
Nafas Jie dan Shine sangat pengap, kepanasan. Sudah berkali kali jalan mencari taksi akhirnya mereka bisa sampai di depan rumah dengan ojek pengkolan.
"Jie, kau kucing apa. Masa tidak ada kekuatan sih. Biasanya hidup di zaman kuno itu punya keahlian. Mengadakan kendaraan kek, jadi capek kan kita tadi panas panasan lagi. Huuft.." gerutu Shine.
"Kau sendiri lupa ingatan, sementara aku lemah tak punya kemampuan. Shine waktu kita tidak banyak, kira kira Leon itu di mana ya. Sebetulnya aku jadi manusia utuh saja sudah baik, tapi kenapa aku kembali ke kucing dalam waktu gelap?" bingung Jie.
"Hadeh! hey kucing, kamu tau kan. Jika aku ingat, jika aku tau. Aku sudah merobek mulut Leon sama seperti mimpiku yang aku lihat diriku mengering bagai kertas."
"Ya maaf Shine, aku benar benar tidak tau. Mungkinkah kekuatan aku kembali, jika kamu sudah bertemunya Shine."
Shine tak menanggapi, hingga mobil putih kembali datang. Dan itu adalah dia yang baru saja ia lihat. Jie merasa ketakutan ketika melihat mobil putih, sehingga ia pamit dan pergi begitu saja.
"Jie, kau mau kemana?"
"Shine! trauma aku, aku rasa bibi Ela mencariku. Sudah berhari hari aku tidak pulang. Bye!" lari Jie terbirit birit.
"Dasar kucing kampung, kau biasanya setiap hari di rumahku. Tega dan aneh kamu ini Jie." sebal Shine yang ia juga masuk.
Tin!
Tin!
Shine kembali menatap ke arah belakang mobil, lalu menunggu pemiliknya turun. Shine tersipu lagi ketika pria tadi benar benar ke rumahnya.
"Hey! nona kita bertemu lagi. Tidak di sangka, mungkin benar. Nona adalah jodoh bos muda kami."
Shine tak menanggapi, sehingga ia ingin masuk dan membuka pintu.
"Tunggu nona!"
"Kenapa, aku mau masuk ke dalam rumahku sendiri."
"Sepertinya nona tidak sadar, aku itu ada kekuasaan di tempat anda kuliah. Jika nona mau bekerjasama, jangan menolak perjodohan itu. Itu pesan bos muda kami." ucap Jacky.
"Oh ya, aku sama sekali ga tau. Dan ga mau tau, bodo amat. Kalian kenapa sih, mau banget dijodohin. Bilang sama bos muda kamu atau bos muda tua kamu. Aku Shine Hawa tidak suka perjodohan, sehingga apapun itu ..." terdiam Shine kala pak Hartawan turun, di barengi sang mama keluar dari depan pintu rumahnya.
"Loh, kirain ada apa. Kok rame rame. Pak Hartawan, masuk pak!" ucap mama.
Shine kesal ia masuk, tapi tasnya di tarik sang mama. Meminta Shine untuk sopan dan menurut.
"Bagaimana, kita jadi makan bersama?"
"Owh, jadi sangat jadi. Shine kamu bersiap, mama tunggu setengah jam. Kita mau makan malam sayang. Pak Hartawan ajak kita, dan mungkin putranya juga hadir." ucap mama.
Shine kesal, sebenarnya ia sudah malas jika sang mama terus saja membuat ia tertekan. Hidup dalam terus menuruti keinginan sang mama, tanpa memperdulikan hatinya. Pantas saja papa menceraikan sang mama dan memilih istri mudanya yang seumuran dengannya.
CAFE BERBINTANG
Shine diam, benar pria yang tadi ia temui beberapa jam lalu. Adalah putra paman Hartawan. Tatapan diam dan tajam menatapnya, seolah membenci dirinya.
"Kenapa kau ingin kita batal dalam perjodohan?"
"Hah, kamu bicara sama aku. Hey! aku masih kuliah, aku ga suka dengan kamu. Ya ga suka, ga suka aja. Jadi jangan harap aku bisa menyetujui kita ke jenjang pernikahan. Pertunangan bisa batal di tengah jalan kan?"
Harga diri Leondra merasa terinjak karena penolakan, tidak pernah ia di tolak oleh seorang wanita. Sehingga Leon mengatakan satu permintaan.
"Tiga bulan, bagaimana kamu ikut bersamaku! Jacky akan mengurus segala kegiatanmu setelah kuliah, jika tidak ada cinta. Maka aku mengalah."
"Anda ini sakit ya? kenapa harus saya wanitanya. Bukankah banyak wanita yang bisa kamu beli. Dari gaya dan segalanya, apapun bisa di beli. Ingat ya, aku sedang mencari pria bernama Leon. Dia orang dan pria yang aku cari, baik dari masa lalu atau saat ini. Jelaskan! dan satu lagi, yang jelas nama Leon hanya mirip denganmu. Jadi jangan bermimpi aku jadi milikmu paman." jelas Shine.
Leondra merasa sakit hati, ia bersumpah untuk membuat hidup Shine kesulitan. Sehingga ia bicara menyetujuinya.
"Baiklah, panggil saja saya Leon saat ini. Tidak perduli bukan Leon yang kamu cari, tapi aku merasa kamu akan bertekuk lutut. Jika kamu tau siapa aku."
"Dasar pria sombong." lirih Shine.
Setelah makan malam berjalan lancar, kedua orangtua memberikan satu kotak cincin. Keluarga dua belah pihak sepakat untuk langsung mengadakan pernikahan setelah tiga bulan, dan makan malam istimewa ini menandakan Shine adalah milik Leondra.
Shine ditarik paksa, kala tangan Leondra menyematkan cincin indah di jari manisnya. Saat Leon menyentuhnya, ada sengatan pada diri Shine sehingga membuat dirinya lemas dan mengingat mimpi itu.
'Jie, aaah! andai dia ada di sini, aku pasti akan meminta bantuannya. Kenapa aku tidak bisa membaca pikiran pria ini ya.' batin Shine.
"Baiklah, Shine menerima semua takdir Shine. Tapi tolong Shine minta satu permintaan."
"Shine, kamu ga sopan." nada marah sang mama.
"Tidak apa, biarkan Shine meminta apapun."
Wajah Leondra sangat tidak suka, jika wanita meminta suatu permintaan. Seperti lancang, tapi ia terkejut kala permintaan Shine membuat seluruhnya tertawa.
"Ingin satu kamar, ada kandang kucing yang istimewa. Dan jangan larang Shine memelihara kucing."
"Hahaha, kami kira apa Shine. Paman sih yes! coba kamu bicara sama Leondra, apa dia menyetujuinya." lirik pak Hartawan.
"Bolehkah?"
"Heuuumh!" balas Leon kilas.
"Baiklah deal,"
Shine ingin berjabat, tapi tidak jadi. Entah kenapa pria yang akan jadi suaminya kelak seperti aliran listrik yang membuat dirinya lemas. Dan sulit mengendalikan pikirannya.
Tak lama, Leondra menarik Shine pergi dari meja istimewa. Lalu ia di bawa ke satu ruangan dan memperlihatkan sesuatu pada Shine.
Tbc.