
"Kamu habis nangis?" tanya Leon yang baru saja menemukannya, di balik sofa.
"Enggak! mataku kelilipan, udah sekarang kita mau...? Kamu udah selesai ketemuan klien?"
"Udah .. tapi beneran kamu enggak apa apa? aku ngerasa ga enak ninggalin kamu lebih dari satu jam Shine."
Shine hanya senyum, keberadaan Leon saat ini membuat Shine yakin. Jika bersamanya, ia akan baik baik saja. Dukungan dan suport Leon yang luar biasa, membuat Shine tak ingin menceritakan apa yang baru saja terjadi, apalagi sampai masalah terberat di masa depan karena masa lalunya.
Shine beberapa jam lalu, ia merasakan sedih menonton film drakor. Entah kenapa ia menangis dan takut jika bersama Leon sudah ia putuskan, tapi Leon meninggalkannya mirip di film yang baru saja ia tonton.
"Permisi.. Maaf nona! ini paperbag dan kartu blacknya tertinggal." ucap karyawan butik.
Hal itu membuat Leon meraih, senyum mengucapkan terimakasih. Lalu merangkul tangan Shine untuk menggenggam tangannya.
"Kamu beli dress apa, boleh aku liat?"
"Leon, nanti aja di rumah. Aku ga mau kamu lihat sekarang!"
Shine berdegup takut, ia tak mau Leon melihat dress yang ia beli ada noda kotor. Yang membuat Leon bertanya lebih.
"Ok! baiklah kalau kamu ga mau aku lihat, aku percaya padamu. Jangan lupa saat ini kita ke lantai enam, butik dan kebaya pernikahan sudah aku kontak langsung designernya. Jadi aku mau kamu yang memilih Shine!"
Kebaya resepsi pernikahan resmi kita?! Shine hampir melupakan.
Hal itu lagi lagi membuat Shine semakin terharu. Ia juga lega karena kartu Leon kembali, juga karena sempat lupa akan dress yang mungkin telah rusak di beli. Dan berharap Leon tak pernah melihatnya.
"Shine, kamu sudah menemui Jie? apa katanya saat kamu memutuskan denganku, lebih lama tinggal di bumi."
"Itu tidak masalah Leon, lagi pula aku yang menentukan. Jie hanya mengambek, karena aku membatalkan pulang."
Pertanyaan Leon membuat Shine malu. Lalu ia berkata jika ia tak ingin membahasnya. Karena memang rasa cinta itu tumbuh pada pria bernama Leon, atau mungkin karena jiwa Hawa yang ia pakai.
"Leon, apa ga kemahalan?" tanya Shine
"Tidak masalah Shine, ini bagus untukmu."
'Apa seseorang bisa jatuh cinta. Dan aku bisa membuang luka kesedihan di masa lalu, apa aku bisa tetap berdamai menjadi manusia baik?'
Shine terdiam menatap Leon. Tak ingin mempermalukan lebih dalam dirinya pada Leon, yang ia anggap sahabat, tapi merubah kekaguman menjadi benih cinta yang mulai ada. Sehingga Shine memantapkan untuk tinggal menjadi manusia, menggantikan pemilik jiwa Hawa.
"Kok diem sih?" tanya Leon.
"Aku ... Euuum ..Nanti ya Leon, kebelet tar aku bicarain lagi. Please, kamu itu handsome jangan ngambek ya!"
Dasar Shine pasti ngehindar lagi. Sebenernya apa sih masalahmu sama kucing jadi jadian itu? tutur Leon menaikan satu alis.
"Shine. Jujur sama aku semuanya!" tatap tajam Leon dengan nada naik satu oktaf, ia menahan tangan Shine karena seperti ada yang di sembunyikan.
"Kamu tau kan? ketika menjalin pernikahan bagi manusia. Tidak boleh ada yang di tutupi! Shine, bicaralah agar aku bisa membantumu!" bisiknya masih mode memeluk tangan Shine.
Apa aku bisa menceritakan semuanya? Dan apa kamu akan percaya Leon. Kamu adalah pria yang terbaik yang aku kenal. Hanya saja kita terlambat bertemu, sehingga luka itu masih menempel dan aku tidak tau harus berbuat apa saat ini. Masa lalu kita tidaklah tumbuh di dunia yang sama.
"Aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari kamu Leon." senyum Shine.
Namun saat Leon ingin mengangguk, ia menoleh ke arah kanan. Terlihat seorang wanita memperhatikan geriknya. Dengan sadar Shine segera menoleh ke arah tatapan tujuan Leon yang bergerak ingin menghampiri.
"Kamu mau kemana Leon?" cegah Shine.
Tbc.