
Shine yang telah mandi, ia berada di kamar bersama Jie. Shine masih menggerutu akibat dirinya yang terkena kotoran sapi, bahkan Jie saat ini telah memakai pakaian Shine, karena ia terkena juga sehingga membuat mereka kembali mandi.
"Sabar Shine, bisa aja dia ga sengaja!"
"Matamu Jie, please. Kamu pasti kesemsem sama supir bertindik kuping miring kan?" ketus Shine.
"Shine, tapi dia tidak jelek jelek amat. Bahkan tadi dia memberi uang kan, kita bisa beli baju baru ini." jelas Jie.
"Dasar kucing mata duitan."
"Apa maksud kamu, kamu sudah ingat sekarang?" tanya Jie.
"Maksud kamu.. aku hanya asal bicara, sorry?!" menohok Shine.
"Shine ayolah, kamu lupa. Sebelum kita kembali dan memiliki kehidupan. Kita juga mempunyai keluarga. Kamu menolongku Shine, kita terlahir kembali."
Shine menutup kuping, lalu menoel kening Jie. "Tutup mulut omong kosongmu itu Jie! selain mimpi yang aku tidak tau berasal darimana, kamu juga suka ngaco di waktu yang ga tepat. Dah ayo kita turun sekarang!" ujar Shine.
'Hah, rupanya ingatan Shine belum kembali sempurna.'
Shine masih mengeringkan handuk di kepalanya, namun tersadar kala sebuah mobil berjejer membuat mata Shine tergeliat kebingungan.
"Shine, lihatlah! kenapa supir tindik tadi ya, dia ke rumahmu. Please ngumpet, siapa tau dia intel dan mau memeras kita."
"Bodoh! Shine tidak pernah takut, kamu lupa aku bisa hidup sendiri. Tunggu, kenapa paman Botuna datang. Kenapa paman datang bersama mobil putih tadi Jie?" bingung Shine, menatap arah jendela.
"Entahlah, bahkan aku hanya tau pria bertindik itu saja. Ada satu pria di dalamnya tapi tidak jelas Shine. Kita tunggu mama kamu mengetuk pintu saja bagaimana?"
Benar saja, kamar terketuk. Dan Jie membukanya dengan senyum sumringah.
"Jie, kamu di sini? baguslah, bilang sama Shine ya. Segera turun kebawah dengan tampilan cantik, sopan. Bantu tante ya sayang!" ucapnya.
"Baik tante. Siap laksanakan." senyum Jie. Menutup pintu kamar.
Shine turun, pertemuan keluarga yang di hadiri secara pribadi membuat mata Shine masih diam, ia duduk dan mencari keberadaan Jie.
Paman Hartawan memanggil Shine, ia meminta Shine menyetujui perjodohan itu, sehingga mata Shine yang terlalu fokus mencari Jie teralihkan.
"Shine, kamu setuju kan. Kamu lihat apa sih?"
"Mama, aku cari Jie. Dia tadi ke dapur kan, kalau dia pulang pasti pamit. Kalau dia keluar pasti lewat pintu depan, bagaimana bisa?"
"Jie mungkin di kamar kamu, ini paman Hartawan datang kemari, mau melamar kamu. Untuk putranya, tapi karena mendadak ada urusan, mobilnya putar balik."
"Aku ga mau di jodohin mah, udah kaya beli kucing dalam karung aja. Aku aja bahkah belum lihat siapa itu anak paman Botuna, uups maaf! paman Hartawan."
"Yang sopan Shine!" cetus mama.
"Ya sudah, saya sih setuju setuju saja. Bagaimanapun saya menghindari anak saya bergaul dengan pria lain, apalagi pacaran. Duh enggak deh."
Shine pamit, ia kesal kenapa sang mama tidak pernah memikirkan hatinya, sehingga ia pamit menuju kamar. Tak sampai di situ, ia tetap saja tidak menemukan keberadaan Jie.
"Jie kamu dimana sih, ga lucu deh. Aku minta maaf kalau aku sering bilang kamu kucing, Jie jangan bercanda dong. Aku cuma punya kamu teman curhat terbaikku." isak Shine yang panik.
"Shine, aku tidak kemana mana. Hanya saja aku benar menjadi kucing kampung. Meooong."
Shine terrkejut, kala satu ekor kucing berada di atas kasurnya. Berkali kali ia lemas dan ingin pingsan. Ketika kucing itu menghampiri dan bisa berbicara padanya.
"Shine, ini aku Jie. Shine percayalah, ini aku."
Astaga! mata Shine tertutup ia pingsan, begitu saja. Sehingga Jie yang telah berubah menjadi kucing melompat lompat di tubuh Shine, agar Shine segera sadar.
"Shine, bangunlah! ayo bangun, jangan pingsan. Dasar kenapa alam semesta mengampunimu menjadi wanita bodoh begini sih. Bukankah kita harus mencari Leon di bumi ini. Meong."
Shine yang pingsan, ia benar benar bagai sedang tertidur di alam mimpi. Dingin, aku tak bisa bernafas. Sekarang aku sedang tenggelam di dalam sungai, sengatan itu begitu tajam membuat aku terlempar ke dasar sungai, dan seekor binatang lucu menarik dengan cahayanya.
My Queen, aku adalah salah satu dari 2% pemilik mata Heterochromia, di mana keadaan yang membuat iris mata memiliki warna yang berbeda, karena mata ku memiliki warna hijau. Dan aku adalah seekor kucing yang bisa berubah dalam waktu gelap.
Gadis itu, berusaha mencari sosoknya namun ia tak ada di mana mana, hanya seekor kucing saja yang ada di sana.
Shine yang bangun, ia menjadi bingung, ia mendekati kucing itu lalu bertanya padanya seolah si kucing akan mengerti bahasa manusia.
"A- apa kamu dan aku berasal dari dunia itu?" ucap Shine bertanya tentang identitas si kucing, ia memastikan jika suara yang dia dengar tadi sama dengan pemilik suara Jie.
Kucing itu mengangguk, lalu membuka mulutnya.
"Betul Shine. Aku adalah dewa penyembuh yang akan selalu membantu mu mulai sekarang, meski ini bukan tubuh asli ku. Shine selamat datang di dunia baru. Dunia Vinava, tempat di mana sihir, naga dan mahluk non manusia lainnya masih berdiri. Kita terlempar karena kesombongan Shine, mari kita cari Leon dan mengambil cahaya bulan yang telah diambil darinya.
Dan, kamu adalah penerus ku yang pertama, Agam Clovis Ingrid sang dewa penyembuh. Kini kekuatan ku mengalir di tubuh mu. Sinar cahaya bulan, kamu harus merebutnya kembali, agar kutukan kita kembali lagi seperti dulu. Aku akan menemanimu mencari Leon, aku akan kembali menjadi Jie ketika sudah menjelang pagi.
Shine ingin kembali pingsan, tapi kucing itu melempar gelas berisi air. Lalu Shine menghela nafas, dunia dan mimpinya benar benar nyata. Ia lalu bicara pada Jie si kucing itu dengan lantang.
"Baiklah, kita akan cari dia. Meski aku merasa gila, berbicara dan berjalan dengan seekor kucing nantinya. Tunggu, Jie kenapa kamu bisa berubah jadi kucing?" tanya Shine.
"Mobil putih tadi, entah kenapa aku ingin mengetuknya. Tapi saat melihat pria di dalamnya, ia menatap tajam tiba saja membuat aku menjadi kucing. Maka dari itu aku lari, melompat ke atap jendela, aku ke kamar dan menunggumu Shine."
Shine masih memijit keningnya, sungguh hari sial ini membuat ia menjadi manusia paling gila. Sehingga Shine mengambil sebuah kalung dari dalam lacinya, dan mengikat ke dalam leher kucing.
"Kalung ini berlian, aku akan berikan kerincing, ini adalah sebagai tanda kita tetap bersahabat dan aku mudah mengenalimu saat jadi kucing. Meski aku masih tidak percaya saat ini, tapi jika kamu itu kucing. Maka dahulu aku apa? apa aku keledai, atau kancil." menatap sedih Shine.
Mereka duduk melihat dunia luar, dari jendela kamar. Sementara kucing ikut duduk di sebelahnya juga.
Tbc.