
"Maafkan aku Shine, aku sudah membuat kamu tidak berdaya. Aku janji akan menghentikan Albert untuk tidak mengikutimu lagi."
"Leon aku tidak masalah, asalkan kita selalu bersama. Aku sudah yakin jika diriku bersamamu adalah takdir." ucap Shine.
Aku tak tahu kapan aku ada di antara situasi ini, tapi. Kuharap siapapun dapat menghentikan mereka! ujar Leon, yang menatap Shine mengerti. Jika ia bukan memanfaatkan Shine yang mempunyai kelebihan. Leon takut jika Albert tahu kelebihan Shine istrinya.
Sekarang, Shine dan Leon terlihat sedang saling menatap dengan perasaan tak suka, awalnya Leon saat itu, hanya ingin melihat Albert latihan saja. Dan meminta Shine memantau, akan tetapi alam sadar Albert menyadari seperti mencurigai soal keuangan mereka lenyap tanpa jejak.
Tapi saat aku mengatakan jika aku percaya padanya, dia malah mencium punggung tanganku. Yah aku bukannya tak suka sih, sialnya Leon yang datang entah dari mana melihat kejadian itu, dan sampailah aku ke situasi saat ini.
"Aku pastikan kamu bersamaku baik baik saja Shine." bisik Leon.
Leon yang tak sabar memeluk istrinya, ia segera meraih tangan Shine. Teman mereka juga ikut pamit, kala Jacky menghampirinya.
"Jacky, sering jenguk mama ya! Kakak kali ini harus kembali pulang sebulan dua sampai tiga kali." jabatnya pada Leon.
"Thanks kak"
"Ya, kak. Hati hati!" balas Leon, pada Jacky asisten sekaligus sang kakak.
"Leon, jaga Shine sama mama ya! sering sering ingetin Shine buat jenguk."
"Itu pasti." balas Leon.
Mereka bersalaman tanda berpisah. Hingga beberapa saat Leon mengajak Shine sambil bergelayut kepala, pada tangan Leon. Leon tak segan segan membalas peluk manja pada istrinya.
"Kamu tau gak, aku tadi rindu banget sama kamu. Huuft! rasanya beberapa jam kita berpisah. Mas merasa kehilangan dan ingin cepat pulang ketika mas berkerja."
"Heuumh! benarkah, terimakasih. Tapi jangan terlalu dalam mencintaiku, nanti Tuhan cemburu."
Pujian romantis, membuat Shine lagi lagi menutup wajahnya. Guratan kasih cintanya pada sang suami. Sangat penuh arti, bagi Shine, ini pertamakalinya ia dicintai seorang pria yang menurutnya sempurna. Bahkan bukan takut kehilangan Leon, tapi Shine takut kehilangan rasa cinta Leon nantinya.
"Mas, andai aku bisa terus menempel padamu. Mungkin aku sangat senang."
"Benarkah, mungkin kamu permen. Mas adalah bungkusnya, maka mas akan selalu menghangatkan kamu selalu sayang."
"Hangat tapi bisa jadi dingin kan?"
Leon mengrenyit dan menatap pucuk rambut Shine. Ia mendongkan wajah Shine dengan lembut, hingga mulutnya maju berbetuk U dan menampaki setengah gigi.
"Mas, akan berusaha membuat kamu tersenyum dan bahagia. Tanpa dingin diantara kita, mas akan selalu menghangatkan dengan berbagai cara."
"Microwave kalah dong." Hahaha tawa senyum mereka. Leon masih menggenggam tangan Shine.
Hingga mereka membeli sebuah ice cream, lalu berdiri di atas pagar yang menjulang. Terlihat menara eifel yang sangat besar dan indah.
Leon masih mode memeluk dan menghangatkan Shine dengan tubuh, serta jaket besarnya, sehingga benar benar membuat tertutup mirip bungkus permen. Sementara wajah mereka saling menatap dan senyum, hanya Shine yang mendongakan wajah, karena Leon lebih tinggi puluhan centi darinya.
"Kenapa liat mas, masih kurang hangat?" goda Leon.
"Enggak, aku kagum karena kamu tampan mas leon." bisik Shine.
"Heuuumph, istri manisku sedang gombal." ujar Leon.
Tbc.