beraksi dengan wajah dibagian milik Shine, seolah salah satu tangannya sudah melintir botol susu milik Shine, kembali meraupnya dan kali ini dengan dua hentakan sekaligus membuat Shine menutup mata karena tidak tahan.
"Leon, aku khawatir jiwaku akan rusak jika kau lakukan sangat keras. Aku tidak akan bisa mencari jiwa milik yang lain, jika kau terus melakukannya." teriak Shine.
"Aku terlalu bersemangat Shine. Maafkan aku! aku merasa nagih dan selalu menginginkannya jika kamu didekatku!" balas Leon.
Leon sudah melupakan suara Shine berirama dan berteriak, yang membuat hasratnya terpenuhi dan fantasi liarnya sangat beruntung, bisa berada di zaman modern terlahir sebagai manusia.
'Leon, alihkan pikiranmu! jika zaman kita cahaya kekuataan yang kita inginkan menjadi petaka kesombongan, maka hasrat manusia yang ingin terus itu adalah petakanya!'
Leon yang bersemangat saat itu, ia beringsut dan membuat keinginannya menurun. Benar perkataan Shine itu sangat benar, sehingga ia alihkan dengan pelan dan meminta maaf pada Shine yang menyakitinya.
"Terimakasih, maafkan aku Shine!"
"Sudah tugasku, bukankah kita harus terus saling mengingat bukan?"
***
Rumah sakit.
Shine saat ini menuju kamar teratai, dengan membawa peralatan sang papa untuk berganti yang diminta sang mama, ia kembali menemani berjaga di rumah sakit. Sementara Leon senyum menyeringai, bagai bunga mekar yang baru saja di siram.
"Sayang, aku ke kantor dulu ya. Ingat, jika ada sesuatu kabari aku! ada hal yang harus aku pergi ke kantor saat ini." jelas Leon.
"Jika klien kamu curiga akan akses, kasih kabar aku. Aku akan datang Leon." Shine khawatir jika para hacker yang bekomplot dengan musuh perusahaan kelurga Hartawan yang menyeret nama Leon terbongkar.
"Tentu, pasti." Leon mengecup kening Shine.
Sehingga beberapa saat, leon tiba dikantor. Hal yang ia dapati adalah kliennya yang ia kenal, dan sedikit canggung jika Shine sampai tahu.
"Ayo, Pak Leon. Silakan uraikan alasan Anda dengan lebih terperinci. Supaya saya bisa belajar dari ahli seperti Anda!" ucap Key, menyindir dengan sarkas.
Leon langsung menoleh ke arah Key. Dia tersenyum.
"Oke," ucapnya.
Leon bangkit dari kursi dan berjalan ke depan ruangan.
Dengan penuh percaya diri, Leon menghampiri dua model pakaian dalam yang berdiri dalam pose yang luar biasa menggoda itu.
"Silakan dimulai penjelasannya, Pak Leon," sindir Key dari kursinya dengan senyum miring mengejek.
"Pertama, saat ini masyarakat sedang menggilai gaya hidup minimalis. Hal ini juga berimbas pada selera fashion. Masyarakat lebih suka dengan model yang simpel tapi elegan, dibanding dengan model robot manusia yang heboh dan menarik perhatian macam ini," papar Leon.
“Kalau sekilas pandang, memang desain pakaian mini di robot ini tampak biasa saja. Tapi kalau kita melihat dengan lebih teliti, kita pasti dapat melihat gerakan kedua model yang tampak kaku dan sedikit tidak natural. Itu karena desain pakaian ini kurang pas pada lekukan badan. Jatuhnya bahan juga tampak kurang sedap dipandang, sehingga kurang mengeksplor keindahan tubuh modelnya sendiri," lanjutnya.
Leon berjalan mengelilingi kedua model itu untuk kemudian berhenti di dekat meja tempat Key berada.
"Kalau Ibu tidak percaya, silakan tanyakan sendiri pada mereka, nyaman tidak mereka mengenakan pakaian mini itu," tantang Leon menatap Key dengan berani.
Di titik ini, Key sudah mematung. Dia ternganga mendengar uraian Leon yang tidak mudaj di jebak, di depan para bos besar diberbagai negarawan.
Tak pernah dia menyangka Leon akan bisa dengan lancar menguraikan kekurangan produk pakaian mini andalannya itu di sambung robot canggih mendunia. Bahkan dia sendiri pun melewatkannya!
Dengan suara parau, Key bertanya kepada modelnya. "Apa benar yang dikatakannya ini? Kalian tidak nyaman?"
Dua model itu tampak saling bertukar pandang sejenak, sebelum salah satu dari mereka bersuara.
"Sejujurnya… iya. Kami memang kurang nyaman, Bu," kata si model yang tampak lebih dewasa.
"Di bagian mana tidak nyamannya?" kejar Key, tanpa melepas tatapannya dari para model.
"Agak kurang pas saja, Bu. Ketika berjalan rasanya risih," jawab si model.
Key terdiam, tampak berpikir.
"Oke," ucapnya kemudian.
Lalu ia bangkit berdiri menghampiri Jacky yang sejak tadi hanya diam memperhatikan proses seleksi tahap kedua ini.
Setelah diskusi selesai, Key kembali ke mejanya. Jacky maju ke depan ruangan.
"Peserta tes selain Pak Leon silakan keluar dari ruangan."
Suara Jacky terdengar berdering ke seluruh penjuru ruangan.
Para peserta pun berdiri dan berjalan menuju pintu, kecuali Leon dan Rendi memerah padam.
"Apa maksudnya ini? Kenapa hanya orang ini yang nggak diminta keluar? Kalian mau bilang kalau dia lebih baik dariku? Yang benar saja! Dia ini nggak kompeten! Dia cuma asal ngomong dan kalian diperdaya olehnya!" protes Rendi setelah dia berdiri.
Suaranya begitu lantang. Dia seperti orang yang kehilangan akal. Tanpa sabar untuk menunggu juri berkata jujur.
“Kalian tahu, dia ini melamar posisi Manajer Humas cuma buat mengincar bu Key. Yang ada di otaknya yang kotor itu cuma besar bu Key!” lanjutnya.
Sulit bagi Leon menjadi putra Hartawan, jika ia hadir salah satu kepantasannya datang adalah untuk ini, begitu banyak pro dan kontra yang membuat tatapan Leon berfikir ingin cepat pulang, dan menemui Shine.
'Konsentrasi Leon, ini tidak benar.' batin.
Tingkah Rendi ini membuat Jacky kesal, apalagi baru saja dia menyebut nyebut nama kekasihnya.
Jacky langsung naik pitam. Dia maju menghampiri Rendi.
"Pak Rendi, silakan keluar! Mohon jangan membuat kegaduhan!" pintanya, setengah berteriak.
Respons Jacky ini membuat Rendi beranggapan emosi. Dia tak habis pikir bisa bisanya Key malah berada di pihak Leon.
"Kalian pasti kongkalikong, kan? Dari awal saya sudah curiga saat si udik gembel ini lolos ke seleksi tahap kedua! Jangan jangan… jangan jangan ada main mata di antara kalian! Ini nggak fair!"
"Terus Anda sekarang maunya apa?" tanya Jacky. Kedua tangannya sudah mengepal kuat.
"Saya mau nilai tes tahap pertama diumumkan! Saya mau tahu berapa nilai yang diraih sama gembel ini!" Rendi meraung marah.
Matanya tampak berkilat kilat penuh amarah memandang Leon.
"Oke! Anda tunggu di sini!" ucap Jacky, lalu pergi meninggalkan Rendi.
Sementara itu Leon duduk santai di kursinya. Dia tidak sedikit pun terusik oleh kelakuan Rendi. Ia pasti sudah tau jawaban, jika Leon bukan seperti mereka yang sedang mengikuti kontes lamaran pekerjaaan tahap seleksi.
Jacky menyalakan proyektor ke arah papan di depan ruangan.
Dan di sana, tampaklah hasil tes tahap pertama. Nama Leon berada di posisi paling atas. Nilainya sempurna!
"Pak Rendi, berikut ini hasil tes tahap pertama. Di posisi ini pak Leon sangat tinggi dalam analisa." ucap Jacky.
"Dan saya tegaskan saya tadinya mau memakai anda sebagai model terpilih, karena saham terbesar milik putra pengusaha Hartawan dibidang Busana dan robot MH telah lulus jika ia memang bisa mewakili seluruh perusahaan milik keluarga dan itu adalah pak Leon, dan kami mohon maaf tidak bisa memakai anda sebagai modelnya nanti." jelas Key.
Rendi keluar dengan penyesalan, lalu Leon berjabat tangan ketika misinya kembali berhasil. "Terimakasih Jacky, semoga rencana prodak kita kembali melejit."
"Sudah seharusnya Leon, dan aku juga ingin mengabarkan. Jika hubunganku dengan Key saat ini. Kembali bersinar ada kemajuan." bisiknya.
"Wah, kabar bahagia. Selamat Jacky."
***
Shine yang kini berada di rumah sakit, ia terkejut ketika sang papa kembali kritis. Mama Lora menangis sedari tadi membuat matanya sembab merah. Shine tidak bisa berkata kata selain meguatkan. Hingga beberapa saat Mama Lora meminta Shine memanggil dokter.
"Shine panggil dokter nak!"
Shine wajah pucatnya, ia keluar dan berteriak memanggil dokter. Tapi matanya terbuka dan ternyata itu mimpi, tapi saat ia menguncir rambut ternyata sang mama sedang menangis di sana.
"Mama, ada apa?" tanya Shine mendekat.
Tapi lagi sebuah lorong dimensi membuat Shine terhempas, meraih jiwanya yang semakin jauh dari ruangan rumah sakit. Yang saat itu ia berada di ranjang pasien menemani sang mama.
Tidaaak!! Leon, tolong aku!! teriak Shine.
Raga Shine kembali masuk ke jiwanya yang kini berada di rumah sakit seperti semula, ia terkejut ketika sang papa kembali kritis. Mama Lora menangis sedari tadi membuat matanya sembab merah. Shine tidak bisa berkata kata selain meguatkan. Hingga beberapa saat Mama Lora meminta Shine memanggil dokter.
"Shine panggil dokter nak!"
Shine wajah pucatnya, ia keluar dan berteriak memanggil dokter. Tapi matanya terbuka dan ternyata mimpinya nyata dan bagai dejavu, tapi saat ia menguncir rambut ternyata sang mama sedang menangis di sana.
"Mama, tenanglah!" pinta Shine mendekat.
Shine berlari mencari sebuah kursi roda, namun saat ia meminta suster disana keruangan sang papa, wajah suster itu terlihat pucat dan menatap senyum pada Shine.
"Ada apa Nona?" senyum melebar hingga giginya terlihat penuh bagai ikan piranha.
Aaaargggh!! teriak Shine.
Tbc